MOMSMONEY.ID - Setelah tertekan cukup dalam sejak awal tahun, pasar keuangan Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada Juli. Menurut Syailendra Capital, kondisi tersebut membuka peluang bagi investor untuk mulai melirik kembali instrumen saham maupun obligasi.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah bangkit sekitar 20% dari titik terendahnya di level 5.300. Dalam Market Insight per 31 Juli 2026, Syailendra Capital mencatat tekanan jual investor asing juga mulai mereda pada Juli, setelah mencatat arus keluar dana asing yang masih mencapai Rp 91 triliun sepanjang Januari hingga Juni 2026.
Meski sudah menguat, Syailendra Capital menilai valuasi pasar saham Indonesia masih tergolong murah. Diskon valuasi IHSG dibandingkan pasar saham negara-negara ASEAN masih mencapai sekitar 33%, bahkan lebih besar dibandingkan saat krisis keuangan global 2008 yang berada di kisaran 26%.
Baca Juga: BEI Evaluasi Indeks IDX30, IDX80, dan LQ45, Cek Saham yang Masuk dan Terlempar
Menurut Syailendra Capital, koreksi pasar saham pada tahun ini tidak dipicu oleh krisis sebesar krisis keuangan global 2008 maupun pandemi Covid-19. Namun, penurunan harga saham yang cukup dalam membuat valuasi pasar menjadi lebih atraktif bagi investor jangka panjang.
Porsi kepemilikan investor asing di pasar saham Indonesia turun dari sekitar 50% pada Januari 2018 menjadi 41% pada Januari 2026. "Penurunan porsi kepemilikan asing tersebut berpotensi mengurangi tekanan jual ke depan, sekaligus membuka peluang terjadinya pembalikan arah (positive reversal) apabila sentimen pasar membaik," tulis Market Insight Syailendra Capital, Jumat (31/7).
Di pasar obligasi, peluang juga dinilai masih terbuka. Yield Surat Berharga Negara (SBN) yang berada di kisaran 7% menawarkan titik masuk yang menarik bagi investor.
Kenaikan yield obligasi dipicu oleh sejumlah faktor, antara lain kekhawatiran investor terhadap inflasi, pelebaran defisit fiskal, pelemahan rupiah, serta upaya Bank Indonesia menjaga daya tarik aset domestik bagi investor asing. Meski demikian, Syailendra Capital menilai kondisi tersebut justru dapat dimanfaatkan investor untuk mengunci imbal hasil yang tinggi dan level harga yang menarik.
Baca Juga: Jual Emas Hari Ini? Cek Merek yang Pasang Harga Buyback Paling Tinggi
Syailendra Capital juga mencatat selisih antara earnings yield saham dan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun kini mencapai sekitar 8%, melampaui level saat pandemi Covid-19 yang sekitar 6%. Kondisi tersebut dinilai mencerminkan bahwa kedua kelas aset sama-sama berada pada posisi yang atraktif. Saham masih diperdagangkan pada valuasi yang relatif murah, sedangkan obligasi menawarkan carry yield yang tinggi sehingga layak mulai dilirik investor.
Ke depan, pasar juga diperkirakan mendapat tambahan likuiditas dari jatuh tempo Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada kuartal III 2026 senilai Rp 244,5 triliun. Selain itu, melandainya yield SRBI diperkirakan mendorong rotasi dana dari instrumen berjangka pendek ke obligasi berjangka panjang, sehingga dapat menjadi katalis positif bagi pasar obligasi maupun pasar saham.
Nah, di tengah proses pemulihan pasar yang diperkirakan masih berlangsung secara bertahap dan diwarnai volatilitas, Syailendra Capital menyarankan investor dapat mempertimbangkan reksadana campuran sebagai salah satu pilihan investasi. Instrumen ini menggabungkan investasi pada saham dan obligasi, sehingga dinilai mampu menangkap potensi kenaikan pasar sekaligus membantu menjaga ketahanan portofolio ketika kondisi pasar masih berfluktuasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News