MOMSMONEY.ID - Harga emas hari ini di pasar global naik untuk hari kedua, setelah ada laporan Presiden AS Donald Trump bersedia mengakhiri perang dengan Iran meskipun Selat Hormuz tetap tertutup.
Mengutip Bloomberg, Selasa (31/3), harga emas spot sempat naik hingga 2,4%, sebelum sedikit melandai dan diperdagangkan di sekitar US$ 4.549 per troi ons pada pukul 17.37 WIB.
Menurut laporan Wall Street Journal, Trump mengatakan kepada para ajudannya bahwa ia bersedia mengakhiri kampanye militer AS melawan Iran, bahkan jika Selat Hormuz tetap tertutup. Ini meningkatkan harapan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama sebulan.
Sebelumnya, Ketua Fed Jerome Powell mengatakan ekspektasi inflasi jangka panjang AS tampaknya terkendali, meskipun terjadi lonjakan harga minyak akibat perang yang memicu tekanan inflasi dan spekulasi kenaikan suku bunga. Katanya, kebijakan bank sentral berada di tempat yang tepat, dan tunggu waktu untuk melihat hasilnya.
Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS setelah komentar Powell, mendorong harga emas, karena mengurangi biaya peluang untuk memegang emas. Namun demikian, pasar uang masih bertaruh pada tidak adanya pemotongan suku bunga Federal Reserves tahun ini.
Baca Juga: Harga Emas Hari Memantul ke atas US$ 4.500, Investor Bargain Hunting
Analis UBS Global Wealth Management, David Wilson, meyakini bahwa ini berlebihan. "Kami masih ekspektasikan pelonggaran kebijakan moneter dari The Fed tahun ini," katanya mengutip Bloomberg, hari ini.
Para pedagang juga menilai sinyal yang beragam dari AS, karena Gedung Putih mengancam akan meningkatkan serangan terhadap Iran, termasuk terhadap infrastruktur sipil penting.
Sementara, Teheran menyetujui undang-undang untuk mengenakan biaya pada kapal yang melintasi Selat Hormuz dan mendorong kelompok militan Houthi di Yaman untuk bersiap menghadapi serangan. Iran juga menyerang sebuah kapal tanker minyak Kuwait yang bermuatan penuh di lepas pantai Dubai dalam serangan pesawat tak berawak.
Kata David Wilson, pasar sangat dipengaruhi oleh berita utama, padahal kenyataannya tampaknya hanya ada sedikit perubahan. Namun, hal ini menunjukkan bahwa jika ada kesepakatan damai yang akan segera terwujud, harga emas akan melonjak tajam. "Sebaliknya, jika terjadi invasi darat oleh pasukan AS, kita dapat memperkirakan harga emas akan berbalik dan cenderung turun," imbuhnya.
Perkembangan ini menimbulkan kekhawatiran tentang potensi konfik berkepanjangan yang dapat menyebabkan harga energi naik lebih lanjut. Ini dapat mendorong bank sentral untuk menaikkan suku bunga guna mengendalikan inflasi, hal negatif bagi logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil. Ini bersamaan dengan krisis likuiditas di pasar keuangan yang lebih luas, menempatkan emas pada jalur penurunan bulanan lebih dari 13%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News