MOMSMONEY.ID - Harga emas hari ini di pasar global berbalik arah turun di tengah pasar memantau perkembangan gencatan senjata perang AS-Iran.
Mengutip Bloomberg, Selasa 919/5), harga emas spot diperdagangkan di level US$ 4.543,39 per troi ons pukul 14.42 WIB, turun 0,51% dibandingkan penutupan sesi kemarin.
Harga emas hari ini memangkas sebagian besar kenaikan yang terjadi pada sesi Senin.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Senin, bahwa ia telah memberi wewenang untuk melakukan serangan baru terhadap Iran pada mingu ini, tetapi, mereka menunda serangan tersebut setelah tiga sekutu di Teluk Persia meminta lebih banyak waktu untuk menegosiasikan kesepakatan nuklir.
Trump mengatakan para pemimpin Qatar, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, memintanya untuk menunda, karena mereka yakin dapat mencapai kesepakatan dengan Iran, yang akan memuaskan AS. Sebelumnya, Gedung Putih mengatakan proposal yang disampaikan Iran melalui mediator Pakistan pada Minggu, tidak menunjukkan peningkatan yang berarti.
Baca Juga: Harga Emas Relatif Stabil di dekat US$ 4.540, Setelah Ambles 4% Pekan Lalu
Imbal hasil obligasi pemerintah AS berfluktuasi di dekat level tertinggi lebih dari satu tahun, karena harga energi yang masih tinggi, terus memicu kekhawatiran inflasi. Hal itu mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Di samping itu, nilai tukar dollar AS menguat, menyebabkan emas menjadi lebih mahal bagi banyak pembeli.
Harga emas telah diperdagangkan di kisaran sempit sejak jatuh tajam pada awal perang, karena kekhawatiran inflasi meredam kemungkinan pelonggaran moneter. Harga emas telah turun hampir 14% sejak konflik meletus akhir Februari lalu.
Menurut Vasu Menon, ahli strategi di Oversea-Chinese Banking Corp., fleksibilitas terkait situasi di Timur Tengah serta harga minyak dan imbal hasil obligasi, mungkin masih akan menekan harga emas dalam jangka pendek.
"Kami tetap melihat emas sebagai lindung nilai yang berguna terhadap ketidakpastian global, mengingat perubahan politik dan ekonomi yang signifikan secara global, yang tampaknya akan semain cepat dalam beberapa tahun mendatang," ujarnya mengutip Bloomberg, hari ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News