MOMSMONEY.ID - Demam berdarah dengue atau DBD masih jadi penyakit dengan ancaman kesehatan serius di dunia. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), terdapat 14,6 juta kasus dan 12.000 kematian pada tahun 2024.
Di sisi lain, data dari BPJS Kesehatan pada tahun 2024, terdapat 1.055.255 rawat inap di Indonesia akibat DBD di luar kejadian luar biasa dengan beban ekonomi mencapai hampir Rp 3 triliun
Oleh sebab itu, demam berdarah dengue menjadi hal yang membahayakan bagi seluruh masyarakat, baik mereka yang terdampak langsung maupun tidak langsung.
Melihat data itu, Takeda, International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC), dan Palang Merah Indonesia (PMI) meluncurkan aliansi United Against Dengue: Penguatan Kemitraan untuk Pencegahan Dengue dan Peningkatan Ketangguhan Masyarakat di Indonesia.
Peluncuran ini mengikuti kemitraan United Against Dengue (UAD) di tingkat regional yang diluncurkan pada Juni 2025 lalu.
Hal ini juga menandai langkah sekaligus memperluas kolaborasi regional untuk memperkuat upaya pencegahan DBD, kesiapan, dan ketahanan masyarakat di Indonesia.
Indonesia juga menjadi negara pertama yang mengaktifkan kemitraan ini di tingkat nasional sekaligus menunjukkan bagaimana komitmen regional tersebut diterjemahkan menjadi aksi nyata berbasis komunitas.
Baca Juga: Miliaran Orang Beresiko Kena Demam Berdarah Dengue, Ini Solusinya
Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, mengatakan, sebagai mitra jangka panjang bagi Indonesia, Takeda berupaya untuk melawan DBD melalui kemitraan publik-swasta yang kuat.
Ini guna mendukung tercapainya tujuan besar pemerintah Indonesia untuk mencapai nol kematian akibat dengue pada tahun 2030.
Melalui aliansi United Against Dengue, Takeda ingin mendorong penguatan upaya pencegahan melalui edukasi yang menjangkau berbagai elemen masyarakat dan komunitas di Indonesia bersama dengan para pemangku kepentingan terkait.
"Kami berharap, komitmen bersama ini dapat memperkuat aksi di tingkat komunitas, di tengah masyarakat, dalam menghadapi ancaman DBD/dengue yang ada sepanjang tahun di Indonesia,” ujarnya dalam keterangan resmi yang Senin (16/3).
United Against Dengue dirancang untuk memperkuat upaya pencegahan, kesiapsiagaan, dan intervensi berbasis masyarakat melalui kolaborasi multisektor, strategi berbasis bukti, penguatan keterlibatan komunitas, serta pemanfaatan inovasi untuk menurunkan penularan dan tingkat keparahan DBD/dengue.
Kathryn Clarkson, Head of Delegation and Representative to ASEAN, Country Cluster for Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapore and Timor-Leste, International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies, mengapresiasi upaya Takeda dalam upaya pencegahan dengue di Indonesia dan secara global.
Melalui inisiasi United Against Dengue, IFRC bersama para mitra berupaya memperkuat kolaborasi lintas sektor dengan menghubungkan pemerintah, organisasi kemanusiaan, sektor swasta, dan masyarakat untuk mendorong upaya pencegahan dengue yang berkelanjutan.
Baca Juga: Kasus DBD Meningkat, Pemerintah Pantau Vaksinasi Dengue di Jakarta Selatan
"Kami percaya bahwa melalui kemitraan yang kuat di tingkat regional maupun nasional, kita dapat bersama-sama mengurangi beban dengue dan melindungi generasi mendatang," sebut Kathryn Clarkson.
Lebih lanjut, Prof. Dr. dr. Fachmi Idris, M.Kes., Ketua Bidang Kesehatan dan Sosial Pengurus Pusat Palang Merah Indonesia, bilang PMI meyakini pentingnya kolaborasi multipihak yang menyeluruh agar dapat memberikan manfaat yang optimal bagi populasi terdampak.
Bagi PMI, inisiatif ini merupakan gerakan organisasi untuk terus berkontribusi dalam mendukung agenda kesehatan masyarakat serta memperkuat ketahanan masyarakat terhadap risiko penyakit menular.
"Program ini juga mendukung strategi nasional pengendalian dengue Kementerian Kesehatan RI, di mana PMI berperan sebagai mitra pemerintah dalam memperkuat implementasi di tingkat masyarakat," kata Fachmi Idris.
United Against Dengue adalah kolaborasi regional multi-tahun yang bertujuan untuk memperkuat pencegahan dan pengelolaan dengue di seluruh kawasan Asia-Pasifik.
Kolaborasi ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan komunitas, mempromosikan advokasi kebijakan, dan memberikan dukungan kepada masyarakat terkait dengue.
Diinisiasi oleh IFRC dan Takeda, kolaborasi regional ini bertujuan untuk mendukung tujuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan ASEAN dalam mengeliminasi kematian akibat DBD yang dapat dicegah pada tahun 2030. Kolaborasi ini didasarkan pada tiga pilar strategis: Mendidik, Mengadvokasi, dan Memberikan Dukungan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News