MOMSMONEY.ID - Tren rumah selamanya makin diminati. Renovasi bisa jadi pilihan saat biaya pindah rumah dan pembiayaan hunian makin mahal kini terasa.
Pindah rumah sering dianggap sebagai solusi ketika hunian mulai terasa sempit atau tidak lagi sesuai kebutuhan keluarga. Apakah kamu sudah merasakan itu juga?
Namun, semakin banyak kebutuhan yang harus dihitung, mulai dari harga rumah, biaya transaksi, pembiayaan hingga proses pindahan. Karena itu, renovasi rumah lama mulai dilirik sebagai alternatif yang lebih realistis.
Melansir dari The Spruce, konsep ini dikenal sebagai rumah selamanya atau forever home, yakni hunian yang dirancang agar bisa mengikuti perubahan hidup penghuninya dalam jangka panjang.
"Bukan sekadar mempercantik tampilan, renovasi lebih diarahkan untuk membuat rumah tetap nyaman ketika kebutuhan keluarga berubah," dikutip dari The Spruce.
Di Indonesia sendiri, pilihan itu menarik untuk dilihat di tengah kondisi pasar properti saat ini. Bank Indonesia mencatat harga properti residensial primer pada kuartal II 2026 tumbuh 0,69% secara tahunan.
Pada periode yang sama, pembelian rumah primer melalui KPR masih mendominasi dengan pangsa 70,05%.
Baca Juga: 6 Tren Renovasi Dapur yang disarankan Dipikirkan Ulang Sebelum Keluar Biaya
Mengapa renovasi mulai masuk hitungan?
Membeli rumah baru memang bisa memberikan ruang dan fasilitas yang lebih sesuai. Namun, keputusan tersebut juga membawa konsekuensi finansial yang tidak sedikit.
Selain harga rumah, calon pembeli perlu memperhitungkan uang muka, biaya akad, pajak, renovasi, hingga cicilan jika menggunakan KPR.
Kondisi pembiayaan juga tetap menjadi pertimbangan. BI-Rate berada di level 5,75% pada September 2026. Sementara itu, suku bunga kredit perbankan pada Juni 2026 tercatat 8,81%.
Angka tersebut bukan berarti menjadi bunga KPR setiap orang karena produk dan profil debitur berbeda, tetapi cukup menunjukkan bahwa biaya pembiayaan masih perlu diperhitungkan matang.
Bagi pemilik rumah yang sudah cocok dengan lingkungan tempat tinggalnya, renovasi bisa menjadi cara untuk mendapatkan fungsi baru tanpa harus memulai proses kepemilikan dari awal.
Rumah dibuat mengikuti perubahan hidup
Rumah selamanya bukan berarti seseorang wajib tinggal di alamat yang sama seumur hidup. Gagasan utamanya justru bagaimana hunian dapat beradaptasi ketika penghuninya mengalami perubahan kebutuhan.
Keluarga muda, misalnya, mungkin awalnya cukup dengan dua kamar. Beberapa tahun kemudian, kebutuhan bisa bertambah karena hadirnya anak. Ruang kerja juga semakin penting bagi mereka yang bekerja secara hybrid atau dari rumah.
Begitu pula ketika orang tua mulai berusia lanjut. Tangga, kamar mandi, akses antar ruang, hingga pencahayaan bisa menjadi bagian yang perlu dipikirkan sejak renovasi.
Karena itu, renovasi yang baik tidak selalu mengejar tren desain terbaru. Fungsi, kenyamanan, keamanan, dan kemudahan perawatan justru bisa menjadi pertimbangan yang lebih panjang umurnya.
Baca Juga: 10 Cara Menata Dapur Kecil biar Rapi dan Nyaman Tanpa Renovasi Besar
Bagian rumah yang bisa diprioritaskan
Tidak semua renovasi harus dilakukan sekaligus. Pemilik rumah dapat memulainya berdasarkan kebutuhan paling mendesak dan kemampuan anggaran. Beberapa bagian yang bisa menjadi prioritas antara lain:
- Menata ulang ruang agar sirkulasi lebih nyaman.
- Menambah tempat penyimpanan supaya rumah tidak cepat terasa penuh.
- Memperbaiki dapur dan kamar mandi agar lebih aman serta praktis.
- Membuat ruang kerja atau belajar yang benar-benar fungsional.
- Menambah kamar ketika jumlah anggota keluarga bertambah.
- Memperbaiki akses untuk anggota keluarga yang semakin berusia.
Jika lahan memungkinkan, penambahan ruang terpisah juga dapat dipertimbangkan. Namun, penerapannya di Indonesia perlu melihat luas lahan, struktur bangunan, aturan tata ruang, perizinan, serta anggaran yang tersedia.
Renovasi bukan berarti harus lebih murah
Meski bisa menjadi alternatif pindah rumah, renovasi tidak otomatis selalu lebih hemat. Pembongkaran besar, perubahan struktur, material, tenaga kerja, dan masalah bangunan yang baru terlihat setelah pekerjaan dimulai dapat membuat biaya membesar. Karena itu, konsep rumah selamanya sebaiknya dimulai dari kebutuhan, bukan sekadar mengikuti tren.
Pemilik rumah dapat membuat daftar kebutuhan untuk lima hingga sepuluh tahun ke depan, kemudian menentukan mana yang harus dikerjakan sekarang dan mana yang bisa ditunda.
Melalui cara ini, renovasi tidak hanya membuat rumah Anda terlihat baru, tetapi juga membuatnya lebih siap mengikuti perubahan kehidupan.
Rumah selamanya bukan tentang mempertahankan satu alamat dengan segala cara. Konsep ini lebih mudah seperti membuat rumah yang sudah dimiliki tetap relevan selama kebutuhan penghuninya berubah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News