M O M S M O N E Y I D
Bugar

Campak Jadi Kasus Penyakit Tertinggi Kedua di Dunia, Berikut Pencegahannya

Campak Jadi Kasus Penyakit Tertinggi Kedua di Dunia, Berikut Pencegahannya
Reporter: Jane Aprilyani  |  Editor: Jane Aprilyani


MOMSMONEY.ID - Belakangan sorotan masyarakat akan kasus dokter muda yang meninggal dengan dugaan komplikasi campak menjadi pengingat bahwa penyakit ini bukan sekadar “penyakit anak-anak” yang ringan.

Di tengah situasi peningkatan kasus saat ini, campak perlu dilihat sebagai ancaman kesehatan nasional yang serius bagi semua kelompok usia, menular sangat cepat dan menyebar di lingkungan padat, termasuk rumah, sekolah, hingga fasilitas kesehatan.

Data World Health Organization (WHO) menempatkan Indonesia di peringkat kedua dunia untuk jumlah kasus campak terbanyak, dengan 17,204 kasus terkonfirmasi sepanjang tahun 2025.1

Tren ini berlanjut di mana data Kementerian Kesehatan mencatat hingga minggu ke-8 tahun tahun 2026 terdapat 8.372 kasus terkonfirmasi dan 10.453 kasus suspek. Kondisi ini menegaskan urgensi penguatan upaya pencegahan campak di Indonesia.

Lantas mengapa campak jadi penyakit yang berbahaya?

Campak adalah infeksi virus akut yang sangat menular melalui udara. Virus ini memiliki daya tular (R₀) sebesar 12-18, yang artinya satu orang yang terinfeksi campak dapat menularkan virus kepada hingga 18 orang lain pada populasi rentan.

Virus campak juga dapat bertahan di udara atau menempel pada permukaan benda di ruang tertutup hingga dua jam setelah penderita meninggalkan lokasi. Tanpa perlindungan vaksinasi, campak dapat memicu komplikasi berat seperti pneumonia (radang paru), ensefalitis (radang otak), hingga risiko kematian.

Melihat tren kenaikan kasus ini, dr. Nina Dwi Putri, Sp.A(K), MSc (TropPaed), Dokter Spesialis Anak Konsultan Infeksi dan Penyakit Tropis yang juga Pengurus Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), mengingatkan, risiko penularan campak pada anak.

Baca Juga: Orang Tua Wajib Tahu! 6 Langkah IDAI agar Anak Bebas Penularan Campak saat Lebaran

Menurutnya, risiko penularan campak pada anak berpotensi meningkat seiring dengan tingginya mobilitas dan interaksi, misalnya, saat momen Lebaran maupun awal tahun ajaran baru di sekolah.

"Interaksi fisik yang intens di ruang tertutup, seperti di transportasi umum atau kelas, dapat mempermudah penyebaran virus melalui percikan batuk atau bersin8. Dampak jangka panjangnya pun sangat mengkhawatirkan, salah satunya yaitu immune amnesia," ujar dr. Nina dalam keterangan resmi Jumat (10/4).

Lebih lanjut, dr. Nina menjelaskan, virus campak bersifat imunosupresif yang secara unik mampu menghapus memori sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit lain yang pernah diderita anak sebelumnya.

"Studi ilmiah menunjukkan bahwa 11% hingga 73% dari bank memori antibodi dapat hilang setelah infeksi campak. Artinya, ketika anak terkena campak, pertahanan tubuh yang sudah terbentuk bisa runtuh. Setelah sembuh, anak justru menjadi lebih rentan terhadap infeksi bakteri atau virus lain," jelasnya.

Saat ini, sekitar 8% dari total kasus campak di Indonesia ditemukan pada usia dewasa. Berdasarkan panduan dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), terdapat beberapa kategori orang dewasa yang memiliki risiko tinggi tertular atau mengalami komplikasi berat akibat campak.

Di antaranya tenaga medis yang terpapar langsung di fasilitas kesehatan, pelancong ke daerah endemis, penghuni lingkungan padat, hingga individu dengan penyakit kronis atau gangguan imun.

Menanggapi hal ini, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD-KAI, FINASIM, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (PAPDI), menekankan pentingnya perlindungan bagi kelompok dewasa yang berisiko tinggi.

Baca Juga: Waspada! Kasus Campak di Indonesia Meningkat, Ketahui Gejala & Pencegahannya yuk

"Kasus pada tenaga medis baru-baru ini adalah alarm bagi kita semua. Bagi orang dewasa yang tidak memiliki bukti kekebalan atau belum pernah menerima dua dosis vaksin, vaksinasi MMR sangat perlu dilakukan untuk mencegah komplikasi berat dan mendukung terciptanya herd mmunity sebesar 95%," ungkapnya.

Ditambahkan dr. Sukamto, kerentanan campak pada orang dewasa dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain riwayat imunisasi yang tidak lengkap atau sering kali tidak terdokumentasi dengan jelas.

Lalu, kegagalan vaksinasi primer yaitu ketika tubuh sama sekali tidak membentuk kekebalan (terjadi pada sekitar 5% individu yang divaksinasi), serta waning immunity yaitu ketika antibodi menurun 15-20 tahun pascavaksinasi (terjadi pada 2–10% penerima vaksin).

Karena itu, dr. Sukamto berpendapat, vaksin bukan satu-satunya faktor pencegahan. Berkurangnya paparan alami terhadap virus campak di era cakupan vaksinasi tinggi juga menyebabkan tidak adanya natural boosting yang selama ini secara tidak langsung memperkuat kekebalan.

Selain itu, orang dewasa yang lahir di era sebelum program imunisasi nasional dan tidak pernah terinfeksi campak secara alami mungkin sama sekali tidak memiliki kekebalan.

Faktor lain yang juga tidak boleh diabaikan, katanya, kondisi yang menurunkan daya tahan tubuh, seperti kelelahan kronis akibat beban kerja tinggi, adanya penyakit penyerta (komorbid) seperti diabetes melitus, penyakit ginjal kronis, atau gangguan autoimun, serta penggunaan obat-obatan imunosupresan.

Kondisi-kondisi ini membuat seseorang lebih mudah terinfeksi sekaligus berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi berat apabila tertular campak. Kombinasi seluruh faktor inilah yang diakui dr. Sukamto menjadikan orang dewasa sebagai kelompok rentan yang perlu mendapat perhatian serius.

Baca Juga: Strategi Atasi DBD Tangerang, Libatkan Jumantik & 3M Plus

Sebagai langkah pencegahan, pemerintah dan organisasi profesi medis mendorong masyarakat untuk segera melengkapi status imunisasi. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah merekomendasikan pemberian imunisasi campak-rubella (MR) atau MMR pada anak sesuai jadwal.

Dosis pertama diberikan pada usia 9 bulan dengan vaksin MR, kemudian dilanjutkan dengan dosis kedua dengan MR/MMR pada usia 15 hingga 18 bulan. Selanjutnya, anak dianjurkan untuk mendapatkan dosis ketiga atau booster dengan MR/MMR pada usia 5 hingga 7 tahun.

Sementara Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) merekomendasikan vaksin MMR bagi orang dewasa, terutama mereka yang belum mendapatkan vaksinasi lengkap atau tidak memiliki bukti kekebalan.

Kelompok prioritas juga mencakup tenaga kesehatan, pelaku perjalanan, hingga individu yang tinggal di area padat.

Mendukung upaya pencegahan yang tengah dilakukan, County Medical Lead MSD Indonesia, dr. Amrilmaen Badawi, MBiomedSc, menekankan pentingnya akses terhadap informasi kesehatan yang akurat agar masyarakat dapat memahami risiko penyakit yang dapat dicegah dan pentingnya perlindungan sejak dini.

Dia bilang, kasus campak yang kembali menjadi sorotan menunjukkan, edukasi kesehatan tidak cukup berhenti pada awareness semata. Langkah perlindungan salah satunya melalui imunisasi perlu dilihat sebagai tanggung jawab bersama.

"Karenanya, memastikan imunisasi lengkap dan mencari informasi dari sumber terpercaya menjadi langkah penting dalam upaya menjaga kesehatan diri, keluarga, dan lingkungan sekitar," beber dr. Amril.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

Oppo A7 Pro Max Rilis, Penerus Oppo A7 Ini Pamerkan Daya 10.000mAh!

Kapasitas baterai jumbo 10.000mAh dan fast charging 80W resmi hadir. Cek peningkatan signifikan fitur baterainya di artikel ini.

Sering Kesemutan? Waspadai Gejala Saraf Kejepit, Ini 8 Cara Efektif Mencegahnya

Nyeri punggung dan tangan kesemutan bisa jadi tanda saraf kejepit. Ketahui strategi pencegahannya secara tepat untuk mengurangi risiko seriusnya.

Net Sell Mencapai Rp 759 Miliar, Saham-saham Ini Paling Banyak Dilepas Asing (3/8)

Tercatat pada perdagangan Senin, 3 Agustus 2026, asing mencatatkan nilai jual bersih (net sell) Rp 759 miliar di pasar reguler. 

Bukan Cuma Kolesterol Tinggi, Makan Mie Instan juga Picu Berbagai Penyakit!

Minyak penggorengan yang dipakai mie instan kaya lemak trans yang menurunkan kolesterol baik. Cek dampaknya pada pembuluh darah di sini.

Spesial Kemerdekaan! Serbu Promo A&W Sharing Meal Paket Ramean Mulai 100 Ribuan

Kumpul bareng teman atau keluarga kini lebih terjangkau dengan memanfaatkan promo A&W Sharing Meal berisikan menu paket lengkap yang lebih hemat.  

Minum Susu Picu Gula Darah Tinggi? Cegah Kerusakan Otak Langkah Berikut!

Kandungan karbohidrat dalam susu sapi terurai menjadi gula di darah. Pelajari jam konsumsi dan pilihan alternatifnya di sini.

Promo HokBen x Yup Kemerdekaan, Ada Harga Spesial Rp 4.100 & Diskon hingga 50%

Sambut HUT RI ke-81 dengan promo HokBen kolaborasi Yup yang menawarkan harga spesial Rp 4.100 dan diskon hingga 50%.

Daya Baterai 7000mAh Realme GT 7T Siap Libas Sesi Gaming Seharian

Baterai jumbo 7000mAh dan fast charging 120W kini hadir di Realme GT 7T. Cari tahu ketahanan performanya untuk gaming seharian di sini.

Serum Vitamin C: Pemakaian Rutin Ampuh Samarkan Flek Hitam dan Kulit Kusam

Pemakaian rutin serum vitamin C ampuh menyamarkan flek hitam dan kusam. Pelajari cara memilih produk yang tepat di artikel ini.  

5 Manfaat Teh Bunga Osmanthus untuk Kesehatan Pencernaan hingga Melindungi Kulit

Teh bunga osmanthus tak hanya memiliki aroma lembut yang menenangkan, tetapi juga kaya antioksidan. Ketahui beragam manfaatnya di sini!