MOMSMONEY.ID - Siapkan dana darurat keluarga 2026 dengan target realistis, cara menabung bertahap, dan strategi menjaga keuangan saat ekonomi berubah.
Kondisi ekonomi yang berubah ubah membuat dana darurat semakin penting untuk dimiliki setiap keluarga di Indonesia.
Bukan karena masyarakat harus menebak kapan resesi terjadi, melainkan karena kebutuhan mendadak seperti kehilangan penghasilan, biaya kesehatan, atau perbaikan rumah bisa datang tanpa pemberitahuan.
Bank Indonesia pada Agustus 2026 mempertahankan BI Rate sebesar 5,75% di tengah ketidakpastian global dan tetap menargetkan inflasi 2026 serta 2027 pada kisaran 2,5% ± 1%.
Melansir dari bi.go.id, situasi tersebut menunjukkan pentingnya menjaga ketahanan keuangan sekaligus likuiditas rumah tangga.
“Konsistensi, likuiditas, dan target yang realistis lebih penting daripada mencoba menebak kapan resesi global terjadi,” dikutip dari bi.go.id.
Baca Juga: Cara Atur Uang Pakai Kakeibo, Bisa Dipakai Mahasiswa sampai Ibu Rumah Tangga
Mulai dari angka yang sanggup dicapai
Dana darurat tidak harus langsung puluhan juta rupiah. Cara paling realistis adalah menghitung kebutuhan pokok selama satu bulan, kemudian menjadikannya patokan.
Pengeluaran yang perlu dihitung meliputi makanan, tempat tinggal, listrik, internet, transportasi, biaya kesehatan, cicilan minimum, pendidikan, serta kebutuhan anggota keluarga yang menjadi tanggungan.
Misalnya kebutuhan pokok keluarga mencapai Rp6 juta per bulan. Targetnya dapat dibuat bertahap, mulai dari Rp1 juta sampai Rp3 juta sebagai cadangan awal, Rp18 juta untuk tiga bulan, hingga Rp36 juta untuk enam bulan.
Bagi pekerja dengan pendapatan tidak tetap atau keluarga yang hanya memiliki satu sumber penghasilan, cadangan sembilan sampai 12 bulan dapat dipertimbangkan.
Pisahkan dana darurat dari uang harian
Salah satu cara sederhana agar tabungan tidak mudah terpakai adalah membuat rekening khusus. Dana tersebut sebaiknya tidak bercampur dengan uang belanja, cicilan, maupun kebutuhan hiburan. Urutan targetnya bisa dibuat seperti berikut:
- Kumpulkan dana untuk menghadapi satu kebutuhan mendesak.
- Tingkatkan hingga setara satu bulan pengeluaran pokok.
- Kejar target tiga bulan.
- Tambahkan hingga enam bulan atau lebih sesuai kondisi pekerjaan dan jumlah tanggungan.
Jika mampu menyisihkan Rp100.000 setiap minggu, misalnya, dalam setahun terkumpul sekitar Rp5,2 juta sebelum memperhitungkan bunga.
Utamakan uang yang mudah diakses
Dana darurat berbeda dengan investasi jangka panjang. Ketika membutuhkan uang untuk keadaan mendesak, akses cepat lebih penting daripada mengejar keuntungan tinggi.
Sebagian dana dapat disimpan dalam rekening tabungan terpisah. Sejumlah uang tunai juga bisa disediakan untuk kebutuhan jangka pendek.
Sementara dana yang diperkirakan belum digunakan dalam waktu dekat dapat ditempatkan pada instrumen berisiko rendah dengan memperhatikan ketentuan pencairannya.
LPS menetapkan tingkat bunga penjaminan simpanan rupiah bank umum sebesar 3,75% untuk periode 1 Juli sampai 30 September 2026. Ketentuan dan batas penjaminan tetap perlu diperiksa secara berkala melalui informasi resmi LPS.
Baca Juga: Merasa Keuangan Aman? 3 Tanda Ini Bisa Membuktikan Kondisi Sebenarnya
Jangan abaikan kenaikan biaya hidup
Target dana darurat perlu diperbarui secara berkala. Jika harga kebutuhan rumah tangga, sewa, sekolah, atau biaya kesehatan meningkat, jumlah cadangan juga sebaiknya ikut disesuaikan.
Pemeriksaan sederhana dapat dilakukan setiap tiga sampai enam bulan. Dengan begitu, target yang awalnya dianggap cukup tidak tertinggal oleh perubahan pengeluaran keluarga.
Mengutip dari bi.go.id, sasaran inflasi Indonesia pada 2026 dan 2027 berada pada kisaran 2,5% ± 1%, sehingga perencanaan keuangan tetap perlu memperhitungkan perubahan daya beli.
Atur pengeluaran tanpa menyiksa diri
Menabung lebih banyak tidak selalu berarti memangkas seluruh kesenangan. Yang lebih penting adalah menemukan pengeluaran yang bisa dikurangi secara konsisten. Beberapa langkah yang dapat dicoba:
- Kurangi langganan yang jarang digunakan.
- Rencanakan belanja makanan mingguan.
- Sisihkan bonus atau pendapatan tambahan.
- Jual barang rumah tangga yang tidak terpakai.
- Buat pos terpisah untuk biaya tahunan.
- Hindari menambah utang konsumtif untuk kebutuhan yang tidak mendesak.
Siapkan dana sebelum keadaan memaksa
Dana darurat sebaiknya digunakan untuk kehilangan pekerjaan, gangguan penghasilan, kebutuhan medis mendesak, perbaikan rumah atau kendaraan yang penting, serta kebutuhan keluarga yang benar benar tidak dapat ditunda.
Sementara itu, biaya seperti liburan, belanja rutin, servis kendaraan berkala, premi tahunan, atau kebutuhan hari raya sebaiknya memiliki tabungan khusus.
Pada akhirnya, membangun dana darurat bukan tentang memprediksi masa depan ekonomi. Yang lebih penting adalah membuat keluarga memiliki waktu untuk bernapas ketika penghasilan terganggu.
Bahkan Rp250.000 yang disisihkan setiap bulan bisa menjadi awal. Jika dilakukan terus menerus dan targetnya dinaikkan secara bertahap, bantalan keuangan keluarga akan semakin kuat menghadapi kondisi yang tidak terduga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News