M O M S M O N E Y I D
AturUang

Ketika Balas Budi Anak Tak Lagi Menjadi Rencana Pensiun Orangtua

Ketika Balas Budi Anak Tak Lagi Menjadi Rencana Pensiun Orangtua
Reporter: Danielisa Putriadita  |  Editor: Danielisa Putriadita


MOMSMONEY.ID - Selama bertahun-tahun, di antara masyarakat Asia termasuk Indonesia, terdapat sebuah kesepakatan tak tertulis antara anak dan orang tua. Salah satunya, orang tua memberikan bekal berupa pendidikan dan warisan harta, dan anak membalas budi dengan menjadi penyokong hidup orang tua hingga tutup usia.

Cara pandang ini lahir dari kondisi sosial dan ekonomi yang sangat berbeda dengan saat ini. Pada masa ketika sistem pensiun belum berkembang luas dan akses terhadap layanan kesehatan masih terbatas, keluarga menjadi sistem perlindungan utama. Anak-anak tumbuh dengan pemahaman bahwa merawat orang tua di masa tua adalah bagian alami dari siklus kehidupan dan bentuk balas budi atas pengorbanan yang telah diberikan.

Afifa, CEO & President Director Manulife Aset Manajemen Indonesia, menegaskan seiring berkembangnya masyarakat, muncul aspirasi baru yang tidak menggantikan nilai kekeluargaan, melainkan memperluas maknanya. Perubahan terbesar terjadi karena satu fakta sederhana: manusia hidup lebih lama dibandingkan generasi sebelumnya.

"Kemajuan teknologi kesehatan, peningkatan kualitas hidup, serta akses informasi yang lebih baik membuat harapan hidup terus meningkat di banyak negara, termasuk Indonesia. Artinya, perencanaan keuangan dan kesehatan menjadi semakin penting untuk menjaga kualitas hidup di masa tua,” kata Afifa dalam keterangan tertulis, Senin (10/8). 

Menurut data World Bank, usia harapan hidup orang Indonesia terus bertambah dari sekitar 53 tahun di 1970-an, hingga mencapai 71 tahun pada 2024. Konsekuensinya, periode “balas budi” anak semakin panjang, membatasi kemerdekaannya untuk membina hidup sendiri bersama keluarga kecilnya. 

Baca Juga: Risiko Pensiun Muda Terlalu Cepat, Bisa Jadi Beban di Masa Depan Lo

Lahirlah sandwich generation, generasi pergi pagi pulang tengah malam, yang harus berjuang puluhan tahun menyokong hidup orang tuanya. Pada saat yang sama, generasi muda juga menghadapi realitas yang berbeda. 

Mereka memasuki dunia kerja yang lebih dinamis, menghadapi biaya hidup yang meningkat, harga properti yang semakin tinggi, kebutuhan pendidikan yang terus berkembang, serta tuntutan untuk terus meningkatkan keterampilan di tengah perubahan ekonomi yang cepat. 

Untunglah, paham tradisional yang menjebak ini mulai bergeser. Kini kemandirian orang tua yang dianggap sebagai warisan paling berharga bagi anak-anaknya.

Asia Care Survey 2026 yang digagas Manulife dan melibatkan 9.000 responden di Asia termasuk Indonesia, menemukan bahwa 93% responden Indonesia meyakini kemandirian merupakan warisan paling bermakna yang dapat mereka tinggalkan bagi keluarga. Angka ini merupakan yang tertinggi di Asia dan berada jauh di atas rata-rata regional sebesar 82%.

"Saat ini tumbuh paham modern yang mengedepankan kemandirian orang tua dan kebebasan anak menjalani hidup mereka sebagai warisan. Saat orang tua dapat hidup mandiri di masa tuanya, generasi penerus bebas untuk membuat pilihan hidup tanpa beban karena harus berperan sebagai penyokong hidup orang tua di masa tua," jelas Afifa.

Tak lagi berfokus pada warisan berupa harta yang datang sepaket dengan tuntutan balas budi dari anak-anaknya, orang tua di Asia termasuk Indonesia kini mendefinisikan ulang arti pensiun. Hidup tidak lagi terbagi tegas antara fase bekerja dan berhenti, melainkan menjadi spektrum yang lebih cair, di mana makna dan relevansi terus dipelihara. Di sinilah kesehatan fisik dan kemapanan finansial menjadi modal untuk terus melaju melampaui batasan usia pensiun.

Tentunya untuk dapat mengaplikasikan niat mulia ini tak cukup punya niat. Harus ada dana yang dirintis melalui perencanaan dan disiplin finansial yang diterapkan sedini mungkin. Kemandirian orang tua dan kebebasan generasi penerus perlu dipersiapkan, direncanakan, dan dibangun dari waktu ke waktu. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

Hujan Lebat Tetap Turun di Provinsi Ini, Cek Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (5/9)

BMKG memberikan peringatan dini cuaca besok Sabtu 5 September 2026 dengan status Waspada hujan lebat cuma di provinsi berikut ini.

Ke Ideafest 2026, Pengunjung Bisa Belajar Pilah Sampah juga lo

​Indofood bersama Rekosistem menyediakan 15 titik pengumpulan sampah di area Ideafest 2026 untuk mengajak pengunjung belajar memilah sampah.

Cek Prakiraan Cuaca DKI Jakarta di Akhir Pekan, Dominan Cerah dan Berawan

​BMKG memperkirakan cuaca besok di wilayah DKI Jakarta akan didominasi cuaca berawan, sementara lusa akan cerah di seluruh wilayah.

Keliling Yogyakarta Akhir Pekan? Simak Prakiraan Cuaca Besok (5/9) dan Lusa

BMKG memprakirakan cuaca wilayah Yogyakarta, besok (5/9), didominasi udara kabur dan berawan. Cek selengkapnya!

Akhir Pekan Berpotensi Hujan, Pantau Cuaca Sumatera Utara Besok (5/9) dan Lusa

Sejumlah wilayah Sumut berpotensi hujan ringan besok (5/9) dan lusa. Suhu udara diprakirakan mencapai 35°C di beberapa daerah.

Digitalisasi Alur Kerja Klinis, Kaiser Cancer Center Adosi EpiSoft

Kaiser Cancer Center mengimplementasikan EpiSoft, platform rekam medis elektronik khusus onkologi yang dikembangkan di Australia.​

Prakiraan Cuaca Banten di Akhir Pekan, Cerah dan Berawan

​BMKG memperkirakan cuaca besok di seluruh wilayah DKI Jakarta akan berawan, sementara lusa akan cerah.

Promo Hypermart Beli Banyak Lebih Hemat 4-10 September 2026, Kispray Beli 2 Gratis 1

Cek dan manfaatkan katalog promo Hypermart Beli Banyak Lebih Hemat periode 4-10 September 2026 di sini.

Suhu Capai 36°C, Begini Prakiraan Cuaca Sumatera Selatan Besok (5/9) dan Lusa

BMKG memprakirakan suhu Sumatera Selatan besok (5/9) bisa mencapai 36°C. Lusa, suhu tertinggi masih mencapai 35°C di sejumlah daerah.

Akhir Pekan Berawan, Intip Prakiraan Cuaca Sumatera Barat Besok (5/9) dan Lusa

Cuaca Sumatera Barat besok (5/9) cukup didominasi cerah. Namun, lusa hampir seluruh wilayah diprakirakan berawan menurut BMKG.