MOMSMONEY - Pebisnis ekonomi kreatif perlu berinovasi untuk bisa membuat hasil karyanya bernilai tambah. Inovasi bisa dilakukan baik itu lewat teknologi atau desain.
Untuk itu Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) berkomitmen memperkuat ekosistem produk kreatif saat menerima audiensi The Innovators Studio (TIS).
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf) Irene Umar menyampaikan pemerintah akan bertindak lebih aktif untuk menemukan dan menghubungkan para pejuang ekonomi kreatif yang memiliki gagasan inovatif dengan ekosistem pendukung. Peran pemerintah tidak hanya terbatas sebagai regulator, melainkan sebagai penghubung yang menjembatani para kreator dengan pemilik sumber daya strategis.
Baca Juga: Industri Kreatif Mulai Perluas Wahana Kekayaan Intelektual
"Tugas kami tentu mencari talenta-talenta yang punya potensi dan melihat apa yang bisa kami kolaborasikan untuk mendukung atau menjadi penghubung maupun penerjemah dari gagasan-gagasan kreatif yang inovatif,” kata Wamen Ekraf Irene dalam keterangan, Kamis (17/9)..
Dalam audiensi tersebut, TIS memaparkan visi, pendekatan, serta portofolio dalam mentransformasi ide menjadi intellectual property (IP) dan produk komersial melalui pendekatan lintas disiplin desain, teknologi, dan storytelling. Beberapa portofolio unggulan TIS mencakup riset penataan kota Neo Sabang serta pengembangan social bracelet berbasis cip NFC.
Baca Juga: Kaya Bahan Baku, Indonesia Punya Modal Kuat Mengembangkan Industri Minuman Kreatif
“Kami melihat sebenarnya orang-orang Indonesia memiliki banyak ide yang menarik. Tantangannya adalah ketika ide tersebut masuk ke tahap prototipe, masih terkendala komponen, peralatan, dan akses teknologi. Akibatnya, dari segi gagasan akhirnya berhenti hanya tahap ide,” ujar Mochamad Fadhil Dewana sebagai Creative and Product Designer TIS.
TIS hadir untuk menjawab keresahan atas banyaknya kreator lokal yang belum memperoleh dukungan yang memadai untuk mengembangkan gagasan menjadi solusi. TIS berkomitmen menjadi wadah pengembangan gagasan lokal agar dapat bersaing di pasar yang lebih luas.
Maka Kementerian Ekraf dan TIS menjajaki peluang kolaborasi strategis untuk memperluas jejaring inovator, mempermudah akses industri, serta mendorong hilirisasi produk kreatif. Pembahasan juga mencakup potensi sinergi dengan asosiasi industri, komunitas makers, pemasar, investor, hingga pemerintah daerah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News