MOMSMONEY.ID - Anak yang mengalami kesulitan membaca atau mendapat nilai rendah di sekolah belum tentu berarti malas belajar. Kondisi tersebut bisa menjadi tanda gangguan belajar spesifik yang perlu dikenali orang tua dan guru.
Gangguan belajar spesifik atau specific learning disorder merupakan gangguan neurodevelopmental yang membuat anak mengalami kesulitan menetap pada satu atau beberapa bidang akademik utama, yakni membaca, menulis, dan matematika.
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Farid Agung Rahmadi, M.Si.Med., Sp.A, Subsp.TKPS, mengatakan anak dengan gangguan belajar spesifik dapat memiliki kemampuan kognitif yang baik, bahkan tinggi, tetapi mengalami kesulitan pada kemampuan akademik tertentu.
Kondisi tersebut membuat anak terkadang terlihat mampu memahami pembicaraan atau berdiskusi dengan baik, tetapi kesulitan ketika harus mengerjakan tugas akademik tertentu.
Farid menjelaskan, salah satu bentuk gangguan belajar spesifik yang berkaitan dengan kemampuan membaca disebut disleksia.
Anak dengan disleksia dapat mengalami kesulitan membedakan bunyi huruf, mengeja, membaca kata secara tepat, hingga memahami isi bacaan.
Menariknya, kesulitan tersebut tidak selalu berarti anak tidak memahami informasi yang diberikan. Ketika informasi dibacakan oleh orang lain, anak dapat memahami isi yang disampaikan.
Baca Juga: Dari Membaca Jadi Karya, Begini Cara Mengembangkan Literasi Anak
“Jadi betul-betul kesulitannya di menerima informasi membaca, bukan menerima informasi kalau dibacakan oleh orang lain,” ujar Farid dalam Media Briefing IDAI bertema “Disleksia pada Anak” yang digelar secara daring, Selasa (15/9).
Selain disleksia, gangguan belajar spesifik juga dapat muncul dalam bentuk disgrafia dan diskalkulia.
Disgrafia berkaitan dengan hambatan dalam ekspresi tulisan. Anak dapat memiliki ide yang baik dan mampu menjelaskannya secara lisan, tetapi mengalami kesulitan ketika harus menuangkannya dalam tulisan.
Sementara itu, diskalkulia berkaitan dengan kesulitan pada bidang matematika, seperti memahami konsep bilangan dan melakukan operasi hitung dasar.
Satu anak juga dapat mengalami satu jenis gangguan belajar spesifik atau kombinasi beberapa jenis kesulitan sekaligus.
Jangan buru-buru menyebut anak malas
Kesulitan belajar yang tidak dikenali dapat membuat anak terus mengalami kegagalan dalam proses akademik. Dalam kondisi tersebut, anak berisiko semakin tertinggal dari teman-temannya dan kehilangan kepercayaan diri.
Ketua Pengurus Pusat IDAI Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), mengingatkan orang tua dan guru agar tidak terburu-buru memberikan label negatif kepada anak.
Baca Juga: Pikachu dan Wayang Bertemu, Jadi Jembatan Anak Kenal Budaya Tradisional
“Jangan buru-buru kita menyebut anak sebagai anak pemalas. Bahkan anak bodoh, anak nakal. Justru kita harus mengenali pola kesulitannya,” ujar Piprim dalam acara yang sama.
Menurut Piprim, orang tua dan guru perlu melihat apakah anak mengalami kesulitan membaca, menulis, berhitung, mengikuti instruksi, atau mempertahankan perhatian.
Deteksi dan evaluasi sedini mungkin diperlukan agar anak mendapatkan dukungan yang sesuai dengan kebutuhannya.
“Karena setiap anak punya profil kelebihan yang berbeda dan tidak boleh dinilai hanya dari nilai rapornya,” katanya.
Piprim juga menekankan bahwa penanganan anak membutuhkan kerja sama antara keluarga, guru, dokter anak, psikolog, serta profesional lain sesuai kebutuhan.
Tujuan intervensi bukan hanya mengejar kenaikan nilai, tetapi membantu anak belajar dengan cara yang paling sesuai sehingga potensinya dapat berkembang secara optimal.
Baca Juga: Karya Raya 2026 di Perpustakaan Jakarta, Pamerkan Ribuan Karya Anak
Karena itu, ketika anak terlihat mengalami kesulitan belajar secara konsisten, orang tua sebaiknya tidak langsung menyimpulkan anak malas atau kurang berusaha.
Mengamati pola kesulitan, berdiskusi dengan guru, dan melakukan evaluasi lebih lanjut dapat menjadi langkah awal untuk memahami kebutuhan anak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News