MOMSMONEY.ID - Kondisi ekonomi yang masih naik turun membuat banyak orang mulai lebih hati-hati mengatur keuangan. Berikut 4 tips Quiet Investing atau investasi saat situasi ekonomi dinamis untuk mencapai financial goals memasuki pertengahan 2026.
Bukan cuma soal menabung dan menjaga dana darurat, cara berinvestasi yang tenang dan konsisten juga dinilai penting agar financial goals tetap tercapai pada 2026.
Head of Wealth Management Maybank Indonesia Aliang Sumitro mengatakan, banyak investor masih mudah panik saat pasar turun atau terlalu percaya diri ketika pasar sedang menguat.
“Investasi yang sehat membutuhkan lebih dari sekadar strategi, dibutuhkan ketenangan, disiplin, dan konsistensi dalam mengambil keputusan,” ujar Aliang dalam keterangan resmi, Senin (18/5).
Baca Juga: Tips Menabung Emas dengan Gaji UMR agar Tetap Cuan dan Keuangan Aman
Menurutnya, prinsip tersebut dikenal dengan istilah Quiet Investing, yakni pendekatan investasi yang tidak terpaku pada tren sesaat atau euforia pasar, melainkan fokus membangun kekayaan secara bertahap dan berkelanjutan.
“Bagi nasabah dengan tujuan jangka panjang, Quiet Investing membantu menjaga fokus, mengurangi keputusan impulsif, serta memastikan setiap langkah investasi tetap sejalan dengan tujuan hidup dan kesejahteraan mereka di masa depan,” jelas Aliang.
Ada beberapa langkah sederhana yang bisa diterapkan agar investasi tetap tenang di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.
Pertama, tentukan tujuan finansial sejak awal, misalnya untuk dana pendidikan, membeli rumah, liburan, atau persiapan pensiun. Dengan target yang jelas, pemilihan instrumen investasi juga jadi lebih terarah.
Kedua, biasakan berinvestasi secara rutin dan konsisten. Tidak perlu menunggu punya dana besar, karena investasi kecil yang dilakukan disiplin setiap bulan juga dapat membantu membangun kekayaan dalam jangka panjang.
Baca Juga: Tips Mudah Membaca Kondisi Keuangan Perusahaan agar Tidak Salah Langkah
Investor juga bisa menerapkan strategi rupiah cost averaging, yakni investasi rutin dengan nominal tetap setiap bulan. Cara ini membantu mengurangi kebiasaan mencoba menebak waktu terbaik masuk pasar.
Selain itu, diversifikasi investasi juga penting dilakukan, mulai dari lintas produk, kelas aset, negara, hingga mata uang untuk membantu mengelola risiko investasi.
Aliang menambahkan, membangun portofolio yang sehat tidak hanya bergantung pada momentum pasar, tetapi juga disiplin menjaga tujuan keuangan jangka panjang.
“Membangun portofolio yang sehat tidak hanya bergantung pada momentum pasar, tetapi juga pada konsistensi, disiplin, dan kemampuan menjaga fokus terhadap tujuan jangka panjang,” tutup Aliang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News