MOMSMONEY.ID - Harga emas hari ini di pasar global naik tipis setelah menyentuh level terendah lebih dari tujuh minggu pada sesi kemarin, dan aksi jual obligasi pemerintah AS mulai stabil. Namun, ekspektasi tetap tinggi bahwa Federal Reserve akan terus memperketat kebijakan demi mengendalikan inflasi.
Mengutip Bloomberg, Selasa (29/9), harga emas spot rebound tipis 0,32% menjadi US$ 4.128,97 per troi ons pada pukul 12.04 WIB. Logam mulia menguji naik setelah anjlok 4% pada sesi Senin.
Penguatan emas hari ini terjadi karena imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun stabil di 5,23%, setelah melonjak ke level tertinggi 19 tahun pada Senin.
Penjualan aset obligasi yang terjadi sejak konflik AS-Iran meletus akhir Februari, telah meningkat pesat selama sebulan terakhir. Ini menambah risiko baru ke dalam perekonomian AS dengan kenaikan suku bunga. Pemerintah AS telah mencoba meredakannya dengan meningkatkan buyback obligasi jangka panjang, namun yield terus naik.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Ambles 3%, Imbal Hasil Tinggi Mengikis Daya Tarik Emas
Sementara, harga minyak Brent naik untuk hari kedua, setelah para pejabat Iran mengungkapkan pesimisme tentang mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Washington sebelum pemilihan paruh waktu AS pada November.
Hal itu menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menolak proposal terbaru Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Harga emas turun hampir 7% pada September ini, meskipun sempat menyentuh US$ 4.510 per troi ons pada awal bulan. Penurunan terjadi setelah The Fed menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun demi mengendalikan inflasi AS yang tinggi dan mengisyaratkan kenaikan lebih lanjut.
Harga energi yang tinggi menambah tekanan untuk kenaikan suku bunga berlanjut, yang menjadi hambatan bagi emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil. Saat ini, investor melihat probabilitas kenaikan suku bunga pada Oktober sekitar 70%.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini (29/9) Turun Rp 17.000, Buyback Ikut Anjlok Rp 47.000
"Harga emas telah kehilangan area support penting di US$ 4.230. Jika imbal hasil tetap tinggi, area Juni di seitar US$ 4.000 akan menjadi ujian psikologis dan teknikal utama berikutnya," kata Charu Chanana, kepala strategi investasi di Saxo Markets mengutip Bloomberg, hari ini.
Pasar akan mencermati rilis data pengeluaran konsumsi pribadi AS pada Rabu, dan data non-farm payroll pada Jumat, untuk mencari petunjuk selanjutnya mengenai arah suku bunga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News