M O M S M O N E Y I D
Bugar

Jangan Anggap Remeh, Masalah Infertilitas Tinggi Karena Hal Ini

Jangan Anggap Remeh, Masalah Infertilitas Tinggi Karena Hal Ini
Reporter: Jane Aprilyani  |  Editor: Jane Aprilyani


MOMSMONEY.ID - Kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan reproduksi dan menjalani program hamil (promil) terus meningkat. Namun di sisi lain, kondisi ekonomi dan beragam gangguan fertilitas masih menjadi tantangan yang membuat banyak pasangan menunda memiliki keturunan.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi subspesialis fertilitas dari Bocah Indonesia dr. Steven Aristida, Sp.OG, Subsp.FER, FICS menyebutkan, perhatian untuk kepedulian banyak pasangan baru dalam memperhatikan kesehatan reproduksi kian banyak.

Hanya saja, tren ini menurun sejak tahun 2024 sampai saat ini. Hal ini disebabkan persoalan ketidakpastian ekonomi dan beberapa persoalan lain.

Menurut dr. Steven, jumlah pasangan yang datang dengan masalah ketidaksuburan atau infertilitas masih tinggi. Namun, keputusan memulai promil saat ini turut dipengaruhi faktor ekonomi.

“Kesadaran untuk diagnosis sebenarnya meningkat. Orang makin berani memeriksa diri, mengetahui ada atau tidaknya gangguan fertilitas. Namun sebagian pasangan masih menunda memulai program hamil karena mempertimbangkan kondisi ekonomi,” ujarnya dalam rangkaian perayaan tujuh tahun Bocah Indonesia bertajuk “7 Wonders: The Journey Beyond Limits” di Park Hyatt Jakarta, Minggu (31/5).

Ia menjelaskan, penyebab infertilitas paling sering berasal dari gangguan kesehatan reproduksi, baik pada perempuan maupun laki-laki.

Pada perempuan, sejumlah kondisi yang banyak ditemukan antara lain polycystic ovarian morphology syndrome (PCOM/PMOS), endometriosis, serta keguguran berulang (recurrent pregnancy loss). Sementara pada laki-laki, faktor kesuburan juga memegang peranan penting.

Baca Juga: Ingin Program Hamil Sukses? Ini 7 Manfaat Alpukat Jadi Senjata Rahasia Wanita

Male factor menempati sekitar 30 persen dari keseluruhan kasus infertilitas. Jadi, bukan hanya persoalan perempuan,” kata dr. Steven.

Ia menilai, perubahan pola pikir masyarakat membuat laki-laki kini lebih terbuka untuk menjalani pemeriksaan fertilitas, berbeda dengan satu dekade lalu ketika persoalan kesuburan masih sering dianggap semata tanggung jawab perempuan.

Menurutnya, pemeriksaan kesuburan pria saat ini tidak lagi hanya melihat jumlah sperma, tetapi juga kualitas secara menyeluruh.

Ada empat parameter utama yang diperiksa, yakni konsentrasi sperma, motilitas atau kemampuan bergerak, morfologi atau bentuk sperma, serta DNA Fragmentation Index (DFI) yang menggambarkan kualitas materi genetik sperma.

“DFI yang tinggi dapat memengaruhi kesuburan dan meningkatkan risiko keguguran, bahkan ketika kehamilan sudah berhasil terjadi,” jelasnya.

Dr. Steven juga menyoroti persoalan keguguran berulang yang sering berdampak besar terhadap kondisi psikologis pasangan. Secara medis, keguguran berulang ditetapkan apabila seorang perempuan mengalami dua kali keguguran atau lebih, tanpa dibatasi rentang waktu tertentu.

“Kondisi ini tidak hanya soal kegagalan kehamilan, tetapi juga dapat menurunkan mental pasangan karena mengalami kehilangan berulang,” ujarnya.

Baca Juga: Wajib Tahu! Ini 6 Ikan untuk Ibu Hamil yang Rendah Merkuri Aman Bagi Janin

Karena itu, penanganan harus dilakukan secara komprehensif, mulai dari pemeriksaan kesehatan rahim dan endometrium, kualitas sel telur, faktor hematologi atau pembekuan darah, autoimun, hingga faktor laki-laki termasuk pemeriksaan DFI.

Selain itu, dr. Steven mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh nyeri menstruasi berat atau dysmenorrhea. Karena, nyeri haid yang sampai mengganggu aktivitas sekolah, pekerjaan, atau fungsi sosial bisa menjadi sinyal adanya gangguan reproduksi seperti endometriosis.

Dalam catatannya banyak pasien endometriosis baru terdiagnosis setelah bertahun-tahun menahan nyeri. Padahal diagnosis dini penting agar fungsi reproduksi tetap terjaga.

Ia menambahkan, warna darah menstruasi atau adanya gumpalan tidak otomatis menunjukkan penyakit tertentu ataupun infertilitas. Diagnosis tetap memerlukan pemeriksaan medis lanjutan, termasuk ultrasonografi transvaginal.

Mengenai waktu ideal memeriksakan kesuburan, dr. Steven menjelaskan bahwa pasangan berusia di bawah 35 tahun disarankan berkonsultasi apabila belum hamil setelah 12 bulan berhubungan rutin tanpa kontrasepsi.

Sementara pada usia di atas 35 tahun, evaluasi sebaiknya dilakukan setelah enam bulan. Untuk cadangan sel telur perempuan menurun seiring usia, terutama setelah 35 tahun. Kualitas sperma juga berubah dengan pertambahan umur.

Baca Juga: Preeklampsia & Asam Urat Tinggi: Kenali Tanda Bahaya pada Ibu Hamil

Ia turut menekankan pentingnya pola hidup sehat untuk mendukung fertilitas. Konsumsi makanan minim proses (real food) dan pola makan antiinflamasi dinilai lebih baik dibanding makanan cepat saji atau olahan tinggi bahan tambahan.

Edukasi mengenai kesehatan reproduksi itu menjadi bagian dari perayaan tujuh tahun Bocah Indonesia melalui acara “7 Wonders: The Journey Beyond Limits” yang diikuti lebih dari 500 pasangan pejuang garis dua.

Founder dan CEO Bocah Indonesia dr. Pandji Sadar, MBBS, AMPH mengatakan, perjalanan promil tidak hanya berkaitan dengan tindakan medis, tetapi juga keberanian dan pendampingan yang tepat.

“Setiap pasangan memiliki perjalanan berbeda. Karena itu kami ingin menghadirkan layanan fertilitas yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga personal dalam pendampingannya,” tutur dr. Pandji.

Melalui acara tersebut, peserta mendapatkan edukasi mengenai promil alami, inseminasi buatan (intrauterine insemination/IUI), hingga bayi tabung (in vitro fertilization/IVF), termasuk teknologi reproduksi modern dan ruang berbagi pengalaman antarpasangan.

Bocah Indonesia turut memperkuat layanan melalui pengembangan layanan fertilitas terintegrasi serta raihan akreditasi internasional Reproductive Technology Accreditation Committee (RTAC) pada 2024 dan 2025 sebagai layanan fertilitas yang aman dan berstandar global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

Makin Untung! Promo BRI Beri Diskon Spesial dari Waroeng Steak hingga Sushi Hiro

Makan di Waroeng Steak hingga Sushi Hiro bisa hemat, tapi kuota promo BRI ini cepat habis. Segera manfaatkan sebelum terlambat, cek syaratnya!

Login WhatsApp Web Tanpa Scan QR: Anti Ribet, Langsung Berhasil

Scan QR WhatsApp Web gagal bisa bikin panik. Kenali masalah server, internet, atau browser dan temukan solusi ampuh di sini.

HP Redmi Note 17 Pro Terbaru: Layar 2K, Kamera 200MP, Agresif Tanpa Tanding?

Jangan terlewat fitur ekstrem Redmi Note 17 Pro Max, dari kamera 200MP hingga layar 7 inci. Cari tahu mengapa ini jadi ponsel paling agresif. 

Lenovo Yoga Slim 7i: Laptop Tipis dengan Baterai Tahan Lama, Ini Rahasianya

Lenovo Yoga Slim 7i Aura Edition menawarkan desain super ringan, Intel Core Ultra 7 dan layar POLED jernih. 

Fitur Rahasia HP Vivo Termurah: Layar AMOLED & Kamera 64MP Unggul

Bingung pilih HP Vivo termurah? Temukan ponsel dengan layar paling jernih dan nyaman untuk mata. Cek spesifikasi layar terbaik sebelum membeli!

Kelas Seni untuk Anak Jadi Peluang Bisnis Menjanjikan, Ini Strategi Nala Art Studio

Bisnis kelas seni untuk anak masih memiliki prospek yang menjanjikan​. Simak strategi membangun bisnis ini dari Nala Art Studio  

Promo J.CO Joyful Holiday, Bundling Minuman Hemat Cuma sampai 3 Juli 2026

Promo J.CO Joyful Holiday segera berakhir 3 Juli 2026! Nikmati 2 minuman segar mulai Rp45.000. Jangan tunda lagi, stok terbatas!

HP Samsung Terkencang: Pilih Ini Agar Game Anti-Lag

Mencari HP Samsung untuk performa gaming dan AI terbaik? Ternyata ada model khusus yang menarik. Cek daftar lengkapnya sebelum membeli! 

Lawan Panas Ekstrem, Ini 7 Jus Buah Terbaik untuk Menyelamatkan dari Dehidrasi

Menghadapi suhu panas, tubuh butuh hidrasi ekstra. Temukan daftar jus buah yang ampuh mengembalikan elektrolit dan menjaga tubuh tetap bugar.

Delayed Sleep Phase Syndrome Beda dengan insomnia, Para Night Owls Wajib Baca

Night Owls, yuk simak penjelasan tentang Delayed Sleep Phase Syndrome yang ternyata berbeda dengan insomnia.