MOMSMONEY.ID - Dunia kerja terus berubah. Kemampuan yang dibutuhkan hari ini belum tentu sama dengan kebutuhan beberapa tahun mendatang, sehingga anak muda perlu menyiapkan diri untuk menghadapi perubahan yang berlangsung sepanjang masa kerja.
Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), ikut mengubah cara manusia bekerja. Kondisi ini membuat kemampuan teknis saja tidak selalu cukup.
Anak muda juga perlu memiliki kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, berkomunikasi dan memahami perubahan di sekitarnya.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam riset DBS Foundation mengenai kesiapan Indonesia menghadapi populasi yang menua.
Aktris sekaligus Founder Cinta Laura Foundation Cinta Laura Kiehl mengatakan, generasi muda perlu membangun kemampuan yang membuat mereka tetap mampu menghadapi perubahan dunia kerja.
“Mulai September 2026, Children's Community sudah berubah menjadi self-development platform, di mana kita sudah membangun sebuah curriculum dan me-welcome semua orang,” ujar Cinta dalam acara DBS Foundation di Jakarta, Kamis (17/9).
“Usia apapun dan anak-anak muda, untuk mengikuti curriculum kita untuk bisa mengasah communication skills mereka, leadership skills mereka, dan berbagai skills lainnya yang mereka butuhkan untuk bisa bertahan di dunia sekarang,” katanya.
Baca Juga: Biar Tak Salah Langkah, Ini Pentingnya Literasi Keuangan bagi Anak Muda
Menurut Cinta, kemampuan tersebut penting karena generasi muda akan menghadapi dunia yang bergerak cepat. Kekhawatiran mengenai perubahan teknologi juga perlu diimbangi dengan kesiapan untuk terus mengembangkan diri.
1. Jangan berhenti belajar
Salah satu bekal yang perlu dimiliki adalah kemauan untuk terus belajar.
Cinta mengatakan seseorang tidak bisa hanya mengandalkan pengetahuan yang diperoleh pada satu periode kehidupan. Perubahan kebutuhan membuat proses belajar perlu terus berlangsung.
“Jangan pernah lelah belajar. Dan kita hanya bisa belajar kalau kita baca. Dan jangan pernah berhenti merasa penasaran” katanya.
Kebiasaan belajar juga tidak harus selalu dilakukan melalui pendidikan formal. Membaca, mengikuti perkembangan informasi, mempelajari keterampilan baru dan berdiskusi dengan orang lain dapat menjadi bagian dari proses tersebut.
Mona Monika, Head of Group Marketing and Communications PT Bank DBS Indonesia, juga menekankan pentingnya upskilling dan reskilling.
“anak muda perlu terus belajar, membangun jaringan dan mencari peluang agar memiliki kemampuan yang relevan dengan kebutuhan masa depan”, ujar Mona.
Baca Juga: Studi FedEx-JA: Anak Muda Indonesia Percaya Diri, tapi Butuh Pengalaman Kerja Nyata
2. Perkuat kemampuan yang tidak berhenti pada satu pekerjaan
Perubahan dunia kerja membuat seseorang tidak selalu menjalani jalur pekerjaan yang sama sepanjang hidupnya.
Karena itu, kemampuan untuk mempelajari hal baru menjadi penting. Seseorang dapat meningkatkan keterampilan yang sudah dimiliki atau mempelajari kemampuan lain yang relevan dengan kebutuhan pekerjaan.
Cinta juga melihat bahwa kesempatan tidak selalu datang dengan sendirinya.
Menurut dia, anak muda perlu lebih aktif mencari kesempatan dan memahami kebutuhan sebelum menentukan bentuk kontribusi yang ingin diberikan.
Pendekatan tersebut juga berlaku ketika seseorang ingin membantu orang lain. Menurut Cinta, niat baik perlu disertai pemahaman mengenai kebutuhan sebenarnya agar solusi yang diberikan tidak sekadar berdasarkan asumsi.
3. Belajar dari generasi yang lebih tua
Kesiapan menghadapi masa depan bukan hanya tanggung jawab generasi muda.
Cinta mengatakan generasi yang lebih tua juga perlu melakukan reskilling dan upskilling agar tetap mampu mengikuti perubahan.
Di sisi lain, generasi yang lebih tua memiliki pengalaman yang dapat menjadi bekal bagi generasi muda.
“Tidak ada yang bisa mengalahkan pengalaman. Dan saat kita bisa berkolaborasi dan menggunakan kreativitas itu, digabungkan dengan pengalaman hidup yang luas, aku rasa kita akan bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa,” ujar Cinta.
Baca Juga: Nyeri Sendi saat Malam Jadi Tanda Asam Urat pada Anak Muda, Picu Osteoartritis!
Kolaborasi antara kreativitas anak muda dan pengalaman generasi yang lebih tua dapat menjadi salah satu cara menghadapi perubahan yang berlangsung di dunia kerja dan kehidupan sosial.
Hal ini menjadi semakin relevan ketika masyarakat menghadapi perubahan struktur usia penduduk. Masa hidup yang lebih panjang juga berarti masa produktif dan kebutuhan untuk terus beradaptasi dapat berlangsung lebih lama.
Mulai dari kebiasaan sederhana
Meningkatkan kemampuan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar.
Anak muda dapat mulai dengan membaca lebih banyak, mempelajari keterampilan baru, membangun jaringan, mengikuti perkembangan teknologi dan mengevaluasi kemampuan yang masih perlu dikembangkan.
Cinta bahkan mengajak masyarakat mengurangi waktu yang dihabiskan untuk scrolling dan menggantinya dengan kebiasaan membaca.
Sementara itu, Mona mengingatkan pentingnya menjaga rasa ingin tahu dan tidak berhenti belajar.
Dengan kebiasaan tersebut, persiapan menghadapi masa depan tidak hanya dilakukan ketika perubahan sudah terjadi. Prosesnya dapat dimulai sejak sekarang, ketika seseorang masih memiliki waktu untuk belajar, mencoba dan menyesuaikan diri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News