MOMSMONEY.ID - Jantung berdebar tak selalu sekadar efek kelelahan atau stres. Di balik detak yang terasa tak beraturan, bisa saja tersembunyi atrial fibrilasi (AF), gangguan irama jantung yang diam-diam meningkatkan risiko stroke iskemik.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Aritmia RS Pondok Indah, dr. Dony Yugo Hermanto, mengatakan, atrial fibrilasi terjadi ketika aliran listrik di serambi jantung mengalami gangguan sehingga detak jantung menjadi tidak teratur.
Kondisi ini membuat aliran darah di jantung tidak mengalir sempurna dan memicu terbentuknya bekuan darah. Jika gumpalan darah itu lepas dan mengalir ke otak, risikonya bisa berujung pada stroke iskemik atau stroke akibat sumbatan pembuluh darah.
“Sekitar 20%-30% stroke sumbatan disebabkan oleh atrial fibrilasi,” ujar Dony, Selasa (12/5).
Menurutnya, atrial fibrilasi menjadi gangguan irama jantung yang paling sering ditemukan, terutama pada usia lanjut dan orang dengan penyakit penyerta seperti hipertensi, penyakit jantung, diabetes hingga gangguan tidur.
Baca Juga: Ternyata Ini Penyebab dan Faktor Risiko Serangan Jantung yang Penting Diketahui
Sayangnya, banyak orang tidak menyadari dirinya mengalami atrial fibrilasi karena gejalanya kerap dianggap sepele. Padahal, tanda-tandanya cukup mudah dikenali, mulai dari jantung berdebar, cepat lelah, sesak napas hingga rasa tidak nyaman di dada.
“Kadang gejalanya muncul hilang, jadi banyak yang tidak sadar,” jelasnya.
Dony menyarankan masyarakat mulai lebih peka memantau denyut nadi. Irama jantung normal umumnya berdetak teratur, sedangkan pada atrial fibrilasi detaknya terasa tidak beraturan.
Kini, deteksi dini juga semakin mudah dilakukan dengan bantuan smartwatch yang memiliki fitur pemantau detak jantung hingga elektrokardiogram (EKG).
Sementara itu, Dokter Spesialis Neurologi RS Pondok Indah, dr. Andre mengingatkan bahwa stroke akibat atrial fibrilasi biasanya lebih berat karena sumbatan terjadi pada pembuluh darah besar di otak.
Baca Juga: Tidur dalam Keadaan Gelap Bagus untuk Jantung Anda, Begini Penjelasannya
Akibatnya, risiko kecacatan menjadi lebih tinggi. Mulai dari gangguan bicara, kelemahan tubuh hingga kelumpuhan.
Andre menekankan pentingnya mengenali gejala stroke sedini mungkin lewat tanda “SeGeRa Ke RS”, yakni senyum mencong, gerak melemah, bicara pelo, kebas mendadak, rabun atau pandangan kabur, hingga sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba.
“Penanganan stroke sangat bergantung pada waktu. Golden period-nya di bawah 4,5 jam,” katanya.
Karena itu, menjaga kesehatan jantung menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah stroke. Mulai dari rutin cek kesehatan, mengontrol tekanan darah dan gula darah, berhenti merokok, hingga menjaga pola makan dan rutin berolahraga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News