M O M S M O N E Y I D
InvesYuk

S&P Pertahankan Rating Indonesia, Apa Artinya bagi Pasar Obligasi & Rupiah?

S&P Pertahankan Rating Indonesia, Apa Artinya bagi Pasar Obligasi & Rupiah?
Reporter: Alya Fathinah  |  Editor: Alya Fathinah


MOMSMONEY.ID - Pasar obligasi pemerintah nyaris tak merespons positif keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil pada Senin (13/7). 

Berdasarkan data Bloomberg, Senin (20/7), yield Surat Utang Negara (SUN) acuan tenor 10 tahun di level 7,247%. Tingkat yield malah naik tipis dibandingkan posisi pada Senin (13/7)saat pengumuman hasil pemeringkatan oleh S&P yang tercatat 7,209%. 

Premi risiko berinvestasi juga belum membaik yang terlihat dari peningkatan credit default swap (CDS) tenor lima tahun menjadi sekitar 92,01, dari 88,8 basis poin sebelum pengumuman S&P. Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih bertahan di dekat Rp18.000 per dolar AS.

Baca Juga: ORI030 Berikan Passive Income Pasti 7% Setahun, Bisa Dibeli Mulai 6 Juli 2026

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet menilai, yield yang cenderung flat, karena pelaku pasar telah mengantisipasi keputusan tersebut sehingga dampaknya telah lebih dulu tercermin pada harga aset.

Respons pasar obligasi yang relatif datar bukan menunjukkan keraguan terhadap penilaian S&P. Sebaliknya, afirmasi rating tersebut memang telah menjadi ekspektasi  investor dalam beberapa waktu terakhir.

"Itu sebabnya kenaikan yield SUN 10 tahun yang masih berada di sekitar 7,2% lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal seperti tingginya yield US Treasury dan tekanan terhadap rupiah daripada keputusan S&P itu sendiri," ujar Yusuf kepada Kontan, Selasa (14/7).

Di sisi lain, lanjut Yusuf, pasar saham merespons lebih positif karena instrumen tersebut lebih sensitif terhadap sentimen jangka pendek. Berbeda dengan saham, pergerakan obligasi lebih dipengaruhi ekspektasi suku bunga dan kondisi makroekonomi.

Risiko belum sirna

Menurut Yusuf, afirmasi S&P dinilai berhasil meredakan kekhawatiran investor terhadap potensi penurunan peringkat Indonesia dalam jangka pendek. Namun, outlook stabil lebih tepat dipahami sebagai ruang bagi pemerintah untuk membuktikan konsistensi kebijakannya, bukan jaminan bahwa seluruh risiko telah hilang.

Baca Juga: ORI030 Meluncur di Tengah Dinamika Pasar, Investor Tetap Bisa Optimalkan Investasi

Dia mengingatkan bahwa beban pembayaran bunga utang yang terus meningkat, potensi pelebaran defisit transaksi berjalan, kebutuhan pembiayaan APBN serta ketidakpastian geopolitik, masih menjadi faktor yang akan terus diperhatikan investor.

Keputusan S&P juga belum menjadi faktor utama yang mendorong arus modal asing masuk ke pasar domestik. Menurut Yusuf, investor asing saat ini lebih tertarik pada tingginya imbal hasil obligasi Indonesia dibandingkan perubahan peringkat kredit. 

Selain itu, porsi kepemilikan asing di pasar SBN juga sudah jauh lebih rendah dibandingkan beberapa tahun lalu sehingga respons terhadap satu peristiwa cenderung lebih terbatas.

Dari sisi nilai tukar, kata Yusuf, afirmasi S&P memang membantu menurunkan persepsi risiko terhadap Indonesia sehingga tekanan terhadap rupiah sedikit mereda. Namun, arah pergerakan mata uang domestik masih lebih banyak ditentukan oleh penguatan dolar AS, selisih suku bunga, harga komoditas, serta kondisi neraca eksternal.

Dengan kondisi tersebut, Bank Indonesia ditaksir memiliki ruang untuk tidak lagi seagresif sebelumnya dalam menaikkan suku bunga. "Namun, ruang tersebut tetap terbatas karena stabilitas nilai tukar diperkirakan masih menjadi prioritas utama bank sentral dibandingkan mendorong pertumbuhan ekonomi," imbuhnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

Samsung Galaxy Unpacked: Flex Titanium Pangkas Bekas Lipatan Layar Z Series

Samsung Galaxy Unpacked akan berlangsung pada 22 Juli 2026. Z Flip 8, Z Fold 8, dan Z Fold 8 Ultra akan segera meluncur.

Tak Kalah dari Barista, Tea-rista Indonesia Adu Kreasi Meracik Teh

​Lebih dari 300 tea-rista dari seluruh Indonesia bersaing menghadirkan racikan teh terbaik dalam Chatime Tea-rista Competition 2026.

IHSG Lanjut Menguat, Saham Berkapitalisasi Pasar Terbesar Kompak Naik

Pada perdagangan Selasa pagi, 21 Juli 2026, pukul 9:05 WIB, indeks tercatat naik 0,69% ke level 6.274. ​

Harga Emas Antam & Buyback Kompak Turun Rp 9.000 pada Hari Ini Selasa (21/7)

Harga emas Antam turun Rp 9.000 menjadi Rp 2.601.000 per gram. Harga buyback juga melemah ke Rp 2.332.000. Simak selengkapnya

Sebelum Beli Properti di Luar Negeri, Investor Perlu Hitung Biaya Tambahan

​Investasi properti di Australia bisa menjadi pilihan diversifikasi aset, tetapi investor perlu memahami biaya, regulasi, dan potensi sewanya.

Makan Tetap Irit! Cek Promo Richeese Factory Berdua Diskon 40% Cuma 5 Hari

Solusi hemat tanggal tua ada di promo Richeese Factory dengan pilihan menu Crispy, Flying, hingga Parmesan Chicken. Berlakunya hanya 5 hari.

Promo Es Teler 77 Spesial Paket Makan Siang, Santap Berdua Hemat Pakai Qpon

Bikin makan siang bareng teman atau pasangan jadi lebih hemat lewat promo Es Teler 77 x Qpon. Cukup redeem kuponnya untuk menikmati paket komplit.

IHSG Masih Bisa Menguat, Cek Rekomendasi Saham dari BRI Danareksa Sekuritas (21/7)

IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan meski terbatas pada perdagangan Selasa (21/7).​ Cek rekomendasi saham dari BRI Danareksa Sekuritas

6 Tips Menurunkan Berat Badan secara Aman bagi Penderita Obesitas, Harus Konsisten ya

Menurunkan berat badan bagi penderita obesitas membutuhkan metode yang aman dan berkelanjutan agar tubuh tidak syok. Simak 6 tipsnya berikut.

IHSG Masih Rawan Koreksi, Simak Rekomendasi Saham dari BNI Sekuritas (21/7)

IHSG masih rawan mengalami koreksi pada perdagangan Selasa (21/7/2026).​ Simak rekomendasi saham dari BNI Sekuritas untuk hari ini.