MOMSMONEY.ID - Rasa gugup atau demam panggung kerap dialami anak sebelum mengikuti lomba atau kompetisi. Kondisi ini dinilai wajar, terutama ketika anak menghadapi situasi yang membuat mereka tertekan atau takut gagal.
Psikolog Klinis Anak dan Keluarga, Saskhya Aulia, mengatakan hal pertama yang perlu diperhatikan orang tua adalah memastikan kondisi fisik anak dalam keadaan baik sebelum kompetisi dimulai.
Menurut dia, anak sebaiknya tidak dalam kondisi lapar, mengantuk, atau kelelahan karena hal tersebut dapat memperburuk rasa cemas.
“Kalau anak mau berkompetisi atau melakukan kegiatan yang perlu berpikir, jangan sampai ngantuk dan jangan sampai lapar. Nutrisi yang baik dan tidur cukup itu basic banget,” ujar Saskhya dalam acara Jumpa Media: Kompetisi Dancow Indonesia Cerdas Season 2 di Jakarta, Senin (18/5).
Baca Juga: Anak Kalah Lomba? Ini yang Harus Dilakukan Orang Tua Menurut Psikolog
Setelah kebutuhan dasar anak terpenuhi, orang tua dapat membantu anak menenangkan emosinya secara perlahan.
Saskhya menjelaskan, setiap anak memiliki cara berbeda untuk menurunkan rasa cemas. Ada anak yang lebih tenang setelah menulis perasaannya, ada yang perlu menarik napas, minum air, atau menenangkan diri sejenak.
“Ada anak yang lebih mudah kalau dikasih kertas lalu diminta menulis apa yang dia rasakan. Ada juga yang perlu napas dulu atau minum dulu,” katanya.
Ia menyarankan orang tua membantu anak mengenali tingkat kecemasan yang mereka rasakan. Misalnya dengan meminta anak memberi nilai rasa gugupnya dari skala 1 hingga 10.
“Biasanya saya tanya, ‘sekarang deg-degannya di angka berapa?’ Misalnya dia jawab 9. Lalu kita bantu tenangkan dulu, mungkin gerak sebentar atau minum, lalu ditanya lagi sekarang di angka berapa,” ujarnya.
Baca Juga: 4 Tips Investasi saat Situasi Ekonomi Dinamis dengan Quiet Investing
Menurut Saskhya, langkah tersebut membantu anak menyadari bahwa emosi mereka bisa perlahan menurun dan lebih terkendali.
Jika anak mulai lebih tenang, orang tua kemudian bisa menggali hal apa yang sebenarnya paling ditakuti anak saat menghadapi kompetisi.
Misalnya, anak takut tidak bisa menjawab pertanyaan atau takut melakukan kesalahan di depan banyak orang. Dalam situasi itu, orang tua perlu membantu anak melihat ketakutannya secara lebih realistis dan positif.
“Kalau misalnya dari 10 soal sebelumnya dia bisa jawab 9, berarti belum tentu nanti dia tidak bisa jawab semuanya. Jadi kita bantu menggeser definisi hal yang menakutkan buat dia jadi lebih positif,” jelas Saskhya.
Ia menilai, pendampingan emosional dari orang tua sangat penting agar anak tidak hanya fokus pada rasa takut, tetapi juga mampu melihat kemampuan yang sebenarnya sudah mereka miliki.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News