MOMSMONEY.ID - Penipuan berbasis AI kini tak lagi mudah dikenali hanya dari pesan atau tautan yang mencurigakan, lo. Begini skema yang harus diwaspadai.
Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membuat suara, wajah, hingga materi digital yang tampak seperti berasal dari sumber resmi.
Kondisi ini membuat masyarakat perlu lebih teliti sebelum mempercayai informasi yang berkaitan dengan data pribadi dan transaksi keuangan.
Melansir dari OCBC, perkembangan AI juga perlu diikuti kewaspadaan karena teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk meniru identitas seseorang.
“Teknologi AI memiliki potensi digunakan dalam penipuan dengan membuat tiruan suara dan tiruan wajah,” ujar Satgas PASTI OJK dikutip dari OCBC.
Penipuan berbasis AI semakin sulit dikenali
Kemajuan AI memberikan peluang bagi pelaku untuk membuat konten palsu dengan tampilan yang lebih meyakinkan. Logo, warna, tulisan, foto, suara, bahkan video dapat dibuat atau dimanipulasi sehingga sekilas tampak asli.
Baca Juga: 10 Keterampilan Finansial yang Bisa Membuka Peluang Penghasilan Lebih Besar
Karena itu, jangan menjadikan tampilan sebagai satu satunya patokan. Informasi yang terlihat profesional belum tentu berasal dari pihak resmi.
Waspadai promosi palsu yang terlihat resmi
Salah satu modus yang perlu diperhatikan adalah promosi palsu. Pelaku dapat membuat materi yang menyerupai informasi resmi, lalu menyebarkannya melalui media sosial, pesan instan, atau grup percakapan.
Korban biasanya diarahkan membuka tautan tertentu dengan alasan mendapatkan penawaran atau melakukan verifikasi. Setelah itu, korban bisa diminta mengisi nama, NIK, tanggal lahir, nomor kartu, CVV, PIN, password, hingga OTP.
Jangan mudah percaya hanya karena sebuah promosi terlihat meyakinkan. Periksa alamat situs dan cari informasi melalui kanal resmi yang dapat diverifikasi.
Deepfake dapat meniru wajah dan suara
Deepfake adalah teknologi yang dapat digunakan untuk memanipulasi wajah atau suara seseorang. Dalam praktik penipuan, pelaku dapat berpura pura menjadi petugas layanan keuangan melalui telepon atau video call.
Hal yang membuat modus ini berbahaya adalah korban bisa merasa mengenali orang yang sedang berbicara dengannya. Padahal, wajah dan suara yang terlihat familiar belum tentu membuktikan identitas sebenarnya.
Jika penelepon meminta OTP, PIN, password, CVV, transfer uang, atau meminta Anda membuka aplikasi tertentu, segera hentikan komunikasi dan lakukan verifikasi melalui kanal resmi.
Ciri penipuan deepfake yang perlu diwaspadai
Beberapa tanda berikut patut menjadi perhatian:
- Penelepon tiba tiba mengaku sebagai petugas bank.
- Anda diminta memberikan data rahasia.
- Penelepon meminta transfer dengan alasan mendesak.
- Anda diarahkan membuka aplikasi atau membagikan layar.
- Penelepon membuat Anda panik agar segera mengambil keputusan.
- Suara memiliki jeda atau intonasi yang terasa tidak wajar.
- Gerakan wajah atau bibir terlihat kurang natural.
- Informasi yang diberikan tidak bisa dikonfirmasi melalui kanal resmi.
Satu tanda saja belum tentu membuktikan penipuan. Namun, beberapa tanda yang muncul bersamaan sebaiknya tidak diabaikan.
Baca Juga: Cara Buka Blokir m-BCA, KlikBCA, dan OneKlik Lewat Aplikasi haloBCA
Cara melindungi diri dari penipuan berbasis AI
Kebiasaan sederhana dapat membantu mengurangi risiko menjadi korban. Jangan langsung bertindak ketika menerima pesan atau panggilan yang meminta informasi pribadi. Lakukan langkah berikut:
- Jangan memberikan OTP, PIN, password, atau CVV kepada siapa pun.
- Hindari mengeklik tautan yang sumbernya belum jelas.
- Cari sendiri kontak resmi untuk melakukan verifikasi.
- Jangan membagikan layar kepada orang yang tidak dikenal.
- Aktifkan notifikasi transaksi agar aktivitas mencurigakan cepat diketahui.
- Simpan bukti percakapan jika menemukan dugaan penipuan.
- Segera laporkan jika sudah terlanjur memberikan data atau melakukan transaksi.
Jangan mudah percaya hanya karena terlihat nyata
Perkembangan AI memang membawa banyak manfaat, tetapi teknologi yang sama dapat digunakan untuk membuat penipuan semakin meyakinkan.
Anda perlu membangun kebiasaan digital yang lebih kritis, terutama ketika informasi berkaitan dengan uang dan data pribadi.
Jangan panik, jangan terburu buru, dan selalu lakukan verifikasi melalui sumber resmi. Di era ketika wajah dan suara dapat ditiru menggunakan teknologi, berhenti sejenak sebelum percaya bisa menjadi langkah sederhana untuk mencegah kerugian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News