M O M S M O N E Y I D
Bugar

Lonjakan Gula Darah Tinggi Gandakan Potensi Kesehatan Mental & Mood Swings

Lonjakan Gula Darah Tinggi Gandakan Potensi Kesehatan Mental & Mood Swings
Penulis: Pinky Annisa  |  Editor: Pinky Annisa


MOMSMONEY.ID - Bagaimana kadar gula darah memengaruhi kesehatan mental? Kondisi kadar gula darah yang fluktuatif diketahui dapat menyebabkan kecemasan, depresi, dan perubahan suasana hati. 

Sarah Thompson, dokter neuropsikiater di Universitas Columbia, menjelaskan, pengendalikan emosi jadi kunci untuk memulihkan kesehatan, langkah pertama untuk memulainya adalah dengan memantau kadar glukosa darah. 

Dilansir dari Drlewis.com, orang dengan kadar gula darah tinggi memiliki risiko 20% lebih tinggi mengalami gangguan kecemasan dan dua kali lebih mungkin mengalami depresi. 

Baca Juga: Manfaat Timun untuk Gula Darah: Efek Antioksidannya Redakan Resistensi Insulin

Kadar gula darah tinggi meningkatkan risiko kesehatan mental

Seseorang mungkin merasa kewalahan saat harus mengelola kadar gula darah yang kemudian memicu rasa frustrasi. Penderita kadar gula darah tinggi jadi lebih mudah marah dari biasanya dan sering meluapkan emosi secara tiba-tiba.

Selain itu, seringkali muncul rasa tidak berdaya karena tidak adanya pengobatan yang benar-benar dapat menyembuhkan diabetes secara total. Kondisi ini dapat menurunkan motivasi untuk melakukan upaya perawatan.

Pola makan yang mengandung gula tambahan dan makanan dengan indeks glikemik tinggi turut meningkatkan risiko depresi. Berikut adalah beberapa alasan yang menghubungkan kadar glukosa darah dengan depresi atau kecemasan:

1. Resistensi insulin di otak

Pusat-pusat di otak yang mengatur emosi memiliki reseptor insulin di seluruh bagiannya. Reseptor ini memungkinkan sel-sel otak menyerap dan menggunakan gula sebagai sumber energi. 

Kondisi resistensi reseptor dapat memicu kecemasan, depresi, dan mood swings.

2. Penurunan pertumbuhan sel otak akibat gula darah tinggi

Proses pembentukan sel otak bar, yang disebut neurogenesis akan terganggu pada penderita gula darah tinggi. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh gangguan fungsi mitokondria, bagian sel yang menghasilkan energi dari gula setelah terjadinya resistensi insulin. 

Peningkatan sensitivitas insulin melalui terapi dapat memicu pembentukan mitokondria, mengurangi gejala depresi, dan meningkatkan pembentukan sel otak.

3. Gangguan jaringan sel otak dalam resistensi insulin

Resistensi insulin di otak mengganggu jalur sinyal yang membentuk jaringan sel otak yang ideal, khususnya yang terkait dengan perilaku terkait reward dan pembelajaran. Kondisi ini dikaitkan dengan depresi dan gangguan kemampuan beradaptasi terhadap stres.

4. Kadar hormon stres kronis

Insulin diketahui dapat memicu berbagai hormon respons stres. Namun, resistensi insulin di otak dapat mengganggu mekanisme umpan balik negatif pada jalur hormon stres otak. 

Akibatnya, terbentuk siklus berulang antara gangguan fungsi insulin dan peningkatan kadar stres. Resistensi insulin dapat memicu depresi dengan cara menimbulkan respons stres yang tidak normal di dalam otak.

5. Peningkatan peradangan

Kondisi ini berdampak pada otak dengan menurunkan aktivitas serotonin. TNF-α adalah zat kimia pro-inflamasi yang kadarnya teramati meningkat pada pasien gula darah tinggi. 

Hal ini menurunkan kadar serotonin di otak. Serotonin adalah neurotransmiter yang berperan dalam depresi, obat penghambat ambilan kembali serotonin yang meningkatkan kadar serotonin di otak biasanya diresepkan sebagai antidepresan.

6. Diet tinggi karbohidrat

Tingkat kecemasan cenderung menurun ketika pola makan tinggi karbohidrat diganti dengan pola makan sehat yang kaya protein, lemak sehat, vitamin, dan serat. Karena kadar glukosa tidak lagi melonjak dengan pola makan baru ini, tubuh tidak memicu respons kecemasan.

Risiko depresi: kaitannya dengan indeks dlikemik

Sebuah studi inovatif yang diterbitkan dalam American Journal of Clinical Nutrition menemukan bahwa wanita yang menjalani pola makan dengan indeks glikemik tertinggi memiliki kemungkinan 23% lebih besar untuk mengalami depresi. 

Demikian pula, sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psychiatry Research mengamati lebih dari 90.000 wanita pascamenopause dan menemukan bahwa mereka yang menjalani pola makan dengan indeks glikemik tinggi memiliki risiko lebih besar mengalami depresi dalam kurun waktu tiga tahun.

Kaitan ini juga mencakup masalah kecemasan. Sebuah studi tahun 2018 dalam jurnal Medical Hypotheses menemukan bahwa fluktuasi gula darah yang cepat dapat memicu respons stres fisiologis yang menyerupai gejala kecemasan.”

Seiring waktu, stres fisiologis yang berulang ini dapat berkontribusi pada gangguan kecemasan klinis pada individu yang rentan.

Baca Juga: Lonjakan Gula Darah & Asam Lambung Intai Kebiasaan Buruk Lewatkan Sarapan Pagi

Tips menjaga kesehatan mental pada pasien gula darah tinggi

Berikut adalah tips menjaga kesehatan mental pada pasien gula darah tinggi:

1. Utamakan kualitas karbohidrat daripada kuantitas

Alih-alih menghindari karbohidrat sepenuhnya, pilihlah sumber karbohidrat yang tidak diproses dan kaya serat. Pilih biji-bijian utuh seperti quinoa, dan beras merah.

Selain itu, pastikan untuk mengonsumsi ubi jalar dan labu yang menyediakan energi stabil tanpa menyebabkan fluktuasi kadar gula darah yang drastis.

2. Jaga keseimbangan gula darah 

Anda harus memadukan karbohidrat dengan protein, lemak sehat, dan serat. Usahakan untuk makan secara teratur guna mencegah rasa lapar yang ekstrem dan penurunan kadar gula darah secara drastis.

Pertimbangkan untuk makan dalam porsi lebih kecil, namun lebih sering jika merasakan perubahan suasana hati di antara waktu makan.

3. Waspadai gula tersembunyi

Baca label dengan cermat, gula tambahan sering kali tersembunyi dalam makanan yang tampak sehat. Berhati-hatilah terutama terhadap minuman yang memasok gula tanpa memberikan sinyal kenyang.

Ingatlah bahwa pemanis alami tetap memengaruhi kadar gula darah dan sebaiknya dikonsumsi dengan bijak.

4. Pertimbangkan metabolisme 

Tidak semua orang merespons karbohidrat dengan cara yang sama. Faktor-faktor seperti sensitivitas insulin, komposisi mikrobioma usus, dan variasi genetik memengaruhi cara tubuh dan otak memproses berbagai jenis karbohidrat.

Demikian hubungan antara kesehatan mental dan kadar gula darah, semoga membantu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

AI Tutor Bahasa Asing Tidak Serta-Merta Gantikan Peran Tutor Manusia, Ini Alasannya

AI bisa membuat pembelajaran bahasa lebih scalable dan terjangkau, tanpa menghilangkan peran tutor manusia.

Kenalan dengan Aplikasi Berlatih Berbicara Bahasa Inggris Berbasis AI Ini, yuk

Apa, sih, enaknya berlatih berbicara Bahasa Inggris dari aplikasi berbasis AI. Simak penjelasan fitur dari aplikasi AI tutor ini. 

Ide Bisnis Rumahan Ibu Rumah Tangga Modal Rp 1 Juta, Cocok untuk Pemula

Ini cari ide bisnis rumahan ibu rumah tangga modal Rp1 juta yang fleksibel, minim stok, dan realistis dimulai dari rumah.

Menjangkau 7 Wisata Halal di Maroko Terpopuler

Maroko menawarkan beragam destinasi menarik bagi wisatawan muslim, mulai dari kota bersejarah, masjid, hingga panorama alam yang memukau.

Hipertensi Bisa Diam-Diam Tingkatkan Risiko Stroke, Ini yang Perlu Diketahui

​Hipertensi dan gangguan irama jantung bisa muncul tanpa disadari. Kenali risikonya dan mulai lebih rutin memantau kesehatan.

Provinsi Ini Masih Hujan Sangat Lebat, Simak Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (11/8)

BMKG memberi peringatan dini cuaca besok Sabtu 12 September 2026 dengan status Siaga hujan sangat lebat dan Waspada hujan lebat di provinsi ini.

Desain Rumah 9x9 Meter 3 Kamar yang Lega dan Nyaman untuk Keluarga

Rumah 9x9 meter bisa punya 3 kamar tidur dan ruang keluarga. Simak cara menata 81 m² agar tetap lega, nyaman, dan fungsional.

Setelah Utang Lunas, Begini Cara Membangun Dana Darurat dari Nol

Setelah utang lunas, jangan suka boros ya. Ini cara membangun dana darurat Rp 5 juta hingga 3-6 bulan pengeluaran secara bertahap.

Produk Halal, Parfum Niche, hingga AI, Ini Tren Kecantikan yang Makin Dilirik

​Produk halal, parfum niche, hingga teknologi AI menjadi bagian dari perkembangan tren kecantikan yang akan disorot di Cosmoprof Asia 2026.

Cara Menata Rumah 5×12 Meter agar Sejuk, Terang, dan Tidak Pengap

Cara menata rumah 5×12 meter punya tantangan tersendiri karena bentuk lahannya cenderung memanjang dengan lebar terbatas.