MOMSMONEY.ID - Yuk, simak cara santai menabung dengan gaji UMR ini agar keuangan Anda tetap stabil dan punya dana aman tiap bulan.
Banyak pekerja di Indonesia merasa gaji UMR selalu habis sebelum akhir bulan. Harga kebutuhan naik, biaya hidup bertambah, sementara penghasilan terasa segitu saja.
Akhirnya, niat menabung sering kalah oleh kebutuhan harian. Padahal, dengan cara yang tepat, menabung tetap bisa dilakukan meski penghasilan terbatas.
Melansir dari laman website OCBC, kunci utama bukan soal besar kecilnya nominal, tetapi konsistensi dalam menyisihkan uang setiap bulan.
“Menabung tidak selalu harus dimulai dari nominal besar, target kecil tapi konsisten justru lebih berdampak,” mengutip dari laman website OCBC.
Baca Juga: Cek Arah Hadap Rumah yang Ideal di Indonesia dan Dampaknya pada Berbagai Hal
Kenapa gaji UMR terasa cepat habis?
UMR memang ditetapkan untuk memenuhi kebutuhan dasar satu orang. Jadi ketika penghasilan tersebut dipakai untuk membantu keluarga atau sudah memiliki tanggungan, tekanan keuangan otomatis lebih besar.
Masalah yang sering terjadi biasanya bukan hanya soal nominal gaji, tapi pola pengelolaannya. Tidak ada anggaran jelas, pengeluaran kecil tidak dicatat, dan tabungan selalu jadi prioritas terakhir. Tanpa disadari, uang keluar sedikit demi sedikit sampai akhirnya tidak tersisa.
Ubah cara pandang soal menabung
Banyak orang menabung kalau ada sisa uang. Faktanya, sisa itu jarang ada. Cara yang lebih efektif adalah menyisihkan uang di awal, begitu gaji masuk.
Coba mulai dari 5% sampai 10% dulu. Tidak perlu besar. Yang penting rutin. Dalam praktik perencanaan keuangan, kebiasaan kecil yang konsisten jauh lebih kuat dibanding semangat besar yang hanya bertahan satu atau dua bulan.
Saat tabungan dianggap kebutuhan wajib, bukan pilihan, perlahan kondisi finansial akan terasa lebih terkontrol.
Tentukan target yang masuk akal
Sering kali kita gagal menabung karena targetnya terlalu tinggi. Misalnya gaji Rp3.000.000 tapi ingin langsung menyisihkan Rp1.000.000. Akhirnya malah stres sendiri.
Lebih baik mulai dari Rp100.000 sampai Rp300.000 per bulan. Kalau konsisten selama setahun, jumlahnya sudah cukup terasa.
Dari situ, target bisa dinaikkan perlahan sesuai kemampuan. Menabung itu maraton, bukan lomba sprint.
Baca Juga: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Hari Jumat 13 Februari 2026: Saatnya Kolaborasi
Gunakan anggaran sederhana
Anda tidak perlu aplikasi rumit. Cukup bagi penghasilan ke dalam tiga bagian besar.
Sebagian untuk kebutuhan pokok seperti makan, transportasi, dan tempat tinggal. Sebagian untuk kebutuhan tambahan. Sisanya untuk tabungan dan dana darurat.
Kalau belum bisa menyisihkan 20%, tidak masalah. Mulai dari yang kecil dulu. Yang penting ada alokasi khusus untuk masa depan.
Anggaran membuat kita sadar batas kemampuan, jadi pengeluaran tidak kebablasan.
Waspadai pengeluaran kecil yang sering tidak terasa
Kadang bukan belanja besar yang bikin boros, tapi pengeluaran harian yang terlihat sepele. Ngopi, jajan, atau langganan hiburan digital.
Kalau dihitung, Rp20.000 per hari bisa jadi Rp400.000 dalam sebulan. Angka ini cukup besar untuk ditabung.
Bukan berarti harus berhenti total, tapi kurangi sebagian dan alihkan ke tabungan. Hasilnya bisa terasa dalam beberapa bulan saja.
Manfaatkan sistem autodebet biar tidak lupa
Menabung manual kadang tergoda untuk dibatalkan. Solusinya, gunakan sistem autodebet. Begitu gaji masuk, dana otomatis dipindahkan ke rekening tabungan atau tabungan berjangka.
Cara ini membantu membangun disiplin tanpa harus berpikir ulang setiap bulan. Setoran bisa dimulai dari Rp100.000 dengan jangka waktu fleksibel sesuai kemampuan.
Dengan sistem otomatis, peluang uang terpakai untuk hal tidak penting jadi lebih kecil.
Cari tambahan penghasilan kalau memungkinkan
Kalau pengeluaran sudah ditekan tapi masih terasa berat, mungkin saatnya menambah pemasukan.
Sekarang banyak peluang yang bisa dicoba, seperti freelance online, jualan makanan rumahan, jasa desain, atau les privat.
Tambahan Rp500.000 per bulan saja sudah sangat membantu mempercepat pembentukan dana darurat.
Di era digital seperti sekarang, peluang terbuka lebih luas asalkan mau belajar dan mencoba.
Baca Juga: Tagihan Listrik Bisa Aman! Ini 9 Cara Hangatkan Kamar Tidur Anda Tanpa Boros
Dahulukan dana darurat sebelum berpikir investasi
Banyak orang ingin langsung investasi karena terlihat menarik. Padahal, yang paling penting adalah dana darurat.
Idealnya, dana darurat minimal tiga sampai enam kali pengeluaran bulanan. Kalau pengeluaran Rp2.500.000 per bulan, target dana darurat sekitar Rp7.500.000 sampai Rp15.000.000.
Dana ini akan jadi penyelamat saat ada kondisi mendadak seperti sakit atau kehilangan pekerjaan. Tanpa dana darurat, keuangan mudah goyah.
Intinya ada di konsistensi
Dari pengalaman para perencana keuangan, stabilitas bukan soal siapa yang bergaji paling besar. Tapi siapa yang paling disiplin mengatur uangnya.
Gaji UMR tetap bisa menabung asal ada strategi yang jelas. Mulai dari nominal kecil, buat anggaran, kurangi pengeluaran tidak penting, dan lakukan secara konsisten.
Menabung dengan gaji UMR memang tidak selalu mudah, tapi sangat mungkin dilakukan. Dengan pola pikir yang tepat dan langkah sederhana yang dijalankan rutin, kondisi finansial bisa lebih aman dan terkontrol.
Jangan menunggu gaji naik untuk mulai menabung. Mulailah sekarang dengan kemampuan yang ada. Karena pada akhirnya, masa depan yang stabil dibangun dari kebiasaan kecil yang dilakukan hari ini.
Selanjutnya: Sambut Ramadhan 2026, Ini Link Poster Gratis di Canva, Cek Juga Tanggal Awal Puasa
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News