MOMSMONEY.ID - Tren kecerdasan artifisial alias artificial intelligence (AI) mulai merambah ke segala sektor. Termasuk tidak ketinggalan di ranah sektor keuangan, diantaranya perencanaan keuangan.
Tak jarang, AI diminta bantuan untuk membantu mengelola keuangan. Misalnya merapikan anggaran, memeriksa pengeluaran, atau menghitung kemampuan menabung. Hanya dalam hitungan detik, pengguna bisa mendapatkan jawaban dari AI yang sesuai dengan pertanyaan yang diajukan.
Namun, cepat bukan berarti selalu tepat. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025 (SNLIK 2025) menunjukkan indeks literasi keuangan Indonesia sebesar 66,46%, sedangkan inklusi mencapai 80,51%. Kesenjangan ini menjadi pengingat bahwa akses terhadap teknologi dan produk keuangan perlu diikuti kemampuan memahami manfaat, biaya, dan risikonya.
Harus diakui, AI memang dapat menjadi alat bantu yang berguna dalam proses itu. Namun, dalam hal ini sebaiknya AI diposisikan sebagai copilot saja yang membantu mengolah informasi sebelum keputusan dibuat oleh manusia. Jangan secara mentah-mentah dijadikan sebagai "manajer keuangan otomatis" bagi Anda.
Baca Juga: Jangan Lupa Siapkan Dana Perawatan Rumah, Segini Idealnya Menurut Perencana Keuangan
Artinya, AI sebaiknya diposisikan menjadi sebagai alat bantu, bukan pengambil keputusan. Teknologi memang dapat membantu Anda menyusun informasi dan melihat beberapa kemungkinan, tetapi keputusan akhirnya tetap perlu dibuat berdasarkan kondisi keuangan yang nyata.
Dus, yang harus menjadi perhatian adalah jawaban AI tidak boleh ditelan mentah-mentah.
Model AI menghasilkan jawaban berdasarkan pola dalam data, bukan pemahaman utuh atas kehidupan pengguna. Meskipun terdengar canggih, teknologi ini tidak mengetahui stabilitas pekerjaan, tanggungan keluarga, kondisi kesehatan, toleransi risiko, atau perubahan rencana yang belum dituliskan dalam pertanyaan.
Kemudahan AI tidak seharusnya membuat Anda lengah terhadap privasi. Untuk itu, hindari memasukkan nomor rekening, NIK, kata sandi, PIN, nomor polis, data medis, atau dokumen keuangan lengkap ke layanan AI publik.
Meski begitu AI tetap bisa menjadi ko pilot Anda untuk urusan keuangan. Misalnya untuk menganalisis anggaran, Anda cukup gunakan kategori umum dan angka yang sudah dibulatkan jika detail presisi tidak diperlukan.
Kebijakan privasi layanan juga perlu dibaca agar Anda memahami bagaimana data disimpan, digunakan, atau diproses.
Nah, agar AI tetap berfungsi sebagai alat bantu, ada empat kebiasaan sederhana yang bisa diterapkan seperti dilansir Manulife.co.id, yakni:
1. Mulai dari tujuan yang spesifik, misalnya membentuk dana darurat atau menyiapkan biaya pendidikan
2. Masukkan hanya data minimum yang relevan dan sudah disamarkan.
3. Minta AI menjelaskan asumsi dan menampilkan beberapa skenario, bukan satu rekomendasi seolah-olah itulah pilihan terbaik.
4. Lakukan verifikasi angka, aturan, dan informasi produk hanya melalui sumber resmi. Untuk keputusan yang berdampak besar, sebaiknya tetap diskusikan dengan tenaga profesional.
Jangan lupa, alih-alih meminta AI memilih investasi atau produk, gunakan pertanyaan yang membantu proses berpikir.
Contohnya: “Kelompokkan daftar pengeluaran anonim ini”, “Tunjukkan dampak jika target tabungan diperpanjang enam bulan”, atau “Buat daftar pertanyaan yang perlu saya ajukan sebelum membeli produk keuangan”.
Kemudian, hindari prompt yang meminta kepastian hasil, seperti memilih aset yang pasti untung atau menentukan jumlah perlindungan tanpa informasi keluarga.
Jika jawaban AI kurang memuaskan, tidak usah sungkan untuk melakukan percakapan dengan tenaga profesional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News