MOMSMONEY.ID - Merasa sehat dan tetap aktif bukan berarti tubuh terbebas dari risiko penyakit jantung. Beberapa kondisi, seperti hipertensi dan gangguan irama jantung atrial fibrillation (AFib), dapat muncul tanpa disadari dan meningkatkan risiko stroke.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hipertensi pada penduduk usia 18 tahun ke atas mencapai 30,8% berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah.
Namun, berdasarkan diagnosis dokter hanya 8,6%. Perbedaan ini menunjukkan masih banyak masyarakat yang kemungkinan belum mengetahui dirinya mengalami hipertensi.
Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal-Hipertensi Dr. Decsa Medika Hertanto, Sp.PD-KGH, FINASIM mengatakan, hipertensi yang berlangsung lama dapat meningkatkan risiko gangguan irama jantung seperti AFib.
Baca Juga: Risiko Stroke Meningkat, Peluang Pulih Pasien Gula Darah Tinggi Turun 25%
“Hipertensi yang berlangsung dalam jangka panjang dapat memberikan beban pada jantung dan pembuluh darah, sehingga meningkatkan risiko terjadinya gangguan irama seperti AFib,” ujarnya Jumat (11/9).
AFib membuat detak jantung menjadi tidak teratur dan dapat meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah. Jika bekuan tersebut terbawa ke otak, dapat terjadi stroke.
Karena itu, pengendalian tekanan darah dan pemantauan kondisi jantung menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko komplikasi.
Pentingnya pemantauan kesehatan ini juga dirasakan Iwet Ramadhan, penyintas stroke yang kini aktif sebagai Head of Communications Yayasan Jantung Indonesia (YJI).
Setelah mengalami stroke, ia menyadari bahwa tubuh yang terasa sehat belum tentu menunjukkan kondisi kesehatan secara keseluruhan.
“Saya pernah mengalami sendiri bagaimana sebuah masalah kesehatan bisa mengubah hidup kita. Setelah mengalami stroke, saya sadar bahwa merasa sehat dan tetap aktif bukan berarti kita sudah mengetahui kondisi kesehatan kita secara keseluruhan,” ujar Iwet.
Sementara aktor dan presenter Dion Wiyoko menilai, menjaga kesehatan tidak harus dilakukan secara ekstrem.
Baca Juga: Kebiasaan Ini Diam-diam Picu Risiko Penyakit Jantung & Kolesterol Meningkat
Menurutnya, kebiasaan sehat justru perlu dibangun dari aktivitas yang dapat dinikmati dan dilakukan secara konsisten.
“Menurut saya, hidup sehat itu tidak harus selalu berat atau ekstrem. Yang penting adalah bagaimana kita bisa menemukan aktivitas yang kita nikmati dan menjadikannya bagian dari keseharian,” kata Dion.
Selain tetap aktif, menjaga pola makan dan cukup beristirahat, masyarakat dapat membiasakan diri memantau tekanan darah secara rutin.
Pemantauan irama jantung juga dapat dilakukan dengan pemeriksaan ECG, meski hasil yang menunjukkan kemungkinan AFib tetap perlu dievaluasi oleh tenaga kesehatan.
Hal ini menjadi bagian dari pesan World Heart Day 2026 pada 29 September yang mengangkat tema “Heart Disease Can Hide in Plain Sight: Don’t Miss a Beat”.
Omron Healthcare Indonesia melalui kampanye “Keep On, Life On” turut mengajak masyarakat lebih proaktif mengenali risiko dan menjaga kesehatan jantung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News