MOMSMONEY.ID - Demam berdarah dengue masih menjadi salah satu tantangan kesehatan publik paling serius secara global maupun regional. Antara Januari hingga Maret 2025, lebih dari 1,4 juta kasus dengue dan lebih dari 400 kematian dilaporkan di 53 negara dan teritori dalam wilayah WHO.
Secara global, lebih dari 3,9 miliar orang berisiko terinfeksi dengue, dengan estimasi sekitar 390 juta infeksi setiap tahun, di mana sekitar 96 juta kasus bersifat klinis. WHO mencatat bahwa dengue kini menjadi salah satu penyakit tular vektor dengan pertumbuhan tercepat di dunia, dengan kawasan Asia Pasifik sebagai kontributor kasus terbesar.
drg. Murti Utami, MPH., selaku Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI juga turut menegaskan bahwa penguatan pencegahan dan pengendalian dengue merupakan bagian penting dari upaya membangun sistem kesehatan yang tangguh dan melindungi masyarakat secara berkelanjutan.
Menurut drg Murti Utami, visi Indonesia Emas 2045 pada dasarnya menempatkan manusia sebagai pusat, dengan masyarakat yang sehat, produktif, dan tangguh sebagai fondasinya. Pengendalian dengue bukan hanya upaya mengatasi satu penyakit, tetapi bagian dari penguatan sistem kesehatan yang menempatkan pencegahan, deteksi dini, dan layanan berbasis komunitas sebagai prioritas.
"Dengan memperkuat kapasitas dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kesehatan yang terus berkembang, kita membangun fondasi perlindungan jangka panjang bagi masyarakat Indonesia dan Asia Tenggara,” jelasnya dalam Forum Regional: Mendorong Aksi Kolektif dalam Pencegahan dan Pengendalian Dengue di Kawasan Negara-negara ASEAN/Asia Tenggara, Senin (9/2) di Jakarta Selatan.
Baca Juga: Kasus Demam Berdarah Dengue di Kalimantan Utara Tinggi, Ini Bentuk Pencegahannya
Sebelumnya, dalam forum regional mendorong aksi kolektif dalam pencegahan dan pengendalian dengue yang digelar pada 9–10 Februari 2026 oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bekerja sama dengan Koalisi Bersama (KOBAR) Lawan Dengue, acara ini dihadiri oleh sekitar 150 peserta dan panelis yang terdiri dari pembuat kebijakan, otoritas kesehatan, organisasi regional dan global, komunitas ilmiah, serta mitra pembangunan dari negara-negara ASEAN, termasuk perwakilan 10 dari 11 negara anggota ASEAN.
Forum Regional ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat kolaborasi lintas negara, lintas sektor, dan lintas pemangku kepentingan, sekaligus mendorong penyelarasan kebijakan serta adopsi strategi pencegahan dan pengendalian dengue yang lebih komprehensif, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Kawasan ASEAN telah lama diakui sebagai episentrum global penularan dengue, dengan banyak negara anggota menghadapi wabah siklikal dan kondisi endemis yang berkelanjutan.
Data European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) menunjukkan bahwa hampir 400.000 kasus dengue dilaporkan di Asia Tenggara sejak awal tahun 2025 hingga Oktober–November 2025, dengan Vietnam mencatat jumlah kasus tertinggi, diikuti oleh Indonesia, Thailand, Malaysia, Laos, dan Singapura.
Penularan dengue di ASEAN bersifat inheren lintas negara, dipengaruhi oleh kesamaan kondisi ekologis, mobilitas lintas batas, konektivitas perkotaan, serta variabilitas iklim, sehingga menegaskan pentingnya respons regional yang terkoordinasi.
Baca Juga: Ini Dia 3 Fase Demam Berdarah pada Anak dan Cara Menanganinya
Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Prof. Asnawi Abdullah, Ph.D, menekankan pentingnya kekompakan negara-negara ASEAN dalam melawan dengue karena penyakit ini bisa menyebar lintas batas dengan mudah. Ia menjelaskan bahwa meski perubahan cuaca sulit dikendalikan, perlindungan masyarakat bisa tetap maksimal melalui inovasi seperti teknologi Wolbachia dan pemberian vaksin.
“Nyamuk itu tidak butuh paspor untuk pindah-pindah negara, jadi kita di ASEAN harus kompak melawannya. Kita memang tidak bisa mengatur cuaca atau menghentikan El Niño, tapi kita bisa melindungi warga dengan cara-cara yang lebih cerdas, seperti menggunakan teknologi nyamuk Wolbachia dan memperluas vaksinasi," terang Asnawi.
Keberhasilan Indonesia, lanjut Asnawi, menurunkan angka kejadian dengue secara signifikan pada tahun 2025 merupakan buah dari strategi kesehatan yang inovatif. Menurutnya, penggunaan teknologi Wolbachia dan vaksinasi menjadi kunci utama dalam melindungi masyarakat di tengah cuaca yang tidak menentu.
"Penurunan angka kasus dengue hingga ke angka 57 per 100.000 penduduk pada tahun 2025 bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah hasil nyata dari pergeseran strategi kita yang lebih proaktif dan adaptif terhadap perubahan iklim, terutama melalui perluasan teknologi Wolbachia dan penguatan cakupan vaksinasi," tandasnya.
Ketua Koalisi Bersama Lawan Dengue (KOBAR) dr. H. Suir Syam, MKes, MMR., menegaskan pengendalian dengue harus bertumpu pada pencegahan dini sebagai fondasi utama, dimulai dari tingkat rumah tangga, diperkuat di komunitas, dan didukung kolaborasi lintas sektor yang konsisten.
Perspektif regional turut disampaikan oleh Dr. Montien Kanasawat, Director-General of the Department of Disease Control (DDC), Thailand, yang menyoroti pentingnya pendekatan sistem kesehatan yang berfokus pada masyarakat dalam menghadapi dengue sebagai salah satu ancaman kesehatan utama di Asia Tenggara. Ia menilai Forum Regional ini sebagai peluang strategis untuk memperkuat upaya perlindungan kesehatan masyarakat melalui pembelajaran bersama dan kolaborasi lintas negara.
Melalui forum regional ini, Indonesia bersama negara-negara ASEAN dan mitra global menegaskan komitmen untuk bergerak dari pendekatan reaktif menuju strategi yang lebih prediktif, preventif, dan terkoordinasi, demi melindungi masyarakat kawasan dari ancaman dengue yang terus berkembang.
Baca Juga: Begini Cara Mencegah Demam Berdarah Dengue (DBD) Kata Kemenkes
Selanjutnya: IHSG Menguat 1,4% ke 8.131 pada Selasa (10/2), SCMA, SMGR, ADMR Jadi Top Gainers LQ45
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News