MOMSMONEY.ID - Harga emas hari ini di pasar global lanjut turun empat hari beruntun. Meningkatya serangan di Timur Tengah dan kekhawatiran inflasi meningkatkan spekulasi kenaikan suku bunga dan mendorong imbal hasil obligasi naik.
Mengutip Bloomberg, Rabu (2/9), harga emas spot turun tipis 0,12% menjadi US$ 4.323,75 per troi ons pada pukul 15.31 WIB. Harga emas sudah turun hampir 6% selama tiga sesi sebelumnya ke level terendah dalam dua minggu.
Imbal hasil obligasi global naik dan dollar AS menguat. Ini terjadi setelah Ketua Fed Kevin Warsh pada Jumat menegaskan kembali komitmennya untuk mengendalikan inflasi, serta AS dan Iran melanjutkan serangan setelah jeda hampir sebulan, yang menyebabkan harga minyak naik.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Terus Turun, Suku Bunga The Fed jadi Sorotan
Tekanan yang saling bertemu tersebut menyebabkan para pedagang meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan 15-16 September 2026. Probabilitas kenaikan hampir 70%, dan mereka memperhitungkan setidaknya ada dua kenaikan pada Maret tahun depan.
Frederik Fischer, manajer portofolio senior untuk dana multi aset dan komoditas di Allianz Gloval Investors, menilai reaksi pasar wajar, dengan penurunan harga emas mencerminkan peningkatan kemungkinan kenaikan suku bunga dan penguatan dollar. "Hal ini juga menyisakan beberapa potensi kejutan positif," katanya mengutip Bloomberg, hari ini.
Washington meluncurkan gelombang serangan baru terhadap target di Iran pada Selasa, dan Teheran mengatakan akan membalas. Ini terjadi setelah beberapa minggu relatif tenang. Kembalinya konflik yang berkelanjutan berisiko meningkatkan biaya energi.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS jangka waktu terpanjang kembali melonjak ke level yang sebelum Menteri Keuangan Scott Bessent mengejutkan pasar bulan lalu dengan memperluas program pembelian kembali atau buyback. Manuver tersebut berhasil sementara waktu menekan imbal hasil, hingga aksi jual kembali berlanjut.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Anjlok hingga Rp 40.000 Jadi Tinggal Segini
Pada Selasa, imbal hasil US Treasury 30 tahun di atas 5,2%, level yang terlihat sebelum Bessent mengumumkan langkah buyback pada 19 Agustus lalu.
Kenaikan ini menandakan bahwa dibutuhkan lebih dari sekadar peneysuaian di luar jadwal terhadap pembelian kembali obligasi oleh Departemen Keuangan untuk meredakan kekhawatiran atas melonjaknya utang dan inflasi. Tekanan tersebut pun meluas ke obligasi jangka panjang di seluruh dunua, yang dipicu oleh kekhawatiran serupa.
Sementara, Gubernur Fed Michael Barr pada Selasa, mengatakan, bank sentral seharusnya siap untuk menaikkan suku bunga jika inflasi gagal mereda. Ia memperingatkan bahwa tekanan harga berisiko menjadi semakin mengakar setelah berada di atas target 2% selama lebih dari lima tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News