MOMSMONEY.ID - Merawat kulit kini tak lagi hanya soal mencari produk yang bisa membuat wajah terlihat glowing.
Tren perawatan kulit mulai banyak membahas kesehatan kulit hingga ke tingkat sel, termasuk melalui teknologi photobiomodulation (PBM) atau terapi cahaya.
Teknologi ini memanfaatkan energi cahaya untuk berinteraksi dengan sel dan memicu respons biologis tertentu.
Karena itu, penggunaannya juga perlu didukung pemahaman mengenai cara kerja, indikasi, serta keamanannya.
Dokter spesialis dermatologi, dr. Ruri Diah Pamela, Sp.D.V.E, FINSDV, FAADV, mengatakan cara pandang terhadap kulit sehat memang mulai berubah.
"Ada pergeseran besar yang sedang terjadi dalam cara kita memahami kulit sehat. Selama bertahun-tahun, perawatan kulit berfokus pada apa yang terlihat di permukaan," kata Ruri dalam keterangan resmi Minggu (6/9).
Baca Juga: 4 Manfaat Skin Cycling untuk Kulit Wajah, Ini Cara Melakukannya dengan Benar
"Kini, sains membawa kita jauh lebih dalam: ke tingkat sel, tempat proses penuaan dan peremajaan kulit sesungguhnya bermula," imbuhnya.
Ia menilai tren longevity juga seharusnya tidak sekadar dimaknai sebagai upaya menyamarkan tanda penuaan, tetapi menjaga kulit tetap sehat dan berfungsi dengan baik.
"Kulit yang sehat selalu dimulai dari dalam, dari unit terkecilnya. Dan yang kita butuhkan adalah bukti ilmiah, pendekatan yang berpijak pada ilmu dan bisa dipertanggungjawabkan," kata Ruri.
Sementara itu, dr. Feilicia Henrica, Sp.D.V.E, FINSDV, menjelaskan bahwa PBM perlu dipahami hingga mekanisme yang terjadi di dalam sel.
"Kami tidak berhenti pada pertanyaan what the device does on the skin. Lebih jauh, kami ingin memahami what happens inside the cell, bagaimana energi cahaya berinteraksi dengan cellular chromophores, dan bagaimana interaksi tersebut diterjemahkan menjadi respons biologis," ujar Felicia.
Teknologi PBM tersebut kini diperkenalkan di Indonesia melalui perangkat Celluma.
Baca Juga: Vitiligo dan 7 Masalah Kulit Akibat Diabetes Lainnya, Kenali Gejalanya!
Untuk melihat penerapannya dalam konteks dermatologi di Indonesia, dibentuk Celluma Indonesia Advisory Board yang beranggotakan tiga dokter spesialis dermatologi.
Menurut dr. M. Akbar Wedyadhana, Sp.D.V.E, FINSDV, FAADV, IFAAD, keberadaan advisory board salah satunya untuk menjembatani perkembangan teknologi dengan kebutuhan praktik dermatologi di Indonesia.
"Sebagai advisory board, komitmen kami adalah menjembatani sains dengan realitas dermatologis di Nusantara," katanya.
Peluncuran Celluma dan pembentukan advisory board dilakukan dalam Aruna International Summit 2026 pada September 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News