MOMSMONEY.ID - Memilih jurusan kuliah bagi anak kini menjadi keputusan yang semakin kompleks. Selain mempertimbangkan minat dan kemampuan anak, orang tua juga perlu melihat perubahan kebutuhan dunia kerja yang berkembang seiring pesatnya penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Dalam beberapa tahun terakhir, AI tidak lagi hanya digunakan oleh perusahaan teknologi. Teknologi ini mulai dimanfaatkan di berbagai sektor, mulai dari keuangan, kesehatan, hukum, manufaktur, pendidikan, hingga industri kreatif.
Perubahan itu melahirkan kebutuhan terhadap berbagai profesi baru, seperti AI engineer, machine learning engineer, AI product specialist, hingga peran yang menggabungkan kemampuan AI dengan bidang industri tertentu.
Menariknya, kemampuan memahami AI juga semakin dibutuhkan oleh mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Praktisi hukum, tenaga kesehatan, pekerja kreatif, hingga pelaku bisnis mulai memanfaatkan AI untuk mendukung pekerjaan mereka.
Kondisi ini membuat literasi AI perlahan menjadi salah satu kompetensi yang penting dimiliki generasi muda, terlepas dari jurusan yang dipilih.
Melihat hal itu, orang tua menilik pertimbangan baru ketika mempersiapkan anak memasuki perguruan tinggi. Pasalnya memilih kampus tidak lagi hanya mengenai jurusan apa yang populer saat ini.
Baca Juga: Tak Cuma Kejar Nilai, Sekolah Juga Fokus Kembangkan Karakter dan Berpikir Kritis Anak
Tetapi juga bagaimana institusi pendidikan membekali mahasiswa dengan kemampuan yang relevan ketika mereka memasuki dunia kerja beberapa tahun mendatang.
Kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, memecahkan masalah, serta memahami penggunaan teknologi secara bertanggung jawab menjadi sejumlah kompetensi yang semakin dibutuhkan.
Di Indonesia, kebutuhan tersebut juga hadir bersamaan dengan peluang dari bonus demografi dan pertumbuhan ekonomi digital. Dunia pendidikan memiliki tantangan untuk memastikan lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Melihat perubahan tersebut, Binus University memperluas akses pendidikan Artificial Intelligence ke sejumlah kampusnya.
Setelah hadir di Binus Kemanggisan dan Binus Alam Sutera, Program Artificial Intelligence kini diperluas ke Binus Bekasi, Binus Bandung, Binus Malang, dan Binus University Semarang. Sementara Program Computer Science di Binus Medan turut memperkuat pembelajaran di bidang AI.
Rektor Binus University Nelly mengatakan, perluasan program tersebut merupakan bagian dari upaya mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan teknologi.
“Kami ingin memastikan semakin banyak generasi muda Indonesia memperoleh kesempatan yang sama untuk menguasai teknologi masa depan, sehingga mereka mampu menjadi inovator yang memberikan dampak positif bagi masyarakat," ujar Dr. Nelly dalam keterangan resmi Senin (10/8).
Baca Juga: Bukan Cuma Jago AI, Ini Keterampilan yang Perlu Dimiliki Anak
AI bukan hanya soal coding
Salah satu hal yang perlu dipahami orang tua adalah pendidikan AI tidak selalu berarti mempersiapkan anak untuk menjadi programmer. Dalam penerapannya, AI membutuhkan pemahaman dari berbagai bidang.
Karena itu, pembelajaran AI dapat mencakup matematika, data science, machine learning, computer vision, natural language processing, Internet of Things (IoT), hingga robotika. Selain kemampuan teknis, mahasiswa juga perlu memahami etika, komunikasi, dan aspek bisnis dalam penerapan AI.
Dekan School of Computer Science Binus University Prof Derwin Suhartono bilang, cara pandang terhadap AI juga perlu berubah.
Menurutnya, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi apakah AI akan menggantikan manusia, melainkan apakah generasi muda sudah memiliki kompetensi untuk bekerja berdampingan dengan teknologi tersebut.
Artinya, mahasiswa tidak cukup hanya mampu menggunakan berbagai tools AI. Mereka juga perlu memahami cara kerja teknologi, mengevaluasi hasil yang dihasilkan AI, serta mampu mengembangkan dan menerapkannya secara bertanggung jawab.
Karena itu, ketika memilih pendidikan tinggi, orang tua dan anak dapat mulai melihat lebih jauh dari sekadar nama jurusan.
Ketersediaan pembelajaran berbasis teknologi, pengalaman proyek nyata, kolaborasi lintas disiplin, serta keterhubungan dengan industri dapat menjadi pertimbangan dalam mempersiapkan anak menghadapi perubahan dunia kerja.
Pada akhirnya, perkembangan AI bukan berarti semua anak harus mengambil jurusan teknologi. Yang semakin penting adalah memastikan mereka memiliki kemampuan untuk beradaptasi, belajar hal baru, dan memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari kompetensinya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News