MOMSMONEY.ID - Tren gaya hidup sehat atau active wellness semakin berkembang di kalangan masyarakat urban. Padel, tenis, maraton hingga hyrox kini tak hanya menjadi aktivitas olahraga, tetapi juga bagian dari gaya hidup.
Di sisi lain, meningkatnya minat terhadap olahraga turut membawa konsekuensi pada pengeluaran. Mulai dari biaya keanggotaan atau kelas olahraga, perlengkapan, hingga kebutuhan pendukung lainnya, hobi olahraga dapat menjadi pos pengeluaran tersendiri.
Riset media sosial bertajuk “Sehat Fisik vs Sehat Dompet” yang dilakukan Amar Bank terhadap 300 responden di Jabodetabek dan sejumlah kota besar lainnya menunjukkan adanya perbedaan cara Gen Z dan milenial mengalokasikan uang untuk hobi wellness.
Sebanyak 51,9% responden Gen Z mengaku rela mengurangi anggaran untuk nongkrong dan membeli kopi demi membiayai hobi wellness. Sementara itu, 52% responden milenial memilih tetap disiplin terhadap batas anggaran dan menunda hobi apabila dana yang tersedia belum mencukupi.
Besarnya pengeluaran untuk olahraga juga perlu menjadi perhatian.
Sebanyak 28,9% Gen Z dalam riset tersebut mengalokasikan lebih dari 10% pendapatan bulanannya untuk hobi olahraga. Bahkan, 10,6% mengaku bersedia mengalokasikan lebih dari 20% gaji untuk kebutuhan tersebut hingga mengorbankan tabungan.
Baca Juga: 10 Kebiasaan Keuangan yang Bantu Kelas Menengah Atur Uang Lebih Baik
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa menjalankan gaya hidup sehat tetap perlu diimbangi dengan perencanaan keuangan. Berikut sejumlah cara yang dapat diterapkan agar hobi olahraga tidak mengganggu kondisi finansial.
1. Sisihkan uang sebelum membelanjakannya
Salah satu cara yang dapat diterapkan adalah membiasakan diri menabung terlebih dahulu sebelum melakukan pengeluaran besar.
Dalam riset Amar Bank, 63,5% Gen Z disebut memilih menabung lebih dulu sebelum melakukan pengeluaran besar. Kebiasaan tersebut dapat membantu seseorang memiliki dana yang memang sudah dialokasikan untuk kebutuhan tertentu, termasuk hobi.
Dengan demikian, pembelian perlengkapan olahraga atau pembayaran kelas tidak perlu mengambil dana yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan utama.
2. Tetapkan batas anggaran untuk hobi
Hobi sebaiknya memiliki pos anggaran tersendiri. Dalam materi edukasinya, Amar Bank menyarankan alokasi untuk gaya hidup berada di kisaran 10%-15% dari pendapatan bulanan, setelah kebutuhan pokok dan investasi jangka panjang terpenuhi.
Batas tersebut dapat menjadi acuan agar pengeluaran untuk olahraga tetap terkontrol dan tidak mengambil porsi berlebihan dari pendapatan.
3. Hitung biaya berdasarkan frekuensi penggunaan
Keinginan membeli perlengkapan olahraga baru terkadang muncul karena mengikuti tren. Sebelum membeli, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menghitung cost-per-use, yakni membandingkan harga barang dengan perkiraan frekuensi pemakaiannya.
Sebagai contoh, sepatu lari seharga Rp1,5 juta yang digunakan sebanyak 150 kali dalam setahun memiliki biaya sekitar Rp10.000 setiap pemakaian. Sementara sepatu lari dengan harga Rp 2 juta yang hanya digunakan empat kali setahun memiliki biaya sekitar Rp 500.000 per pemakaian.
Perhitungan sederhana tersebut dapat membantu membedakan perlengkapan yang memang dibutuhkan dengan barang yang dibeli karena dorongan tren atau fear of missing out alias fomo.
Baca Juga: 3 Aturan Keuangan dari Suze Orman Ini Bisa Bantu Atur Uang Lebih Bijak
4. Jangan mengorbankan dana darurat
Pengeluaran untuk hobi sebaiknya tidak menggunakan dana yang diperuntukkan bagi kondisi darurat.
Riset Amar Bank menunjukkan 29,8% Gen Z mengaku dana daruratnya pernah digunakan untuk membiayai hobi. Di sisi lain, 34,2% milenial disebut belum memiliki dana darurat yang memadai atau masih bergantung pada utang ketika menghadapi kondisi mendesak.
Materi edukasi Amar Bank menyarankan dana darurat setidaknya setara dengan tiga hingga enam kali pengeluaran bulanan.
5. Hati-hati menggunakan pinjaman untuk membiayai hobi
Jika dana untuk hobi belum tersedia, sebaiknya pertimbangkan kembali apakah pengeluaran tersebut memang harus dilakukan segera.
Amar Bank mengingatkan masyarakat yang menggunakan pinjaman digital untuk memastikan penyedia pinjaman legal dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), membatasi total cicilan maksimal 30% dari pendapatan, serta memastikan kemampuan membayar cicilan sebelum mengambil pinjaman.
Pada akhirnya, menjalankan gaya hidup sehat tidak harus berujung pada kondisi keuangan yang tidak sehat.
Dengan menetapkan batas pengeluaran, menyiapkan dana khusus untuk hobi, serta mempertimbangkan manfaat dan frekuensi penggunaan sebelum membeli perlengkapan, aktivitas olahraga dapat tetap berjalan tanpa mengganggu kebutuhan finansial lainnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News