MOMSMONEY.ID - Banyak orang beranggapan bahwa dollar hanya urusan para pengusaha, importir, atau masyarakat kelas atas yang sering bepergian ke luar negeri. Anggapan itu tidak sepenuhnya salah, namun juga tidak sepenuhnya benar. Kenapa?
Karena meskipun Anda tidak pernah memegang dollar secara langsung, dampaknya tetap terasa hingga ke dapur rumah Anda, ke tangki kendaraan Anda, bahkan ke piring makan Anda setiap hari, lo.
Baca Juga: 6 Dampak Mengerikan di Kantong dan Bisnis Anda jika Dollar Terus Menguat
Ya, dollar ternyata memiliki pengaruh yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat biasa. Salah satu contoh paling nyata adalah Bahan Bakar Minyak (BBM).
Indonesia masih mengimpor sebagian besar kebutuhan minyak mentahnya, dan harga minyak dunia ditetapkan dalam dollar.
Bukan hanya BBM, tapi juga tempe sebagai makanan rakyat yang sehari-hari hadir di meja makan masyarakat Indonesia. Tempe terbuat dari kedelai, dan tahukah Anda? Sebagian besar kedelai yang kita konsumsi masih diimpor.
Baca Juga: Dollar Menguat, Dapur Terancam: Cek 5 Bahan Pokok yang Masih Diimpor Indonesia
Semua ini membuktikan satu hal bahwa naiknya dollar bukan hanya dirasakan oleh segelintir orang. Ia adalah denyut nadi ekonomi global yang diam-diam menekan kantong masyarakat kecil setiap hari.
Berikut daftar barang sehari-hari yang berkaitan dengan dollar, sebagaimana dikutip dari Instagram @dinarangold:
1. BBM
Indonesia masih mengimpor minyak mentah dan hasil olahan BBM. Tentu saja harganya ditetapkan dalam bentuk dollar.
Dalam kondisi konflik timur tengah yang belum usai diikuti dengan naiknya dollar dan melemahnya rupiah, tentu harga yang harus dibayar Indonesia akan ikut membengkak.
Pada akhirnya, hal ini berdampak pada masyarakat yang setiap hari harus mengisi kendaraannya dengan bahan bakar.
Baca Juga: Kebutuhan Pokok Melejit! Masyarakat Desa Rasakan Pukulan Dollar, Ini Dampak Nyatanya
2. Daging sapi
Indonesia memang memiliki sapi di beberapa daerah, namun pasokannya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
Jadi, Indonesia mengimpor daging sapi dari Australia dan Amerika Serikat. Namun, ketika rupiah melemah, maka masyarakat yang hendak membeli daging sapi impor pun merasa tercekik akibat naiknya harga.
3. Mi instan dan roti
Mi instan dan roti menjadi makanan yang juga kerap dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia selain nasi. Nah, kedua makanan tersebut berbahan utama tepung.
Namun, iklim di Indonesia tidak cocok untuk menanam gandum. Sehingga, kebutuhan tepung terigu harus diimpor dari negara lain, yakni Amerika Serikat. Sehingga, pembeliannya tentu saja menggunakan mata uang dollar.
Ketika harga gandum naik, otomatis harga mi instan dan roti juga ikut naik.
Baca Juga: Efek Dollar Naik: Rupiah Anjlok, Ini 4 Dampak Nyata ke Kantong Anda
4. Pupuk
Siapa bilang masyarakat desa tidak terkena dampak dari naiknya dollar? Bagi mereka yang bermatapencaharian sebagai seorang petani, maka pupuk menjadi kebutuhan pokok.
Perlu diketahui bahwa pupuk urea yang banyak digunakan oleh para petani Indonesia, proses produksinya menggunakan gas bumi. Nah, harga gas bumi ini tentu saja berhubungan dengan dollar Amerika Serikat.
Selain itu, pupuk NPK juga masih diimpor dari negara lain. Jadi, ketika dollar naik, otomatis harga pupuk juga ikut naik. Secara langsung akan memberikan beban berat bagi petani.
5. Tahu dan tempe
Tahu dan tempe memang bukan makanan pokok. Namun, jumlah konsumsinya cukup tinggi bagi masyarakat Indonesia. Meski sederhana, namun bahan bakunya yang berasal dari kedelai juga masih impor.
Produksi kedelai Indonesia tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan tahu dan tempe seluruh masyarakat Indonesia. Kedelai sebagian besar diimpor dari Amerika Serikat yang juga menggunakan dollar.
Ketika dollar naik, maka harga tahu dan tempe juga ikut naik. Bahkan, ukuran tahu dan tempe pun bisa dikurangi dari ukuran pada umumnya.
Baca Juga: Dollar Melambung, 6 Negara Ini Jadi Tujuan Liburan Hemat Wisatawan Indonesia
6. Elektronik
Di zaman sekarang siapa yang tidak menggunakan elektronik, termasuk HP? Hampir setiap orang menggunakannya. Namun, kebutuhan akan elektronik dan HP sebagian besar diperoleh secara impor.
Apalagi saat ini, kebutuhan akan ponsel dan laptop sudah menjadi kebutuhan penting, terutama bagi mereka yang aktivitasnya membutuhkan alat-alat tersebut. Jadi, ketika rupiah lemah, maka akan terasa beratnya ketika harus membeli barang-barang elektronik impor tersebut.
Jadi, ketika Anda mendengar kabar nilai dollar naik, jangan kira itu hanya berita bagi para pebisnis. Itu adalah pertanda bahwa besok, harga sepiring tempe goreng di warung pinggir jalan juga ikut naik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News