MOMSMONEY.ID - Yuk cek 5 pola pikir finansial yang bikin sulit kaya dan cara realistis mengubahnya mulai sekarang. Catat ulasannya, ya.
Sudah bekerja dari pagi sampai sore, bahkan lembur, tapi kondisi keuangan terasa begitu-begitu saja? Ternyata, banyak orang sudah mengalami hal serupa, lo.
Penghasilan ada, pekerjaan stabil, tetapi tabungan dan aset belum benar-benar berkembang. Ternyata, masalahnya sering bukan di jumlah gaji, melainkan di cara kita memandang uang.
Melansir dari New Trader U, ada sejumlah pola pikir yang terlihat aman dan masuk akal, tetapi justru membuat seseorang sulit naik level secara finansial.
“Keyakinan yang terasa aman sering kali menjadi batas tak terlihat yang menjaga seseorang tetap berada di posisi finansial yang sama,” ujar Steve Burns.
Baca Juga: Tren Warna Dapur Spearmint Jadi Pilihan Segar yang Bikin Area Dapur Lebih Hidup
Gaji besar dianggap sudah cukup
Banyak dari kita tumbuh dengan pemahaman bahwa kunci sukses adalah punya gaji tinggi. Sekolah yang rajin, dapat pekerjaan tetap, naik jabatan, lalu hidup aman. Tidak salah, tetapi ada satu hal yang sering terlewat.
Gaji adalah penghasilan aktif. Artinya, uang masuk selama kita bekerja. Ketika berhenti bekerja, penghasilan ikut berhenti. Inilah alasan mengapa banyak orang dengan gaji besar tetap merasa belum benar-benar mapan.
Orang yang kondisi finansialnya kuat biasanya tidak hanya mengandalkan gaji. Mereka membangun aset seperti investasi, bisnis sampingan, atau properti yang bisa menghasilkan uang tanpa harus selalu hadir.
Langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah mulai menyisihkan sebagian penghasilan secara konsisten untuk investasi. Tidak perlu langsung besar, yang penting rutin.
Mengira semua utang itu berbahaya
Sejak kecil kita sering mendengar nasihat untuk menjauhi utang. Nasihat ini memang penting, terutama untuk menghindari cicilan konsumtif yang memberatkan. Namun dalam dunia keuangan, tidak semua utang itu buruk.
Ada perbedaan antara utang untuk membeli barang konsumsi dan utang untuk membeli aset produktif. Membeli gawai terbaru dengan cicilan jelas berbeda dengan menggunakan pinjaman untuk mengembangkan usaha atau membeli aset yang bisa menghasilkan pemasukan.
Banyak pelaku usaha menggunakan pinjaman secara terukur untuk mempercepat pertumbuhan bisnisnya. Kuncinya ada di perhitungan matang dan kemampuan mengelola risiko.
Yang perlu dihindari adalah utang yang hanya menambah beban tanpa memberi potensi pemasukan tambahan.
Baca Juga: Kestabilan Finansial: Ini 10 Kunci Sukses Jutawan yang Jarang Terungkap
Terlalu fokus pada rasa aman
Menabung itu baik. Punya dana darurat juga sangat penting. Namun jika semua uang hanya disimpan tanpa strategi pengembangan, nilainya bisa tergerus inflasi.
Harga kebutuhan terus naik setiap tahun. Jika uang hanya diam di rekening tanpa bertumbuh, daya belinya perlahan menurun. Karena itu, penting memahami bahwa risiko bukan untuk dihindari sepenuhnya, melainkan untuk dikelola dengan bijak.
Investasi memang punya risiko, tetapi dengan pengetahuan yang cukup dan strategi yang sesuai profil risiko, potensi pertumbuhan bisa lebih optimal.
Mulailah dengan membangun dana darurat terlebih dahulu, lalu pelajari instrumen investasi yang sesuai dengan tujuan keuangan Anda.
Ingin terlihat sukses di mata orang lain
Tekanan media sosial membuat banyak orang ingin terlihat berhasil. Mobil baru, gadget mahal, liburan mewah sering dianggap sebagai tanda kesuksesan.
Padahal, kekayaan yang sesungguhnya tidak selalu terlihat. Banyak orang yang kondisi finansialnya kuat justru hidup sederhana dan lebih fokus membangun aset dibanding memamerkan gaya hidup.
Setiap keputusan belanja sebenarnya adalah keputusan investasi yang tertunda. Uang yang digunakan untuk gaya hidup berlebihan adalah peluang yang hilang untuk bertumbuh di masa depan.
Bukan berarti tidak boleh menikmati hasil kerja keras, tetapi penting menempatkan prioritas dengan bijak.
Terus menunda mulai investasi
Kalimat seperti menunggu gaji naik atau menunggu kondisi stabil terdengar wajar. Namun dalam keuangan, waktu adalah faktor yang sangat berharga.
Semakin cepat seseorang mulai berinvestasi, semakin besar efek pertumbuhan majemuk yang bisa dirasakan. Bahkan dengan nominal kecil sekalipun, konsistensi dalam jangka panjang dapat memberikan hasil signifikan.
Menunda satu atau dua tahun mungkin terasa tidak masalah sekarang, tetapi dampaknya bisa besar dalam jangka panjang.
Mulai saja dari angka yang mampu disisihkan. Tidak perlu sempurna, yang penting bergerak.
Baca Juga: 7 Kebocoran Finansial yang Sering Menghambat Kekayaan Tanpa Disadari
Saatnya ubah cara pandang soal uang
Banyak orang merasa terjebak di level keuangan yang sama selama bertahun-tahun. Padahal, perubahan tidak selalu membutuhkan lonjakan penghasilan drastis. Sering kali, yang perlu diubah adalah cara berpikir.
Memahami perbedaan antara pendapatan dan aset, membedakan utang konsumtif dan produktif, berani mengambil risiko terukur, serta memulai investasi lebih awal adalah fondasi penting dalam membangun masa depan finansial yang lebih kuat.
Di tengah tantangan ekonomi saat ini, literasi keuangan bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan. Pola pikir yang tepat dan langkah kecil yang konsisten, peluang untuk mencapai kondisi finansial yang lebih stabil dan mandiri terbuka untuk siapa saja.
Selanjutnya: Yen Menuju Kinerja Mingguan Terbaik dalam 15 Bulan Usai Kemenangan Takaichi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News