MOMSMONEY.ID - Bagi sebagian orang, dapur sederhana di rumah kontrakan mungkin hanya menjadi tempat untuk menyiapkan makanan sehari-hari. Namun, bagi Nurtisari dan Ovi Arista Anggie Satria, dapur justru menjadi titik awal membangun sumber penghasilan baru.
Dari keterbatasan modal dan kondisi ekonomi yang serba pas-pasan, pasangan suami istri yang merantau dari Semarang ke Bali ini perlahan membangun usaha kuliner bernama Seblak Ngapak Bali.
Kisah itu menunjukkan, peluang usaha tidak selalu harus dimulai dari modal besar. Dengan memanfaatkan kemampuan yang dimiliki, platform digital untuk menjangkau konsumen, serta akses pendanaan untuk kebutuhan produktif, usaha rumahan dapat dikembangkan secara bertahap.
Kini, Nur menjalankan Seblak Ngapak Bali sebagai mitra GrabMerchant, sementara Ovi menjadi mitra pengemudi GrabBike.
Berawal dari merantau tanpa modal
Perjalanan Nur dan Ovi membangun usaha di Bali bermula pada 2022. Saat merantau dari Semarang, keduanya belum memiliki pekerjaan tetap, kendaraan, maupun modal untuk membuka usaha.
Bahkan, untuk membiayai perjalanan menuju Bali, Ovi harus menjual gitar miliknya dengan harga jauh di bawah pasaran. Sesampainya di Bali, Ovi bekerja sebagai kuli angkut untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Setelah sekitar tiga bulan, pasangan tersebut memberanikan diri mengambil kredit sepeda motor dengan uang muka sekitar Rp 300.000. Motor tersebut kemudian menjadi salah satu modal penting bagi Ovi untuk mulai bekerja sebagai pengemudi ojek online.
Baca Juga: Pelaku Usaha Wajib Tahu, Ini Cara Tingkatkan Daya Saing Produk Kulit dan Alas Kaki
Pada awalnya, Ovi masih harus beradaptasi dengan penggunaan aplikasi dan kondisi jalan di Denpasar. Penghasilannya pun belum mencukupi kebutuhan keluarga.
Namun, seiring waktu, Ovi mulai memahami cara menggunakan aplikasi dan mengenali wilayah operasionalnya. Pendapatan yang diperoleh pun perlahan meningkat.
"Sekitar tiga bulan pertama menetap di Bali, saya dan suami memberanikan diri untuk mengambil kredit sepeda motor dengan uang muka sekitar Rp 300.000," ujar Nur dalam keterangan resminya, Rabu (19/8).
"Di awal menekuni profesi sebagai ojek online, suami masih belum memahami cara kerja aplikasi dan belum hafal jalan-jalan di Denpasar, sehingga penghasilan suami masih jauh dari cukup," kata dia.
Di tengah perjuangan tersebut, keluarga Nur dan Ovi juga menghadapi kehilangan anak kedua mereka yang meninggal akibat pneumonia pada usia tujuh bulan. Ovi sempat berhenti menjadi mitra pengemudi GrabBike untuk mendampingi Nur ketika mulai merintis usaha seblak dari tempat tinggal mereka.
Seiring kebutuhan keluarga yang kembali meningkat, Ovi perlahan kembali bekerja sebagai pengemudi. Pada saat yang sama, usaha seblak Nur mulai mendapatkan perhatian dari konsumen.
Dari sinilah Seblak Ngapak Bali mulai dikembangkan sebagai usaha kuliner dan kemudian didaftarkan sebagai mitra GrabMerchant.
Baca Juga: Peluang Usaha Agen Logistik, Mahasiswa Ini Raup Omzet Puluhan Juta per Bulan
Seblak rumahan jadi peluang bisnis
Pada tahap awal, pesanan Seblak Ngapak Bali melalui GrabFood belum langsung ramai. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Nur untuk mencari cara agar produknya bisa lebih dikenal.
Alih-alih berhenti, Nur memilih mengevaluasi produk. Ia memperbaiki rasa, menambah variasi topping, serta menjaga konsistensi kualitas makanan.
Strategi sederhana tersebut dilakukan secara bertahap hingga pelanggan mulai mengenal Seblak Ngapak Bali. Bahkan, usaha tersebut kemudian menerima pesanan dari wilayah yang jaraknya lebih dari satu jam dari lokasi usaha di Denpasar.
"Saya percaya bahwa usaha yang baik membutuhkan proses. Ketika pertama kali mendaftarkan Seblak Ngapak Bali di GrabFood, pesanan yang masuk memang belum banyak. Namun, saya tidak menyerah," kenang Nur.
Menariknya, Nur dan Ovi tidak hanya mengandalkan satu sumber penghasilan. Pendapatan dari Seblak Ngapak Bali digunakan untuk memutar modal usaha sekaligus memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sementara itu, penghasilan Ovi sebagai mitra pengemudi GrabBike turut membantu membayar cicilan kendaraan dan kebutuhan rumah tangga.
Pembagian peran tersebut menjadi strategi keluarga untuk menjaga arus pendapatan tetap berjalan sambil membangun usaha kuliner.
Baca Juga: Peluang Usaha Kelas Kreatif saat Libur Sekolah, Ini Strategi Rumah Tanah Liat Citra
Bagi UMKM yang masih berada dalam tahap awal, memiliki sumber pendapatan lain dapat menjadi bantalan ketika penjualan usaha sedang mengalami penurunan. Dengan begitu, modal usaha tidak harus selalu digunakan untuk menutup kebutuhan rumah tangga.
Strategi tersebut juga membuat Nur memiliki ruang untuk terus mengembangkan Seblak Ngapak Bali tanpa harus langsung bergantung sepenuhnya pada omzet usaha.
Tambahan modal untuk naik kelas
Seiring usaha berkembang, kebutuhan modal Nur ikut meningkat. Bahan baku yang lebih lengkap dan peralatan usaha yang memadai dibutuhkan agar Seblak Ngapak Bali dapat melayani pesanan dengan lebih optimal.
Nur kemudian memanfaatkan fasilitas GrabModal Mantul by OVO Finansial yang tersedia melalui aplikasi Merchant GrabFood. Pada pendanaan pertama, Nur memperoleh sekitar Rp 5 juta. Dana tersebut digunakan untuk melengkapi persediaan bahan dan menambah variasi menu.
Setelah pendanaan tersebut diselesaikan, Nur kembali mengakses pendanaan sebesar Rp20 juta. Tambahan modal tersebut digunakan untuk memperkuat operasional, membeli bahan baku, serta melengkapi peralatan seperti kompor, wajan, kulkas, dan freezer.
"Kami bersyukur mendapat dukungan modal dari GrabModal Mantul by OVO Finansial yang bisa kami gunakan untuk mengembangkan usaha, mulai dari melengkapi bahan hingga peralatan masak," ujar Nur.
Bagi usaha kuliner, ketersediaan bahan baku dan peralatan menjadi bagian penting dari kemampuan melayani konsumen. Ketika permintaan meningkat, kapasitas produksi juga perlu mengikuti.
Artinya, tambahan modal bukan hanya digunakan untuk menambah jumlah uang di kas usaha, tetapi dapat diarahkan untuk meningkatkan kapasitas bisnis.
Baca Juga: Kelas Seni untuk Anak Jadi Peluang Bisnis Menjanjikan, Ini Strategi Nala Art Studio
Perjalanan Seblak Ngapak Bali memberikan gambaran bahwa perkembangan usaha kecil dapat dibangun melalui beberapa sumber daya sekaligus.
Pertama, produk menjadi fondasi utama. Dalam kasus Nur, seblak menjadi produk yang terus dikembangkan melalui variasi topping dan konsistensi rasa.
Kedua, platform digital membuka akses pasar yang lebih luas. Usaha rumahan tidak lagi hanya bergantung pada konsumen yang datang langsung ke lokasi.
Ketiga, diversifikasi penghasilan membantu keluarga menjaga kestabilan keuangan ketika usaha masih dalam tahap berkembang.
Keempat, akses pendanaan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan produktif, seperti menambah bahan baku dan membeli peralatan yang mampu meningkatkan kapasitas usaha.
Nur dan Ovi kini telah memiliki dua sepeda motor serta peralatan usaha yang lebih memadai. Mereka juga mulai dapat menyisihkan sebagian pendapatan untuk ditabung. Kondisi tersebut menjadi perubahan yang cukup jauh dibandingkan saat pertama kali tiba di Bali tanpa pekerjaan tetap dan modal usaha.
"Bagi kami, kunci UMKM bisa bertahan dan berkembang adalah keberanian untuk memulai, kemauan belajar memanfaatkan platform digital, dan modal yang sesuai dengan kebutuhan," kata Nur.
Direktur Utama OVO Finansial Riady Nata mengatakan dukungan terhadap UMKM penting agar pelaku usaha dapat terus bertumbuh dan beradaptasi.
"Momentum Hari UMKM Nasional menjadi pengingat akan pentingnya dukungan ekosistem agar UMKM dapat terus bertumbuh dan beradaptasi," ujar Riady.
Menurutnya, akses pembiayaan menjadi salah satu bentuk dukungan agar mitra dapat memenuhi kebutuhan usaha tanpa mengganggu kestabilan finansial.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News