MOMSMONEY.ID - Soft life belakangan cukup ramai menjadi perbincangan hangat, khususnya di kalangan gen Z. Tak sedikit yang mengartikannya sebagai gaya hidup serba nyaman, tanpa tekanan, seolah-olah hidup adalah libur panjang tanpa tanggung jawab.
Padahal, pada kenyataannya, yang dimaksud soft life tidaklah seperti anggapan tersebut. Soft life bukan berarti malas atau menghindari diri dari kerja keras.
Generasi muda yang menerapkan prinsip gaya hidup ini justru tetap produktif dalam kehidupannya sehari-hari. Mereka bekerja, berkarya, dan mengejar mimpinya.
Baca Juga: Dampak Good Girl Syndrome Bagi Kesehatan Mental Seseorang
Namun, cara yang mereka gunakan tergolong lebih manusiawi. Mereka tidak terburu-buru, tidak memaksakan diri, dan tidak hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain.
Lalu, bagaimana menjalaninya in this economy yang tidak menentu ini? Di tengah harga kebutuhan yang melambung, persaingan kerja yang ketat, tekanan media sosial yang terus menghujani, hingga ancaman perang yang belum menemukan titik temu.
Baca Juga: 4 Fakta Menarik Tentang Gen Z, Generasi Blak-Blakan yang Peduli Kesehatan Mental
Menerapkan soft life berarti berani untuk memperlambat langkah tanpa merasa bersalah, merawat diri tanpa perlu izin, dan menghargai batasan diri tanpa perlu meminta maaf.
Ini adalah tentang keterbukaan menerima diri sendiri apa adanya, serta mengurangi tekanan dengan fokus pada apa yang benar-benar dirasa penting. Seperti kesehatan mental, hubungan yang sehat, dan kebahagiaan kecil yang berkelanjutan.
Baca Juga: Psikis Terguncang, Kenali 4 Bahaya Ghosting untuk Kesehatan Mental
Berikut ada beberapa strategi menjalani gaya hidup soft life yang bisa Anda terapkan in this economy, dikutip dari www.calm.com:
1. Membuat batasan kecil
Tips pertama adalah dengan membuat batasan kecil untuk melindungi energi yang Anda miliki. Batasan ini cukup sederhana agar kehidupan Anda setiap harinya lebih mudah dijalani.
Misalnya saja mematikan notifikasi kerja di ponsel Anda setelah jam kerja usai atau meninggalkan ponsel Anda saat sedang makan.
Mulailah dari satu batasan kecil terlebih dahulu, namun konsisten Anda lakukan setiap harinya.
2. Memaknai istirahat sesuai dengan diri Anda
Anda perlu untuk memaknai istirahat sesuai dengan versi diri Anda sendiri. Dalam hal ini, istirahat bukan berarti harus tidur berjam-jam ya.
Setiap orang memiliki istirahatnya masing-masing. Ada yang istirahat dengan cara duduk di tempat yang tenang sambil mendengarkan musik.
Ada juga yang memanfaatkan waktu di tengah kesibukan untuk mencari kesenangan dan ketenangan tanpa harus menunggu momen libur panjang.
Baca Juga: 5 Manfaat Journaling yang Bagus Buat Kesehatan Mental, Biasakan di Tahun 2026 Ini
3. Menciptakan kenyamanan secara sengaja
Kenyamanan itu tak selalu menjadi hal yang tidak segaja terjadi lo. Anda bisa menciptakan kenyamanan itu sendiri secara sengaja.
Cukup dengan melakukan hal sederhana saja. Misalnya saja menikmati secangkir teh atau kopi di pagi atau sore hari sambil duduk santai melihat pemandangan. Atau bisa juga saat Anda malas memasak, lalu pesan makanan yang Anda suka.
Jika Anda berada dalam sebuah ruang bersama orang lain, Anda juga bisa menciptakan kenyamanan itu dengan cara jalan-jalan santai keluar rumah sambil mendengarkan musik.
4. Melupakan rasa bersalah
Hal ini cukup sering dialami orang-orang, di mana ketika menciptakan kenyamanan untuk diri sendiri, justru merasa bersalah.
Merasa bahwa ketenangan, kesenangan, dan rasa santai yang Anda ciptakan membuat diri sendiri terbebani. Terutama khawatir akan anggapan orang lain.
Di tengah segala kepadatan aktivitas, Anda diperbolehkan untuk istirahat. Bahkan, Anda boleh menjaga kesehatan mental tanpa harus menjelaskannya kepada orang lain.
Baca Juga: Kesehatan Mental Berpengaruh dalam Mengelola Keuangan lo, Ini Faktanya
5. Bangun hubungan dengan orang terdekat
Kesendirian memang menenangkan, namun bukan berarti Anda tidak butuh teman. Jika ada teman yang menanyakan kabar dan membantu Anda, maka bangun hubungan baik dengannya.
Tidak perlu berada dalam sebuah lingkaran pertemanan yang besar, namun Anda cukup beruntung jika orang-orang di sekitar Anda saling mendukung, meski hanya satu atau dua orang saja.
Pada akhirnya, gaya hidup soft life ini bukanlah bentuk pelarian diri dari realitas. Tapi, sebuah strategi untuk bertahan secara elegan dan tetap berusaha waras di tengah kondisi yang penuh tuntutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News