MOMSMONEY.ID - Anak disleksia yang kesulitan mengikuti pelajaran jangan langsung dianggap malas atau kurang mampu.
Kondisi tersebut bisa menjadi tanda gangguan belajar spesifik yang membutuhkan pendekatan berbeda. Dengan dukungan yang tepat, anak tetap dapat mengikuti target pembelajaran dan mengembangkan kemampuannya.
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, dr. Farid Agung Rahmadi, mengatakan anak dengan gangguan belajar spesifik membutuhkan dukungan dari berbagai lingkungan, mulai dari rumah hingga sekolah.
Gangguan belajar spesifik merupakan kondisi yang menetap. Meski demikian, intervensi yang sesuai dapat membantu anak membangun mekanisme coping sehingga mampu mengikuti materi dan target pembelajaran bersama teman-temannya.
Baca Juga: Dari Membaca Jadi Karya, Begini Cara Mengembangkan Literasi Anak
“Jadi ketika diberikan metode yang tepat, kemudian anak bisa merespon model intervensi itu dengan cukup baik, anak bisa melakukan coping-nya, sehingga mampu untuk mengejar materi-materi yang sama, target-target yang sama dengan teman-temannya,” ujar Farid dalam Media Briefing IDAI bertema “Disleksia pada Anak” secara daring, Selasa (15/9/2026).
Sesuaikan cara belajar anak
Menurut Farid, dukungan untuk anak dengan gangguan belajar spesifik dapat diberikan melalui pendidikan khusus dan program remedial yang terstruktur serta intensif.
Untuk anak yang mengalami kesulitan membaca, misalnya, pembelajaran dapat menggunakan pelatihan fonik secara sistematis, latihan decoding, hingga latihan kelancaran membaca.
Sementara, pada anak dengan disgrafia atau kesulitan dalam menulis, dukungan dapat berupa terapi okupasi. Dalam kondisi tertentu, penggunaan keyboard juga dapat membantu anak ketika mengalami kesulitan menulis.
Adapun anak dengan diskalkulia dapat dibantu melalui pembelajaran konsep bilangan menggunakan alat bantu yang bisa dilihat, dipegang atau disentuh. Latihan berhitung juga dapat diberikan secara bertahap.
Dengan demikian, cara belajar tidak harus diseragamkan untuk semua anak. Dukungan dapat disesuaikan dengan jenis dan pola kesulitan yang dialami masing-masing anak.
Dukungan untuk anak dengan gangguan belajar spesifik juga dapat diberikan di lingkungan sekolah melalui akomodasi dan modifikasi pembelajaran. Akomodasi bertujuan membantu anak mengakses pelajaran dan menunjukkan kemampuannya tanpa mengubah target utama pembelajaran.
Misalnya, anak dapat memperoleh tambahan waktu saat ujian, mendapatkan bantuan guru untuk membacakan teks yang panjang atau diberikan kesempatan menjawab pertanyaan secara lisan.
Baca Juga: Pengalaman ke Luar Negeri Bisa Jadi Cara Anak Belajar Bahasa dan Mandiri
Penempatan tempat duduk juga dapat disesuaikan. Anak bisa ditempatkan di posisi yang minim gangguan, seperti di barisan depan atau dekat dengan guru.
Sementara itu, modifikasi dilakukan dengan menyesuaikan beban tugas tanpa menghilangkan kompetensi inti yang ingin diukur.
Sebagai contoh, jika siswa lain mendapat 10 soal, anak dengan gangguan belajar spesifik dapat diberikan jumlah soal yang lebih sedikit. Namun, soal tersebut tetap mengukur kompetensi inti yang sama.
Menurut Farid, bentuk akomodasi dan modifikasi tersebut perlu dibicarakan bersama oleh orang tua, guru dan tenaga profesional agar sesuai dengan kebutuhan anak.
Di rumah jangan hanya melihat nilai
Dukungan anak dengan gangguan belajar spesifik tidak berhenti ketika kegiatan sekolah selesai. Orang tua juga perlu memperhatikan cara anak belajar di rumah.
Farid mengatakan orang tua sebaiknya tidak hanya melihat hasil nilai, tetapi juga memperhatikan usaha dan strategi yang digunakan anak ketika menyelesaikan tugas.
“Orang tua fokusnya pada usaha dan strategi, bukan hanya nanti pada hasil nilai saja,” ujar Farid.
Orang tua juga dapat memecah tugas yang besar menjadi beberapa langkah kecil. Cara ini membuat anak tidak langsung menghadapi satu pekerjaan yang terasa berat untuk diselesaikan.
Media pembelajaran pun dapat dibuat lebih beragam dan tidak hanya mengandalkan buku teks. Media visual maupun audio dapat digunakan sebagai bagian dari cara membantu anak memahami materi.
Jangan beri label pada anak
Selain kemampuan akademik, kondisi emosional anak juga perlu diperhatikan. Anak yang berulang kali mengalami kesulitan belajar dapat merasa lelah karena tertinggal dari teman-temannya.
Karena itu, orang tua perlu menghindari label seperti malas, bodoh atau tidak mampu.
Farid mengatakan anak dengan gangguan belajar spesifik bukan berarti memiliki kecerdasan yang lebih rendah. Menurutnya, cara kerja otak anak tersebut perlu dipahami sehingga metode belajar dapat disesuaikan.
Baca Juga: Nyeri Sendi saat Malam Jadi Tanda Asam Urat pada Anak Muda, Picu Osteoartritis!
“Hindari memberi label dan menekankan di diri sendiri orang tua bahwa anak SLD itu otaknya bekerja dengan cara yang berbeda. Bukan kurang cerdas,” katanya.
Orang tua juga dapat membantu anak membangun kepercayaan diri dengan menemukan bidang yang menjadi kekuatannya.
“Bangun kepercayaan dirinya, cari kekuatan anak di bidang lain supaya itu menjadi kebanggaan bagi anak,” ujar Farid.
Kerja sama orang tua dan guru penting
Untuk membantu anak, orang tua dapat mengamati pola kesulitannya, mendokumentasikan contoh tugas atau hasil belajar, kemudian membicarakannya dengan guru.
Guru juga memiliki peran untuk mengenali pola kesulitan pada masing-masing anak dan memberikan intervensi awal sesuai kebutuhannya.
Sementara itu, tenaga kesehatan dapat melakukan assessment, menegakkan diagnosis, mengidentifikasi kondisi penyerta, menyusun rencana intervensi dan memantau perkembangan anak.
Dengan dukungan yang berjalan bersama antara rumah, sekolah dan tenaga profesional, anak dapat memperoleh cara belajar yang lebih sesuai dengan kebutuhannya.
Gangguan belajar spesifik memang merupakan kondisi yang menetap. Namun, kondisi tersebut bukan berarti anak tidak dapat berkembang atau mencapai target pembelajaran.
Yang dibutuhkan adalah metode belajar yang sesuai, dukungan dari lingkungan serta kesempatan bagi anak untuk mengembangkan kekuatannya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News