MOMSMONEY.ID - JAKARTA. Pengembangan industri kreatif perlu diperluas. Untuk itu Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) memperkuat sinergi lintas subsektor melalui audiensi dengan rumah produksi Keana Film untuk mengoptimalkan potensi seni pertunjukan dan film nasional.
Langkah ini bertujuan memicu pertumbuhan ekonomi kreatif yang berkelanjutan, membuka lapangan kerja, serta menciptakan nilai tambah bagi rantai pasok industri kreatif Tanah Air.
Keana Film yang sebelumnya sudah menggarap teaterikal Laksamana Malahayati, Monoplay Melati Pertiwi, Meradjoet Sendja, serta film Kalau Kau Indonesia, Tepuk Dada! (2012) dan Rectoverso: Cinta yang Tak Terucap (2013) memaparkan rencana strategis 2026–2027 berbasis kebudayaan.
Baca Juga: Trailer & Poster Film Laut Bercerita Dirilis, Tampilkan Perjuangan Hingga Kehilangan
Rangkaian program tersebut meliputi Monolog Melati Pertiwi, Kongres Perempuan di Yogyakarta, serta festival Cultura di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang berfokus pada pertukaran budaya anak dan pemberdayaan UMKM lokal.
Selain itu, Keana Film menyiapkan pengembangan alih wahana kekayaan intelektual atau Intellectual Property (IP) Laksamana Malahayati dari panggung pertunjukan menuju komik dan film panjang dengan orientasi kolaborasi internasional.
“Kami perlu mencari titik temu yang memungkinkan ekosistem kreatif tumbuh secara efisien dan berkelanjutan. Bukan hanya membangun potensi yang sudah tercipta, tetapi juga memastikan model bisnis kreatif bisa berjalan," ungkap Wamenekraf Irene Umar di keterangan, Rabu (9/9).
Baca Juga: Tayang di Bioskop Bulan Depan, Film Empat Musim Pertiwi Rilis Trailer dan Poster
Program-program tersebut dirancang tidak sekadar sebagai pertunjukan, tetapi bagian dari ekosistem yang melibatkan komunitas, UMKM, edukasi, dan penciptaan lapangan kerja.
Gagasan lain juga disampaikan terkait rencana pengembangan IP Laksamana Malahayati dari seni pertunjukan berkembang menjadi karya komik dan film dengan peluang kolaborasi internasional.
Baca Juga: Kaya Bahan Baku, Indonesia Punya Modal Kuat Mengembangkan Industri Minuman Kreatif
Diskusi juga menyentuh pengembangan infrastruktur kreatif, termasuk program Indiskop Bioskop Rakyat yang mengintegrasikan film, seni pertunjukan, kebudayaan, dan edukasi.
Sementara itu, Direktur Utama Keana Film, Marcella Zalianty menyampaikan bahwa fokus rumah produksi ini pada pengembangan dua spektrum ekonomi kreatif, yakni subsektor seni pertunjukan dan subsektor film.
Marcella menegaskan pentingnya regenerasi dalam industri kreatif melalui pendidikan maupun pelatihan sehingga kolaborasi dengan Kementerian Ekraf dapat terus dikembangkan menjadi karya kreatif yang tidak hanya menghadirkan tontonan, melainkan memberikan dampak bagi ekosistem kreatif di Indonesia.
“Dulu, Keana Film pernah mengangkat sebuah omnibus dalam konteks Rectoverso dari dunia sastra atau buku karya Dewi Lestari ke sebuah film. Kini, kami terinspirasi untuk bikin konsep omnibus di atas panggung yang mengemas historikal tentang pahlawan-pahlawan lintas perjuangan dan lintas waktu sehingga menghidupkan ekosistem seni pertunjukan,” tutur Marcella Zalianty yang juga menjadi Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi 56).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News