MOMSMONEY.ID - Mari simak, begini cara menghitung token listrik prabayar PLN yang perlu Anda tahu.
Token listrik prabayar sering dianggap sama dengan pulsa seluler, padahal mekanisme penggunaannya berbeda.
Jika pulsa seluler berupa saldo yang bisa dipakai untuk layanan internet, menelepon atau pesan teks, sedangkan token listrik adalah jatah energi yang akan berkurang seiring penggunaan listrik di rumah.
Pada sistem listrik prabayar, pelanggan membeli energi listrik di awal dalam bentuk kilowatt hour (kWh) dan bukan saldo rupiah. Setiap kali listrik digunakan, jumlah kWh yang ada pada meteran akan terus berkurang sampai akhirnya habis dan perlu diisi ulang.
Executive Vice President Komunikasi Korporat dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan PT PLN Gregorius Adi Trianto menjelaskan, sistem ini dibuat agar pelanggan bisa mengetahui dan mengendalikan pemakaian listriknya sejak awal.
Baca Juga: Cara Cek Sisa Token Listrik Terbaru agar Tidak Kaget saat Hampir Habis
“Pada sistem prabayar, pelanggan membeli alokasi energi listrik dalam jumlah tertentu. Alokasi ini digunakan oleh seluruh peralatan listrik di rumah dan akan berkurang seiring pemakaian. Karena itu, total energi tersedia dalam satuan kilowatt hour (kWh),” ujarnya dalam siaran pers, dikutip Jumat (6/2).
Dalam penggunaannya, listrik tidak bisa dipisahkan berdasarkan fungsi atau alat. Yang artinya, semua peralatan menggunakan sumber listrik yang sama, sehingga pengurangannya dihitung dari total energi yang dipakai.
Selain itu, dalam setiap pembelian token listrik prabayar terdapat beberapa komponen yang dipotong di awal. Di antaranya pajak penerangan jalan (PPJ) yang besarannya ditetapkan oleh pemerintah daerah, serta biaya administrasi sesuai kanal pembelian yang digunakan.
Untuk transaksi dengan nominal di atas Rp 5 juta, juga dikenakan bea materai sesuai ketentuan.
Sebagai ilustrasi, pelanggan rumah tangga dengan daya 1.300 volt ampere (VA) yang membeli token listrik senilai Rp 100.000, akan dikenakan potongan PPJ dan biaya administrasi.
Baca Juga: Begini Cara Aman Mencegah Tagihan PLN Membengkak akibat Kebocoran Listrik
Setelah dikurangi, nilai yang dikonversi menjadi energi listrik berada di kisaran Rp 90.000 hingga Rp 94.000.
Dengan tarif listrik rumah tangga daya 1.300 sebesar Rp 1.444,70 per kWh, jumlah tersebut setara dengan sekitar 63 hingga 65 kWh.
Inilah jumlah kWh yang masuk ke meteran dan akan berkurang seiring pemakaian listrik di rumah.
Gregorius menambahkan, sistem token listrik prabayar memberi pelanggan kendali langsung dalam mengatur konsumsi listrik sehari-hari.
“Token listrik prabayar merupakan pembelian energi, bukan sekadar nominal rupiah. Seluruh perhitungannya dilakukan secara transparan dan tercatat di sistem. Sederhananya, token listrik adalah alokasi pemakaian listrik yang akan terus berkurang saat listrik digunakan,” katanya.
Dengan memahami cara kerja token listrik prabayar, harapannya, pelanggan bisa memahami perbedaan antara nominal pembelian dan jumlah kWh yang diterima, serta bisa merencanakan penggunaan listrik dengan lebih bijak sesuai kebutuhan.
Selanjutnya: Moody’s Pangkas Outlook RI, Rupiah Kembali Melemah pada Jumat (6/2) Pagi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News