MOMSMONEY.ID - Eksfoliasi menjadi salah satu langkah paling populer dalam rutinitas perawatan kulit. Namun, di balik popularitasnya, masih banyak kesalahpahaman dan mitos yang beredar di masyarakat sehingga berisiko merusak kesehatan kulit.
Eksfoliasi harus dilakukan dengan pemahaman yang benar agar tidak merusak lapisan pelindung kulit (skin barrier).
Banyak orang mengira semakin sering eksfoliasi, maka kulit akan semakin bersih dan mulus. Padahal, asumsi tersebut adalah kekeliruan besar alias mitos belaka.
Baca Juga: Anak Sering Gonta-ganti Minat? Psikolog Ungkap Cara Orang Tua Menyikapinya
Jangan percaya, ini 4 mitos tentang eksfoliasi kulit yang perlu Anda ketahui sebagaimana dilansir dari Healthline dan Dermatology Times.
1. Semakin Sering Eksfoliasi, Kulit Semakin Bersih dan Mulus
Banyak orang percaya bahwa melakukan eksfoliasi setiap hari akan mempercepat proses pergantian sel kulit sehingga wajah tampak glowing. Fakta medis justru menunjukkan sebaliknya.
Eksfoliasi yang berlebihan (over-exfoliation) dapat mengikis skin barrier, menghilangkan minyak alami kulit, dan memicu iritasi berat. Dampaknya, kulit bisa mengalami kemerahan, rasa terbakar, pengelupasan berlebih, hingga timbulnya jerawat akibat reaksi peradangan.
Para ahli dermatologi menyarankan eksfoliasi cukup dilakukan 1 hingga 3 kali seminggu, sesuai jenis dan sensitivitas kulit masing-masing.
2. Physical Scrub Lebih Efektif Dibandingkan Chemical Exfoliator
Ada anggapan umum bahwa eksfoliasi baru dianggap "bekerja" jika kita merasakan butiran scrub di kulit secara langsung.
Padahal, physical scrub dengan butiran kasar atau tidak merata dapat menyebabkan micro-tears atau robekan halus yang tak kasat mata pada permukaan kulit. Robekan mikroskopis ini bisa menjadi pintu masuk bagi bakteri dan memicu peradangan.
Sebaliknya, chemical exfoliator seperti AHA dan BHA mampu bekerja secara lebih lembut dan efektif dengan cara memutus ikatan kimia sel kulit mati tanpa perlu menggosok kulit secara kasar.
Baca Juga: 4 Zodiak Paling Banyak di Dunia dan Alasannya, Virgo Termasuk!
3. Eksfoliasi Hanya Dibutuhkan oleh Pemilik Kulit Berminyak dan Berjerawat
Mitos ini membuat pemilik kulit kering atau sensitif sering kali menghindari eksfoliasi sama sekali karena takut kulitnya semakin kering. Faktanya, semua jenis kulit memproduksi sel kulit mati yang perlu diangkat secara berkala.
Kulit kering yang dipenuhi sel kulit mati justru akan terlihat kusam, kasar, dan sulit menyerap produk skincare apapun.
Kuncinya terletak pada pemilihan bahan aktif yang tepat. Pemilik kulit kering dan sensitif tetap membutuhkan eksfoliasi, namun lebih disarankan menggunakan chemical exfoliator yang lembut seperti Polyhydroxy Acid (PHA) atau AHA konsentrasi rendah yang juga memiliki sifat menjaga kelembapan kulit (humektan).
4. Sensasi Cekit-Cekit atau Panas adalah Tanda Produk Sedang Bekerja
Tidak sedikit orang yang menganggap rasa perih, panas, atau cekit-cekit (tingling) saat mengaplikasikan produk eksfoliasi sebagai pertanda positif bahwa bahan aktifnya meresap dengan baik.
Namun, secara dermatologis, rasa terbakar atau cekit-cekit yang kuat dan bertahan lama adalah sinyal iritasi atau ketidakcocokan kulit terhadap formula produk tersebut.
Meskipun sedikit sensasi cekit-cekit tergolong wajar pada penggunaan asam berkonsentrasi tinggi, namun rasa tidak nyaman yang berlebihan menandakan bahwa skin barrier sedang mengalami krisis. Jika hal ini terjadi, penggunaan produk harus segera dihentikan dan dibilas dengan air bersih untuk mencegah kerusakan kulit yang lebih parah.
Memahami fakta di balik eksfoliasi adalah langkah penting untuk mendapatkan kulit yang sehat, cerah, dan terawat. Dengan meninggalkan mitos-mitos di atas dan memilih metode serta frekuensi yang tepat, Anda dapat mengoptimalkan manfaat eksfoliasi tanpa merusak pertahanan alami kulit.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News