MOMSMONEY.ID - Pasar keuangan domestik masih menghadapi gelombang ketidakpastian hingga paro kedua 2026. Mulai dari arah suku bunga global, harga energi dan inflasi, hingga pergerakan rupiah serta kebijakan moneter dan fiskal domestik.
Di tengah kondisi tersebut, investor obligasi perlu menjaga daya tahan portofolio dan tidak terburu-buru mengambil risiko secara agresif.
Portfolio Manager Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Laras Febriany, mengatakan, narasi higher for longer kembali menguat seiring kenaikan harga energi dan inflasi global sepanjang paruh pertama 2026.
Menurutnya, ketidakpastian geopolitik, pergerakan harga minyak dan potensi kenaikan inflasi membuat bank sentral global masih perlu bersikap waspada. Kondisi tersebut membuat arah suku bunga global masih sulit dipastikan.
"Selama tensi geopolitik, pergerakan harga minyak, dan potensi inflasi masih tidak jelas, kami rasa bank-bank sentral dunia juga masih mempertahankan sikap waspada mengantisipasi kenaikan dibandingkan menurunkan suku bunga," ujar Laras dalam Seeking Alpha Edisi Agustus 2026, yang dirilis Rabu (12/8).
Ia mencontohkan, The Fed pada Juli mempertahankan Fed Funds Rate (FFR) di level 3,50%-3,75%. Kebijakan tersebut menunjukkan sikap hati-hati bank sentral AS di tengah ekspektasi pasar mengenai kemungkinan kenaikan kembali FFR pada sisa 2026.
Baca Juga: Saham & Obligasi Sama-Sama Atraktif, Reksadana Campuran Layak Dilirik
Di tengah ketidakpastian ini, pasar obligasi Indonesia sebenarnya mulai menawarkan valuasi yang menarik. Laras mengatakan, imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun Indonesia relatif kompetitif dibandingkan negara-negara dengan peringkat kredit setara. Selisih imbal hasil SBN Indonesia dengan US Treasury tenor yang sama juga dinilai menarik.
Daya tarik tersebut mulai tercermin dari arus dana investor asing yang kembali masuk ke pasar SBN pada Juni-Juli 2026. Ini menunjukkan bahwa pada level imbal hasil saat ini, pasar mulai menilai obligasi Indonesia memiliki kompensasi risiko yang lebih menarik.
Namun, Laras mengingatkan bahwa valuasi yang menarik tetap perlu diimbangi dengan konsistensi kebijakan dan pengelolaan risiko. Sebab, faktor seperti harga energi, arah kebijakan BI, kondisi fiskal, dan sentimen global masih dapat membebani sentimen investasi.
Dari sisi fiskal, menurutnya, realisasi APBN semester pertama tahun ini sebenarnya masih relatif terkendali dan cukup sejalan dengan pola tahun sebelumnya. Revisi target defisit fiskal dari 2,68% ke 2,85% mencerminkan fleksibilitas kebijakan tidak seagresif yang dikhawatirkan sebelumnya.
"Namun, perlu komitmen disiplin fiskal, efisiensi belanja, rekalibrasi dan prediktabilitas kebijakan ke depan, agar kredibilitas dan persepsi risiko Indonesia di mata investor asing dan lembaga pemeringkat dapat terus pulih," papar Laras.
Faktor penting lainnya adalah rupiah. Rupiah mulai menunjukkan tanda stabilisasi karena pelemahannya tidak lagi berlangsung secara akseleratif. Namun, kondisi tersebut masih perlu dicermati mengingat dinamika pasar global masih sangat berubah-ubah.
Baca Juga: S&P Pertahankan Rating Indonesia, Apa Artinya bagi Pasar Obligasi & Rupiah?
Stabilitas rupiah penting bagi pasar SBN karena menjadi salah satu pertimbangan investor asing. Jika rupiah bergerak lebih stabil, premi risiko dapat menurun sehingga daya tarik obligasi Indonesia berpotensi meningkat.
Bank Indonesia juga mulai mengurangi laju pengetatan. Setelah menaikkan BI Rate sebesar 1% pada Mei-Juni, BI pada Juli mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%. Menurut Laras, langkah itu menunjukkan BI mulai lebih nyaman dengan kebijakan pengetatan untuk menjaga stabilitas rupiah.
Meski demikian, pasar masih mencermati kesinambungan kebijakan moneter, terutama terkait pergantian Gubernur BI. "Ruang pengetatan tambahan sudah mulai terbatas, dan dapat membuat BI menghadapi kondisi yang dilematik jika ke depannya rupiah mendapat tekanan pelemahan lanjutan," imbuh Laras.
Yield menarik, tetap perhitungkan risiko
Bagi investor obligasi, MAMI melihat kondisi pasar saat ini bukan sebagai momentum untuk mengejar imbal hasil setinggi-tingginya, melainkan kesempatan untuk mengelola portofolio secara lebih selektif.
Menurut Laras, valuasi obligasi Indonesia memang sudah semakin menarik. "Tetapi, kami tidak melihat ini sebagai satu-satunya alasan untuk menjadi terlalu agresif tanpa mempertimbangkan volatilitas," ungkapnya.
Pengelolaan portofolio dilakukan secara adaptif dengan mempertimbangkan perkembangan rupiah, arah kebijakan BI dan The Fed, postur fiskal, pergerakan US Treasury serta minat investor asing.
Baca Juga: Jelang Review MSCI, Mirae Soroti Pentingnya Sinyal Pelonggaran Pembekuan Kenaikan FIF
Di MAMI, alokasi aset investasi dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, mempertimbangkan semua potensi dan risiko masing-masing kelas aset, serta memanfaatkan momentum pasar. Diversifikasi menjadi kunci penting dalam menjaga daya tahan portofolio terhadap risiko.
Kata Laras, sejumlah risiko yang perlu dicermati investor hingga akhir tahun ini, antara lain volatilitas harga minyak dan dampaknya terhadap inflasi, kebijakan suku bunga global, konsistensi kebijakan moneter dan fiskal domestik, kredibilitas serta independensi BI, hingga prospek sovereign rating Indonesia.
Perkembangan review MSCI juga tetap perlu diperhatikan meski lebih berkaitan dengan pasar saham. Sebab, isu tersebut dapat memengaruhi sentimen investor asing terhadap Indonesia secara keseluruhan.
Perpanjangan interim freeze MSCI hingga November dinilai memberikan waktu bagi regulator untuk melanjutkan pembenahan pasar modal. "Transformasi pasar modal yang lebih transparan dapat menjadi faktor positif bagi persepsi investor terhadap keseluruhan pasar modal Indonesia," imbuh Laras.
Nah, menghadapi volatilitas jangka pendek di tengah ketidakpastian global maupun domestik, saran Laras, reksadana obligasi dengan karakteristik defensif dapat menjadi salah satu opsi bagi investor yang ingin menjaga daya tahan portofolio.
Di samping itu, reksadana obligasi menawarkan fleksibilitas karena investor dapat membeli maupun mencairkan sesuai kebutuhan dengan harga unit yang jelas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News