MOMSMONEY.ID - Dapat royalti tidak berarti bebas belanja. Begini cara mengaturnya agar kebutuhan, pajak, dan masa depan tetap aman.
Menerima royalti tentu terasa menyenangkan, terlebih ketika uang datang dari karya yang pernah dibuat sebelumnya.
Namun, pemasukan tersebut tidak selalu diterima setiap bulan sehingga pengelolaannya perlu lebih hati hati dibanding gaji tetap.
Royalti dari buku, musik, aplikasi, paten, lisensi, hingga karya digital sebaiknya memiliki rencana penggunaan sejak awal.
Melansir dari Plectrumadvisers, memisahkan dana pajak dan kebutuhan hidup sejak royalti diterima dapat membantu menjaga kondisi keuangan tetap terkendali.
“Penghasilan royalti perlu direncanakan karena nilainya dapat berubah dari waktu ke waktu,” ujar Revel CPA.
Baca Juga: Kebiasaan Ngopi Bisa Jadi Modal Investasi, Begini Cara Memulainya
Jangan langsung menghabiskan royalti
Uang royalti sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai bonus yang bebas digunakan. Pembayaran besar hari ini belum tentu terulang pada bulan berikutnya.
Langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah menggunakan rekening terpisah untuk menerima royalti. Catat jumlah pembayaran, sumber penghasilan, potongan, biaya yang berkaitan dengan karya, serta jadwal pembayaran selanjutnya.
Pencatatan tersebut, pemilik royalti dapat melihat berapa sebenarnya pemasukan yang diterima dan bagaimana perkembangannya dari waktu ke waktu.
Bagi royalti sesuai kebutuhan
Setiap pembayaran bisa langsung dibagi ke beberapa pos. Tidak ada persentase yang berlaku sama untuk semua orang karena kondisi keuangan dan kewajiban pajak setiap penerima berbeda, segera prioritaskan:
- Dana untuk kewajiban pajak.
- Kebutuhan hidup dan cadangan.
- Tabungan atau investasi.
- Pengembangan karya yang menghasilkan royalti.
Sebagai ilustrasi, penerima royalti sebesar Rp60 juta dapat menyisihkan Rp18 juta atau 30% terlebih dahulu sebagai cadangan pajak. Angka tersebut hanya contoh perencanaan dan bukan tarif pajak yang otomatis berlaku bagi semua penerima.
Buat royalti terasa seperti gaji
Menurut dari Revelcpa, penghasilan royalti yang tidak rutin perlu direncanakan agar kebutuhan sehari hari tidak bergantung pada kapan pembayaran berikutnya diterima.
Baca Juga: Berapa Uang Kado Pernikahan yang Celana? Ini Standar yang Paling Pas
Contohnya, jika tersedia Rp72 juta untuk kebutuhan selama satu tahun, dana tersebut dapat dibagi menjadi Rp6 juta per bulan. Dengan begitu, pembayaran yang awalnya datang sekaligus dapat digunakan secara lebih teratur.
Cara ini juga membantu mengurangi kebiasaan menghabiskan uang ketika royalti baru masuk dalam jumlah besar.
Bangun cadangan untuk masa sepi
Royalti dapat mengalami penurunan karena perubahan tren, berkurangnya penjualan, berakhirnya kontrak, atau turunnya minat terhadap suatu karya. Karena itu, dana cadangan menjadi bagian penting.
Hitung kebutuhan pokok bulanan, mulai dari tempat tinggal, makanan, transportasi, tagihan, cicilan, hingga kebutuhan keluarga. Bagi orang dengan pemasukan yang sulit diprediksi, cadangan sekitar 6 sampai 12 bulan pengeluaran dapat menjadi pertimbangan.
Pilih tempat menyimpan dana yang relatif mudah dicairkan ketika diperlukan dan sesuaikan dengan kebutuhan serta tingkat risiko.
Pahami kewajiban pajak
Royalti memiliki konsekuensi perpajakan di Indonesia. Perlakuannya dapat berbeda berdasarkan status penerima dan jenis transaksi yang dilakukan.
DJP menjelaskan bahwa pembayaran royalti kepada wajib pajak dalam negeri pada kondisi tertentu dapat menjadi objek PPh Pasal 23. Karena itu, bukti potong, kontrak, dan catatan pembayaran perlu disimpan secara rapi.
Jangan menggunakan seluruh uang sebelum mengetahui bagian yang perlu disiapkan untuk pajak. Untuk transaksi yang lebih kompleks, termasuk yang melibatkan pihak luar negeri, konsultasi dengan profesional pajak dapat membantu memastikan kewajiban terpenuhi.
Gunakan sisa uang untuk berkembang
Setelah kebutuhan utama dan kewajiban pajak aman, sebagian dana dapat diarahkan untuk tujuan jangka panjang.
Melansir dari Fastercapital, memiliki lebih dari satu sumber royalti dapat membantu mengurangi ketergantungan pada satu karya atau sumber pemasukan.
Bagi kreator, surplus dapat digunakan untuk membuat karya baru, memperbaiki karya lama, membayar biaya desain dan penyuntingan, atau mengembangkan aset intelektual lainnya.
Jika memilih investasi, pertimbangkan tujuan, jangka waktu, kondisi keuangan, dan kemampuan menghadapi risiko. Jangan menentukan pilihan hanya karena sebuah instrumen sedang populer.
Baca Juga: Cara Kumpulin Dana Darurat Rp10 Juta dalam 6 Bulan dengan Gaji Rp6 Juta
Lakukan pemeriksaan setiap bulan
Mengatur royalti tidak harus menggunakan sistem yang rumit. Luangkan sekitar 30 menit setiap bulan untuk mengecek beberapa hal berikut:
- Jumlah royalti yang sudah diterima.
- Pembayaran yang masih ditunggu.
- Dana yang disiapkan untuk pajak.
- Cadangan kebutuhan hidup.
- Tabungan dan investasi.
- Biaya pengembangan karya.
- Perubahan isi kontrak atau persentase royalti.
Kebiasaan sederhana ini dapat membantu menemukan kesalahan pembayaran atau perubahan pemasukan lebih cepat.
Royalti perlu dikelola dengan rencana
Royalti memang dapat menjadi sumber penghasilan pasif, tetapi sifatnya tidak selalu stabil. Karena itu, kunci utamanya bukan sekadar mendapatkan pembayaran besar, melainkan memastikan setiap rupiah memiliki tujuan.
Pisahkan dana pajak, siapkan cadangan, buat jatah pengeluaran bulanan, lalu manfaatkan surplus untuk memperkuat keuangan atau mengembangkan karya berikutnya.
Melakukan cara tersebut, pemasukan yang datang sesekali tetap dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News