MOMSMONEY.ID - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak beragam pada pekan ini. Pada Selasa (29/9), rupiah ditutup Rp 17.997 per dolar AS, nyaris mendekati Rp 18.000.
Namun, secara keseluruhan rupiah di pasar spot pada pekan ini justru menguat 0,12% dari posisi Rp 17.903 per dolar AS pada Jumat (25/9) pekan lalu.
Sementara berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah menguat 0,11% dari posisi Rp 17.917 per dolar AS pada pekan lalu.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pelemahan rupiah kali ini lebih banyak dipengaruhi tekanan global yang kemudian diperbesar oleh menipisnya bantalan eksternal Indonesia.
Menurut Josua, kenaikan imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS menjadi salah satu tekanan utama. Yield US Treasury tenor 10 tahun telah berada di sekitar 5,2%, sementara yield SBN Indonesia sekitar 7,1%-7,2%.
Baca Juga: Rupiah Bertahan di Rp 18.000 atau Tembus Rp 18.200, Ini 5 Indikator Penentu
"Tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak berasal dari kombinasi dolar kuat, imbal hasil global yang tinggi, harga minyak yang mahal, serta aliran portofolio yang kurang mendukung," ujar Josua, Selasa (29/9).
Harga minyak yang tinggi juga menjadi perhatian karena dapat meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi sekaligus menekan neraca perdagangan Indonesia.
Meski demikian, Josua menilai kondisi tersebut belum menunjukkan hilangnya kepercayaan secara menyeluruh terhadap aset Indonesia. Tekanan pasar lebih mencerminkan kombinasi faktor eksternal dan arus portofolio yang kurang mendukung.
Josua juga menilai perubahan strategi intervensi Bank Indonesia (BI) bukan menjadi penyebab utama pelemahan rupiah. Menurutnya, BI lebih banyak mengubah komposisi instrumen intervensi, dengan memperbesar penggunaan transaksi berjangka.
"Instrumen BI efektif untuk mengatur proses penyesuaian, tetapi tidak dapat sendirian membalikkan guncangan eksternal yang berlangsung terus-menerus," jelasnya.
Baca Juga: Mengurai Penyebab Rupiah Sempat Kembali Bertengger di Rp 18.000
Untuk sisa 2026, Josua memperkirakan rupiah masih akan bergerak volatil di sekitar Rp 17.800-Rp 18.200 per dolar AS. Risiko pelemahan menuju Rp 18.500 meningkat jika yield AS tetap tinggi, harga minyak kembali naik, arus dana asing terus keluar, dan neraca perdagangan Indonesia melemah.
Sebaliknya, rupiah berpeluang menguat apabila yield AS turun, harga minyak mereda, serta arus modal asing kembali masuk ke pasar Indonesia.
Josua menyebut level Rp 17.800 sebagai sasaran penguatan awal. Sementara level Rp 17.600 masih realistis dicapai apabila tekanan global mereda secara signifikan.
Adapun Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memproyeksikan rupiah akan berada di rentang yang lebar.
"Jika ketidakpastian eksternal mereda, maka rupiah dapat kembali mengarah ke Rp 17.500 per dolar AS," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News