MOMSMONEY.ID - Cek cara mengenali modus penipuan perbankan terbaru ini agar rekening Anda tetap aman dan tidak jadi korban kejahatan digital.
Aktivitas perbankan digital di Indonesia terus meningkat, tetapi di sisi lain ancaman penipuan juga ikut berkembang semakin canggih.
Banyak korban berasal dari kalangan usia produktif, mulai dari mahasiswa, pekerja kantoran, hingga pelaku usaha online.
Modusnya tidak lagi sederhana karena pelaku memanfaatkan teknologi sekaligus celah psikologis korban. Melansir dari laman website OCBC, penipuan perbankan didefinisikan sebagai kejahatan yang memanfaatkan layanan atau identitas perbankan untuk keuntungan tidak sah dan merugikan nasabah.
“Penipuan perbankan adalah segala bentuk kejahatan yang memanfaatkan layanan atau identitas perbankan untuk memperoleh keuntungan tidak sah dan merugikan nasabah,” mengutip dari laman website OCBC.
Baca Juga: Sudah Kerja Keras Tapi Belum Kaya? Ini 5 Pola Pikir yang Sering Jadi Penghambat
Apa itu penipuan perbankan dan mengapa makin marak?
Penipuan perbankan adalah tindakan kriminal yang menyasar data dan dana nasabah melalui manipulasi sistem atau penyalahgunaan informasi pribadi. Perkembangan teknologi finansial memang memudahkan transaksi, tetapi juga membuka ruang baru bagi kejahatan siber.
Tingginya penggunaan mobile banking, dompet digital, dan transaksi online membuat data pribadi semakin sering digunakan di ruang digital. Jika tidak diimbangi kewaspadaan, celah sekecil apa pun bisa dimanfaatkan pelaku.
Modus penipuan perbankan yang sering terjadi
Berikut beberapa modus yang paling sering ditemukan di Indonesia dan perlu diwaspadai.
1. Phishing berkedok pesan resmi
Phishing biasanya hadir dalam bentuk email, SMS, atau pesan instan yang menyerupai notifikasi resmi bank. Isinya sering menyebut akun bermasalah, transaksi mencurigakan, atau pembaruan sistem.
Korban diarahkan untuk mengklik tautan tertentu. Situs yang dibuka tampak meyakinkan, padahal palsu. Saat korban memasukkan user ID, password, nomor kartu, atau OTP, data tersebut langsung jatuh ke tangan pelaku.
2. Penyamaran sebagai petugas bank
Pelaku menelepon atau mengirim pesan dengan gaya formal dan meyakinkan. Mereka mengaku sebagai petugas bank dan menyebut adanya transaksi mencurigakan.
Dalam situasi panik, korban sering kali tanpa sadar memberikan PIN, OTP, atau kode verifikasi. Padahal, pihak bank resmi tidak pernah meminta data rahasia melalui telepon atau chat.
3. Skimming dan card trapping di ATM
Skimming dilakukan dengan alat yang menyalin data kartu saat digunakan di mesin ATM atau alat pembayaran. Sementara card trapping membuat kartu tertahan di mesin.
Ketika korban bingung, pelaku berpura pura membantu dan mencoba mengetahui PIN. Data tersebut kemudian digunakan untuk menarik dana tanpa izin.
Baca Juga: Gaji UMR Tetap Bisa Nabung? Ini Langkah agar Keuangan Anda Lebih Aman di 2026
4. Rekayasa sosial yang memanfaatkan emosi
Rekayasa sosial atau social engineering mengandalkan manipulasi psikologis. Pelaku bisa menyamar sebagai kerabat, teman, atau pihak tertentu.
Korban dibuat panik, takut, atau merasa kasihan sehingga rela memberikan informasi penting atau mentransfer uang. Modus ini sering tidak disadari karena korban merasa sedang membantu.
5. Dampak penipuan perbankan bagi korban
Kerugian tidak hanya berupa hilangnya dana. Banyak korban mengalami stres, rasa cemas, bahkan trauma bertransaksi digital. Dalam beberapa kasus, dana yang hilang sulit kembali karena sudah dipindahkan ke berbagai rekening.
Selain itu, kebocoran data pribadi bisa berdampak jangka panjang. Identitas korban berisiko digunakan untuk tindakan ilegal lainnya.
Cara mengatasi penipuan perbankan dengan cepat
Jika Anda terlanjur menjadi korban, lakukan langkah berikut sesegera mungkin.
1. Amankan seluruh akses rekening
Segera ganti PIN, password, dan kode akses mobile banking. Lakukan pemblokiran kartu atau rekening sementara jika ditemukan transaksi mencurigakan.
Semakin cepat tindakan dilakukan, semakin besar peluang mencegah kerugian lebih lanjut.
2. Laporkan ke pihak bank dan otoritas resmi
Buat laporan resmi ke bank tempat Anda bertransaksi. Simpan bukti seperti tangkapan layar dan riwayat percakapan.
Pelaporan juga penting dilakukan ke otoritas terkait agar kasus dapat ditindaklanjuti dan mencegah korban lain.
3. Tingkatkan literasi dan kewaspadaan digital
Jangan pernah membagikan PIN, OTP, atau kode verifikasi kepada siapa pun. Pastikan hanya mengakses layanan perbankan melalui aplikasi resmi.
Aktifkan notifikasi transaksi dan autentikasi dua faktor untuk perlindungan tambahan.
Baca Juga: Jangan Minder Soal Gaji! Cara Mengatur Keuangan Pribadi biar Lebih Tenang
Strategi aman bertransaksi di era digital
Dalam pengalaman saya mengedukasi masyarakat soal keamanan finansial, kunci utamanya adalah tidak terburu buru. Berhenti sejenak sebelum mengklik tautan atau memberikan data pribadi bisa menyelamatkan rekening Anda.
Periksa kembali alamat situs, hindari menggunakan jaringan publik untuk transaksi finansial, dan rutin memperbarui aplikasi perbankan.
Edukasi keluarga juga penting, terutama orang tua yang mungkin belum terbiasa dengan pola kejahatan digital terbaru.
Penipuan perbankan di tahun 2026 semakin kompleks dan menyasar siapa saja. Modus seperti phishing, penyamaran petugas bank, skimming, dan rekayasa sosial harus dikenali sejak dini.
Langkah cepat mengamankan rekening dan melapor ke pihak resmi dapat meminimalkan kerugian. Lebih dari itu, meningkatkan literasi digital adalah perlindungan jangka panjang bagi keamanan finansial Anda.
Tetap waspada, bijak, dan teliti agar transaksi digital tetap aman di tengah perkembangan teknologi.
Selanjutnya: Bea Cukai Luncurkan Desain Pita Cukai 2026 Bertema Alat Musik Tradisional
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News