MOMSMONEY.ID - Bisnis yang mulai ramai tentu menjadi kabar baik bagi pemilik usaha. Namun, semakin banyak pesanan, produk, dan kanal penjualan, semakin besar pula tantangan dalam mengelola operasional.
Jika tidak disiapkan sejak awal, lonjakan permintaan dapat membuat pengelolaan stok dan pesanan menjadi lebih kompleks, terutama saat peak season.
Karena itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pelaku bisnis agar operasional dapat mengikuti pertumbuhan usaha.
Siapkan kapasitas yang fleksibel
Pelaku usaha perlu memastikan proses penyimpanan barang, pengemasan, hingga pemrosesan pesanan dapat menyesuaikan ketika volume transaksi meningkat.
Hal ini penting terutama saat peak season ketika pesanan dapat melonjak dalam waktu singkat. Sistem yang fleksibel dapat membantu bisnis menyesuaikan kapasitas tanpa harus terus-menerus membangun infrastruktur baru.
Baca Juga: Peluang Usaha Kuliner: Kisah Seblak Rumahan yang Tumbuh Berkat Platform Digital
Kelola stok dan pesanan secara terintegrasi
Semakin banyak kanal penjualan yang digunakan, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan data stok dan pesanan tetap akurat.
Teknologi seperti artificial intelligence (AI) dan machine learning (ML) dapat digunakan untuk membantu pengelolaan stok dan pesanan dari berbagai marketplace.
Manfaatkan data untuk membaca kebutuhan bisnis
Data operasional dapat membantu pelaku usaha melihat perubahan permintaan dan menentukan kebutuhan kapasitas. Dengan begitu, keputusan terkait pengelolaan operasional dapat disesuaikan dengan perkembangan bisnis.
FAS, sebagai entitas anak Blibli, menyediakan solusi yang mencakup pengelolaan e-commerce, fullfilment atau pemrosesan pesanan, hingga distribusi offline.
Director of FAS Alvin Hadibowo mengatakan, kapasitas operasional perlu dibuat fleksibel agar dapat mengikuti perubahan bisnis.
Baca Juga: Pelaku Usaha Wajib Tahu, Ini Cara Tingkatkan Daya Saing Produk Kulit dan Alas Kaki
"Pertumbuhan bisnis itu dinamikanya sangat cepat. Dalam kurun waktu singkat, brand bisa mendadak kebanjiran SKU, lonjakan order, atau lonjakan transaksi saat peak season," ujar Alvin dalam keterangan tertulis, Rabu (26/8).
"FAS hadir agar kapasitas operasional brand bisa ikut menyesuaikan kebutuhan tersebut secara fleksibel, tanpa mereka harus terus-menerus membangun gudang baru atau menambah tim sendiri," lanjut Alvin.
FAS menyebutkan, salah satu brand beauty yang menjadi mitranya mengalami kenaikan volume pesanan hingga 5,8 kali lipat dalam lima bulan.
Sementara pada sektor FMCG, solusi FAS disebut mempercepat proses pemrosesan pesanan hingga 70% sekaligus menekan angka pembatalan transaksi hingga 35%.
FAS saat ini menangani mitra dari sejumlah kategori, mulai dari beauty dan FMCG hingga gadget, elektronik rumah tangga, dan fashion.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News