MOMSMONEY.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memiliki peluang rebound secara teknikal pada perdagangan hari ini, Kamis, 5 Maret 2026 setelah anjlok 4,57% kemarin. Namun, masih banyak katalis negaitf lain yang bisa membatalkan peluang kenaikan indeks.
IHSG kemarin Rabu, 4 Maret 2026, turun 4,57% ke level 7.577. Ini merupakan penurunan IHSG tiga hari berturut-turut. Investor asing keluar dengan nilai jual bersih atau net buy Rp 213,98 miliar di pasar reguler.
Baca Juga: Cara Melihat Data Informasi Kepemilikan Saham di Atas 1% di Website BEI
Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata berekspektasi IHSG memiliki peluang rebound teknikal setelah kemarin menguji Support 7.480. Indikator RSI positive divergence menambah peluang penguatan indeks. Target IHSG terdekat ke arah 7700, atau 7900-7932 (tutup GAP).
Meski begitu, perlu disadari, downgrade Fitch Ratings menambah deretan katalis negatif dalam negeri.
"Tidak disarankan untuk buka posisi pembelian terlalu banyak, mengingat spekulasi dan volatilitas masih akan tinggi," ujar Liza. Jika level 7.480 tak mampu bertahan, maka IHSG harus lunasi konsolidasi ke arah 7.335 dulu.
Ide trading
Berikut rekomendasi saham secara teknikal dari Kiwoom Research untuk hari ini. Perlu diingat, rekomendasi ini bukan ajakan untuk beli atau jual saham tertentu. Sesuaikan keputusan investasi dengan profil risiko masing-masing.
1. AADI
Entry Buy : 10,050 – 10,300
Target Price : 10,600 – 10,900
Support : 9,925 – 10,050
Cut loss : 9,875
2. ICBP
Entry Buy : 7,300 – 7,475
Target Price : 7,700 – 7,925
Support : 7,200 – 7,300
Cut loss : 7,150
3. INET
Entry Buy : 294 – 302
Target Price : 312 – 322
Support : 290 – 294
Cut loss : 286
4. MYOR
Entry Buy : 1,940 – 1,990
Target Price : 2,050 – 2,110
Support : 1,915 – 1,940
Cut loss : 1,905
Katalis IHSG
Liza mengatakan, IHSG kemarin ikut tersengat tekaan jual yang deras di pasar Asia. Namun, downgrade Fitch Ratings menambah deretan katalis negatif dalam negeri.
Fitch Ratings di awal pekan menurunkan outlook kredit Indonesia dari Stable menjadi Negative namun mempertahankan sovereign rating pada BBB (investment grade), mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta kekhawatiran terhadap konsistensi policy mix fiskal–moneter di tengah target pertumbuhan ambisius pemerintah.
Fitch memperkirakan defisit fiskal sekitar 2,9% GDP pada 2026 dengan tekanan berasal dari peningkatan belanja sosial seperti program makan bergizi gratis, sementara rasio penerimaan negara terhadap GDP tetap rendah sekitar 13,3%, jauh di bawah median negara BBB sekitar 25,5%
Sentimen global lainnya perlu diperhatikan investor. Kemarin, Wall Street ditutup dengan penguatan di mana investor masuk kembali ke saham teknologi dan consumer discretionary atau konsumer non-primer. Indeks S&P500 naik 0,8% dan Nasdaq meloncat 1,3%. Data ekonomi payroll sektor swasta juga menguat 63.000 di Bulan Februari, melampaui perkiraan pasar 50.000.
Liza menilai, sentimen pasar global tetap rapuh di tengah eskalasi konflik AS dan Israel terhadap Iran yang kini memasuki hari kelima. Kekhawatiran juga terlihat dari imbal hasil US Treasury atau yield naik sekitar 5 bps pada tenor pendek.
Harga komoditas minyak mentah tetap tinggi di tengah risiko gangguan pasokan energi global. Brent diperdagangkan sekitar USD 81 – USD 83 / barrel, level tertinggi sejak Januari 2025, sementara US WTI berada di sekitar USD 75 / barrel. Harga minyak telah naik hampir 12% sepanjang minggu ini. Iran mengancam menargetkan kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
Harga emas rebound setelah koreksi sebelumnya. Emas spot naik ke sekitar USD 5.128 / oz sementara kontrak futures berada di sekitar USD 5.143 / oz.
Ketidakpastian perdagangan juga meningkat setelah Mahkamah Agung AS membatasi kewenangan Presiden Donald Trump dalam menerapkan tarif perdagangan cepat dengan alasan keamanan nasional. Pemerintah AS kemudian mengumumkan tarif global baru sebesar 15% yang mulai berlaku pada pekan ini di tanggal 4 Maret.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News