MOMSMONEY.ID - Mau berhenti kerja dan fokus di rumah? Cek kesiapan keuangan, dana darurat, utang, dan rencana hidup dengan satu penghasilan.
Berhenti kerja untuk lebih banyak mengurus rumah atau keluarga bukan keputusan yang cukup dibuat karena sedang lelah dengan rutinitas kantor.
Ada urusan keuangan yang perlu dibereskan lebih dulu karena setelah resign, keluarga mungkin harus berjalan dengan satu penghasilan.
Melansir dari CNBC, beberapa persiapan penting mencakup simulasi hidup dengan satu penghasilan, dana darurat, pengelolaan utang, hingga perlindungan jangka panjang.
Prinsip tersebut bisa menjadi bahan pertimbangan bagi keluarga Indonesia, meski penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi pendapatan, tanggungan, dan sistem perlindungan yang dimiliki.
“Persiapan sebelum berhenti bekerja sebaiknya dilakukan dengan menguji apakah keluarga benar-benar mampu menjalani kehidupan hanya dari satu penghasilan,” menurut panduan keuangan yang dirangkum dari CNBC.
Baca Juga: Mau Bantu Bayar Tagihan Keluarga? Cek Dulu Batas Keuanganmu
Hitung kemampuan hidup dengan satu penghasilan
Sebelum mengajukan resign, coba lihat kondisi keuangan keluarga secara jujur. Catat pengeluaran selama 2–3 bulan terakhir, mulai dari kebutuhan rumah, makanan, transportasi, cicilan, pendidikan, sampai biaya kesehatan.
Setelah itu, buat anggaran baru dengan hanya mengandalkan penghasilan pasangan atau sumber pemasukan utama.
Jangan lupa masukkan pengeluaran yang mungkin berubah setelah resign. Misalnya, biaya transportasi dan makan di luar bisa turun, tetapi biaya listrik, kebutuhan rumah, atau kebutuhan anak mungkin justru meningkat.
Kalau hitungannya masih minus, jangan dipaksakan. Itu tanda bahwa anggaran perlu diperbaiki sebelum keputusan berhenti kerja diambil.
Coba hidup dari satu penghasilan selama 3–6 bulan
Daripada sekadar menghitung di atas kertas, lakukan simulasi sungguhan. Selama 3–6 bulan, anggap penghasilan yang akan ditinggalkan sudah tidak ada.
Jika masih menerima gaji, alihkan sebagian besar atau seluruhnya ke rekening tabungan dan jalankan kebutuhan rumah tangga dari penghasilan utama.
Cara ini cukup berguna untuk melihat masalah yang biasanya tidak muncul dalam perhitungan. Bisa saja ternyata pengeluaran makan, cicilan, transportasi, atau kebutuhan anak jauh lebih besar dari perkiraan.
Melansir dari Money.usnews, pengujian anggaran sebelum perubahan besar dapat membantu keluarga mengetahui apakah rencana tersebut benar-benar bisa dijalankan.
Kalau selama masa percobaan kebutuhan tetap terpenuhi dan masih ada uang yang bisa ditabung, kondisi keuangan mulai menunjukkan tanda yang lebih sehat.
Siapkan dana darurat dan kurangi utang
Berhenti kerja tanpa dana cadangan bisa membuat kondisi keluarga rentan ketika muncul masalah tak terduga. AP Wealth menyarankan dana darurat setidaknya untuk beberapa bulan biaya hidup, sementara keluarga dengan satu sumber penghasilan dapat mempertimbangkan cadangan yang lebih panjang sesuai kebutuhan.
Baca Juga: 10 Kebiasaan Finansial Kelas Menengah biar Keuangan Lebih Tertata
Untuk konteks di Indonesia, targetnya tidak harus sama untuk setiap keluarga. Hitung berdasarkan pengeluaran wajib dan jumlah tanggungan.
Prioritaskan juga utang yang bunganya tinggi. Cicilan konsumtif, kartu kredit, atau pinjaman dengan biaya besar dapat menghabiskan ruang dalam anggaran bulanan.
Semakin kecil beban utang, semakin leluasa keluarga menghadapi perubahan pendapatan.
Cek kembali perlindungan kesehatan
Satu hal yang sering terlupakan setelah resign adalah fasilitas yang sebelumnya diperoleh dari tempat kerja. Pastikan kepesertaan BPJS Kesehatan tetap aktif dan pahami siapa yang akan membayar iurannya.
Jika sebelumnya ada perlindungan kesehatan tambahan dari perusahaan, hitung apakah keluarga masih membutuhkannya setelah penghasilan berkurang.
Hal yang sama berlaku untuk perlindungan jiwa atau risiko kehilangan kemampuan mencari nafkah, terutama jika pasangan menjadi satu-satunya pencari penghasilan.
Jangan lupakan tabungan masa depan
Fokus mengurus rumah bukan berarti semua rencana keuangan harus berhenti. Tetap sisihkan uang untuk tujuan jangka panjang, seperti dana pendidikan anak, rumah, tabungan hari tua, atau kebutuhan keluarga lainnya.
Melansir dari AP Wealth, berhenti bekerja juga perlu dipikirkan dari sisi dampaknya terhadap tabungan jangka panjang dan manfaat yang sebelumnya diperoleh dari pekerjaan.
Bagi keluarga Indonesia, bentuk persiapannya bisa sederhana. Nominalnya mungkin tidak besar, tetapi usahakan tetap ada alokasi rutin untuk masa depan.
Sesuaikan gaya hidup setelah penghasilan berkurang
Saat masih memiliki dua penghasilan, beberapa pengeluaran mungkin terasa biasa saja. Setelah menjadi satu penghasilan, kebiasaan tersebut bisa mulai terasa berat.
Baca Juga: Strategi Menyiapkan Dana Pensiun Sejak Usia 30-an biar Keuangan Stabil
Coba evaluasi:
- Makan di luar terlalu sering.
- Belanja impulsif.
- Langganan layanan yang jarang digunakan.
- Penggunaan kendaraan.
- Cicilan konsumtif.
- Pengeluaran rumah tangga yang sebenarnya bisa ditekan.
Namun, jangan membuat anggaran terlalu ketat sampai keluarga merasa tidak boleh menikmati apa pun. Sisakan sedikit ruang untuk rekreasi sederhana atau kebutuhan pribadi agar pola keuangan baru tetap nyaman dijalankan.
Siapkan pemasukan alternatif bila diperlukan
Menjadi pengelola rumah tangga penuh waktu tidak selalu harus berarti nol penghasilan. Jika kondisi keuangan masih cukup ketat, pemasukan fleksibel bisa menjadi jalan tengah.
Bentuknya dapat disesuaikan dengan kemampuan dan waktu, seperti freelance, les privat, jasa administrasi, menulis, atau pekerjaan dari rumah lainnya.
Tidak perlu mengejar pemasukan besar. Tambahan yang konsisten sekalipun kecil bisa membantu membayar kebutuhan tertentu atau memperpanjang daya tahan dana darurat.
Tetap bicarakan keputusan dengan pasangan
Masalah keuangan setelah salah satu pasangan berhenti bekerja sering kali bukan cuma soal kurangnya uang, tetapi karena ekspektasi yang tidak pernah dibicarakan.
Sebelum resign, sepakati siapa yang menangani kebutuhan tertentu, berapa batas pengeluaran, bagaimana tabungan dikelola, dan apa yang dilakukan jika pencari nafkah kehilangan pekerjaan.
Penting juga untuk mengakui bahwa pekerjaan rumah tangga tetap membutuhkan waktu dan tenaga. Tidak adanya gaji bukan berarti kontribusinya tidak bernilai.
Checklist sebelum benar-benar resign
Supaya tidak terburu-buru, gunakan urutan sederhana berikut:
- Hitung seluruh pengeluaran keluarga.
- Buat anggaran dengan satu penghasilan.
- Uji selama 3–6 bulan.
- Bangun dana darurat.
- Kurangi utang berbunga tinggi.
- Pastikan perlindungan kesehatan aman.
- Lanjutkan tabungan untuk tujuan jangka panjang.
- Sesuaikan gaya hidup.
- Siapkan pemasukan alternatif jika dibutuhkan.
- Sepakati pembagian peran dan rencana darurat bersama pasangan.
Baca Juga: Belanja Karena TikTok? Ini Cara Mengurangi Kebiasaan Impulsif Moms
Berhenti kerja perlu rencana, bukan sekadar keberanian
Memilih berhenti bekerja untuk fokus pada rumah dan keluarga bukan keputusan yang salah maupun benar untuk semua orang.
Yang terpenting adalah memastikan keluarga tidak masuk ke kondisi finansial yang terlalu rapuh setelah satu penghasilan hilang.
Kalau kebutuhan pokok masih aman, dana darurat tersedia, utang terkendali, perlindungan kesehatan terjamin, dan pasangan sudah sepakat soal pembagian peran, keputusan tersebut bisa dijalankan dengan lebih tenang.
Sebaliknya, jika perhitungan masih defisit, menunda resign bukan berarti gagal. Justru, masa persiapan tersebut bisa menjadi kesempatan untuk memperkuat keuangan sampai keputusan berhenti kerja benar-benar terasa aman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News