MOMSMONEY.ID - Punya saldo ratusan juta tapi Anda tetap merasa miskin? Kenali money dysmorphia, penyebab, tanda, dan cara mengatasinya.
Punya tabungan Rp300 juta, tetapi masih takut uang habis setiap kali ingin membeli sesuatu? Kondisi seperti ini ternyata bisa terjadi, bahkan ketika secara angka seseorang sebenarnya cukup aman secara finansial.
Fenomena tersebut sering disebut money dysmorphia, yaitu kondisi ketika cara seseorang memandang keuangannya tidak sesuai dengan keadaan finansial yang sebenarnya.
Apa itu money dysmorphia?
Melansir dari Investopedia, money dysmorphia bukan diagnosis medis atau gangguan mental resmi. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kesenjangan antara kondisi keuangan seseorang dengan persepsinya terhadap uang.
Baca Juga: 5 Tujuan Kebebasan Finansial yang Dikejar Orang Kaya dan Jarang Banget Dibahas
Seseorang bisa memiliki tabungan besar, pendapatan stabil, dan kebutuhan yang terpenuhi, tetapi tetap merasa dirinya miskin. Sebaliknya, ada pula orang yang merasa mampu membeli banyak hal meski kondisi keuangannya sebenarnya terbatas.
Jadi, besar kecilnya saldo belum tentu menggambarkan seberapa aman seseorang merasa dengan kondisi finansialnya.
Kenapa tetap merasa miskin meski punya uang?
Salah satu pemicunya adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Media sosial membuat seseorang mudah melihat rumah baru, mobil, liburan, hingga gaya hidup mewah yang terlihat normal di linimasa.
Masalahnya, kondisi keuangan di balik unggahan tersebut tidak terlihat. Orang yang tampak serba berkecukupan bisa saja memiliki cicilan dan kewajiban finansial yang besar.
Pengalaman masa lalu juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang uang. Mereka yang pernah mengalami kesulitan ekonomi atau ketidakstabilan finansial bisa membawa rasa takut kekurangan sampai bertahun-tahun kemudian.
Tanda money dysmorphia yang perlu diperhatikan
Beberapa pola yang bisa menjadi perhatian antara lain:
- Tetap merasa kekurangan meski kebutuhan utama terpenuhi.
- Takut menggunakan uang untuk kebutuhan yang sebenarnya mampu dibayar.
- Merasa bersalah setiap kali mengeluarkan uang.
- Menghindari mengecek rekening karena takut melihat kondisi keuangan.
- Berbelanja demi mengikuti gaya hidup lingkungan.
- Sulit membedakan menabung secara sehat dengan menimbun uang karena takut kehabisan.
Contoh: punya Rp300 juta tapi tetap merasa miskin
Bayangkan seseorang memiliki dana Rp300 juta, tidak mempunyai utang konsumtif, dan membutuhkan Rp10 juta per bulan untuk biaya hidup.
Secara sederhana, Rp300 juta setara dengan 30 bulan biaya hidup. Namun, angka tersebut belum otomatis berarti kondisi finansialnya aman. Masih ada faktor lain seperti pendapatan, tanggungan keluarga, kebutuhan kesehatan, tujuan keuangan, serta dana darurat.
Baca Juga: 5 Cara Punya Uang Rp1 Miliar dari Gaji Menengah secara Bertahap dan Terukur
Jika secara objektif kebutuhannya terpenuhi tetapi ia tetap merasa tidak punya uang hanya karena melihat orang lain membeli rumah atau mobil, bisa jadi masalahnya bukan sekadar nominal saldo.
Cara mengubah pola pikir terhadap uang
Mulailah dengan melihat kondisi finansial berdasarkan angka, bukan sekadar perasaan. Catat pendapatan, pengeluaran, utang, tabungan, aset, dan kebutuhan rutin.
Kemudian buat batas yang jelas antara uang untuk kebutuhan, tabungan, tujuan finansial, dan hiburan. Dengan begitu, menggunakan sebagian uang untuk menikmati hasil kerja tidak selalu harus dianggap sebagai kesalahan.
Kebiasaan membandingkan diri di media sosial juga perlu dikurangi. Sebelum membeli sesuatu, coba tanyakan kenapa barang ini memang saya butuhkan atau hanya ingin terlihat mampu seperti orang lain?
Jika rasa takut terhadap uang sudah mengganggu kehidupan sehari-hari atau membuat keputusan finansial menjadi sangat sulit, berkonsultasi dengan tenaga profesional dapat menjadi pilihan.
Literasi keuangan Indonesia terus meningkat
Fenomena ini semakin cocok ketika beberapa orang di Indonesia semakin banyak menggunakan produk dan layanan keuangan.
Berdasarkan hasil SNLIK 2025 OJK dan BPS, indeks literasi keuangan Indonesia mencapai 66,46%, sementara indeks inklusi keuangan mencapai 80,51%.
Angka tersebut menunjukkan bahwa memiliki akses ke layanan keuangan dan memahami cara menggunakannya merupakan dua hal yang berbeda.
Menurut NerdWallet, literasi keuangan juga berkaitan dengan kemampuan mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan, kemampuan, dan tujuan pribadi.
Money dysmorphia memperlihatkan bahwa jumlah uang dan rasa aman secara finansial tidak selalu berjalan beriringan.
Seseorang bisa memiliki ratusan juta rupiah, tetapi tetap merasa miskin karena pengalaman masa lalu, kecemasan, atau kebiasaan membandingkan diri.
Karena itu, jangan hanya bertanya “berapa saldo saya?”. Lebih penting melihat apakah pemasukan, pengeluaran, utang, tabungan, dan tujuan keuangan sudah berada dalam kondisi yang realistis.
Dari sana, standar “cukup” bisa dibangun berdasarkan kehidupan sendiri, bukan berdasarkan apa yang terlihat di media sosial.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News