MOMSMONEY.ID - Istilah angin duduk sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Namun, banyak orang masih menganggap kondisi tersebut sama dengan masuk angin biasa.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr. Febtusia Puspitasari, Sp.JP(K), FIHA, FAsCC, menjelaskan, istilah angin duduk berasal dari kata angina, yang dalam bahasa Yunani kuno berarti “mencekik” atau “menyempit”.
“Dalam dunia kedokteran dikenal istilah angina pectoris, yaitu nyeri dada akibat berkurangnya aliran darah ke otot jantung. Keluhannya sering digambarkan seperti dada ditekan benda berat, terasa sesak, sempit, atau seperti tercekik,” ujarnya dalam sesi edukasi media yang digelar Daewoong Pharmaceutical Indonesia dan PERKI di Jakarta, Selasa (9/6).
Menurut Febtusia, istilah “angin duduk” kemungkinan muncul karena penderita sering kali tidak nyaman berbaring saat mengalami serangan. Mereka cenderung memilih duduk untuk membantu pernapasan menjadi lebih lega.
Baca Juga: Kenali 5 Penyebab Depresi, Pemicu Tak Terduga Ini Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Bukan masuk angin
Febtusia menegaskan, angin duduk berbeda dengan masuk angin yang kerap dikaitkan dengan kelelahan, terlambat makan, atau paparan cuaca dingin.
“Angin duduk bukan karena kebanyakan makan, masuk angin, atau kondisi sepele lainnya. Ini merupakan gejala gangguan pada jantung yang perlu diwaspadai,” katanya.
Ia menjelaskan, jantung merupakan organ vital yang berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh. Meski ukurannya hanya sebesar kepalan tangan, jantung bekerja tanpa henti untuk mengalirkan oksigen dan nutrisi ke seluruh organ.
Agar dapat bekerja dengan baik, otot jantung membutuhkan pasokan darah dari pembuluh darah koroner. Masalah muncul ketika pembuluh darah tersebut mengalami penyempitan atau penyumbatan.
Baca Juga: Hindari Cedera Saat Olahraga di Musim Dingin, Perhatikan 5 Tips Aman Ini
Penyebab angin duduk
Penyempitan pembuluh darah koroner umumnya terjadi akibat penumpukan plak lemak atau kolesterol di dinding pembuluh darah.
Menurut Febtusia, proses ini mirip kerak yang menempel di dalam pipa air. Semakin lama, tumpukan tersebut membuat saluran semakin sempit sehingga aliran darah menjadi terganggu.
Ketika suplai oksigen ke otot jantung berkurang, jantung akan memberikan sinyal berupa nyeri dada atau rasa tidak nyaman.
“Kalau otot jantung kekurangan oksigen, dia seperti berteriak meminta pertolongan. Itulah yang dirasakan sebagai angina atau angin duduk,” katanya.
Jika kondisi tersebut tidak segera ditangani, jaringan otot jantung dapat mengalami kerusakan permanen hingga kematian sel, yang dikenal sebagai serangan jantung.
Baca Juga: Promo Wingstop Makan Gratis 1 Tahun: Hanya di 12 Outlet Ini, Catat Tanggalnya
Faktor risiko yang perlu diwaspadai
Febtusia menyebutkan, sejumlah faktor yang dapat mempercepat kerusakan pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyumbatan, antara lain karena kolesterol tinggi terutama LDL (kolesterol jahat), hipertensi atau tekanan darah tinggi, diabetes melitus, obesitas, merokok, kurang aktivitas fisik, dan riwayat penyakit jantung dalam keluarga.
Menurut dia, penderita diabetes dan hipertensi memiliki risiko lebih tinggi karena kedua kondisi tersebut dapat merusak lapisan dalam pembuluh darah sehingga kolesterol lebih mudah menempel.
Sementara kebiasaan merokok membuat kemampuan darah mengangkut oksigen menjadi terganggu. Akibatnya, jaringan tubuh termasuk jantung lebih mudah mengalami kerusakan.
Baca Juga: Risiko Kecanduan Media Sosial, Waspadai 5 Efek Buruknya bagi Hidup Anda
Gejala tidak selalu nyeri dada
Banyak orang mengira serangan jantung selalu ditandai nyeri dada hebat di sisi kiri. Padahal, gejalanya bisa sangat beragam.
Febtusia mengatakan gejala khas memang berupa nyeri dada seperti ditekan benda berat yang menjalar ke lengan kiri, rahang, leher, punggung, atau ulu hati.
Namun dalam praktiknya, hanya sekitar 20% hingga 30% pasien yang mengalami gejala khas tersebut.
“Banyak pasien datang hanya mengeluh cepat lelah, mudah sesak saat naik tangga, atau aktivitas yang sebelumnya ringan tiba-tiba terasa berat,” ujarnya.
Gejala lain yang perlu diwaspadai seeprti sesak napas, keringat dingin, mual, mudah lelah, jantung berdebar, hingga nyeri atau rasa tidak nyaman di dada.
Baca Juga: iOS 27 Segera Rilis, Siri Baru jadi Asisten AI Paling Dinanti
Pentingnya deteksi dini
Untuk mencegah penyakit jantung, Febtusia menganjurkan masyarakat melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Menurut rekomendasi WHO, pemeriksaan kadar kolesterol sudah dapat dilakukan sejak usia 20 tahun, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga penyakit jantung, perokok, diabetes, atau hipertensi.
Selain itu, perubahan gaya hidup menjadi langkah utama untuk menekan risiko penyakit jantung.
“Berhenti merokok, rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, mengontrol tekanan darah, gula darah, dan kolesterol merupakan langkah yang sangat penting,” katanya.
Ia menyarankan olahraga dilakukan secara teratur minimal 30 menit sebanyak tiga hingga lima kali per minggu, bukan hanya sesekali dengan durasi panjang.
Menurut Febtusia, tujuan menjaga kesehatan jantung bukan sekadar memperpanjang usia, tetapi memastikan seseorang tetap sehat, produktif, dan tidak bergantung pada orang lain saat memasuki usia lanjut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News