MOMSMONEY.ID - Penurunan harga emas berlanjut di pasar global. Harga emas hari ini tergelincir di bawah US$ 4.500 per troi ons, karena kebuntuan di Iran menyebabkan spekulasi kenaikan suku bunga tetap tinggi.
Mengutip Bloomberg, Rabu (20/5), harga emas spot diperdagangkan turun sekitar US$ 7 menjadi US$ 4.489,66 per troi ons pada pukul 15.55 WIB. Harga emas hari ini lanjut turun setelah kemarin ditutup tumbang hampir 2%.
Kurangnya kemajuan dalam pembukaan kembali Selat Hormuz terus memicu kekhawatiran tentang inflasi dan meningkatkan spekulasi bahwa bank sentral global mungkin akan menaikkan suku bunga.
Tekanan yang berasal dari perang Iran turut memicu aksi jual di pasar obligasi, dengan imbal hasil US Treasury 30 tahun naik ke level, yang terakhir kali terjadi di ambang krisis keuangan global pada 2007.
Baca Juga: Daftar Harga Emas Antam Hari Ini Rabu (20/5) Anjlok Rp 24.000 Jadi Rp 2.765.000
Presiden AS Donald Trump mengancam akan melanjutkan serangan terhadap Iran dalam beberapa hari mendatang, sebagai bagian dari upaya mengakhiri perang. Senat AS yang dipimpin Partai Republik memberi sinyal penolakannya terhadap perpanjangan konflik dalam pemungutan suara prosedural pada Selasa.
Harga energi yang tinggi memicu kekhawatiran inflasi, meningkatkan risiko bahwa Federal Reserve dan bank sentral lainnya mungkin perlu mempertahankan suku bunga tetap tinggi daripada menurunkan, seperti yang diharapkan investor sebelum AS dan Israel melancarkan perang mereka terhadap Iran. Suku bunga yang lebih rendah biasanya menguntungkan emas, yang tidak memberikan bunga.
Harga emas diperdagangkan dalam kisaran sempit sejak jatuh tajam pada awal konflik, karena kekhawatiran inflasi meredam kemungkinan pelonggaran moneter. Sejak perang meletus, harga emas telah turun 15%.
Baca Juga: Harga Emas Hari Ini Turun ke dekat US$ 4.540, Menggerus Kenaikan Kemarin
Menurut Ole Hansen, Kepala strategi komoditas di Saxo Bank AS, lingkungan saat ini menyoroti perbedaan yang semakin penting antara apa yang menjadi fokus para pedagang dalam jangka pendek dan apa yang terus dipantau oleh investor dalam jangka panjang.
"Sementara, kurangnya arus masuk baru ke dalam dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) dan indikator volatilitas, menunjukkan partisipasi yang lesu dan pasar yang menunggu katalis lebih jelas," katanya mengutip Bloomberg, hari ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News