MOMSMONEY.ID - Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sudah tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Penggunaannya makin masif, baik di gerai-gerai pusat perbelanjaan hingga pelaku UMKM.
Fitria Irmi Triswati, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia pun mengatakan, sejak QRIS mulai digunakan di tahun 2019, perkembangannya sangat pesat saat ini. Penggunaan QRIS makin masif lantaran masyarakat yang menggunakan handphone yang pesat pula.
Dari sisi transaksi, BI mencatat volume transaksi QRIS sudah mencapai 15,06 miliar hingga Juli 2026. "Target kita di 17 miliar transaksi, tetapi saat ini sudah mencapai lebih dari 15 miliar transaksi," ujar Fitria di Jakarta, Rabu (16/9).
Sementara, jumlah penggunanya hingga Juli 2026 sudah mencapai 67,51 juta dengan jumlah merchant yang menggunakan QRIS sebesar 45,46 juta. Dari total merchant tersebut, sebesar 96,69% merupakan UMKM. Bila dirinci, pelaku usaha mikro sebesar 72%, pelaku usaha kecil sebesar 19,78%, menengah 4,41% dan besar sebesar 2,46%.
"Jadi bayangkan bagaimana QRIS ini hadir membantu teman-teman di usaha yang tergolong UMKM," lanjut Fitria.
Bukan hanya dari sisi pengguna dan volume transaksinya, Fitria juga bilang fitur QRIS terus dikembangkan. Dimulai dari peluncuran di 2019, di 2020 hadir fitur QRIS Tanpa Tatap Muka (TTM), lalu di 2021 hadir QRIS sumber dana kredit. Pada 2022 hadir QRIS Consumer Presented Mode (CPM) serta QRIS Cross Border mulai diimplementasikan di Thailand.
Baca Juga: Dari Kemasan hingga Textile, Ini Peluang Bisnis Printing Saat Ini
Perluasan implementasi QRIS antar negara berlanjut lagi pada 2023, yakni diterapkan di Malaysia dan Singapura. Di tahun yang sama hadir pula QRIS tarik tunai, transfer dan setor tunai. Di 2024, sumber dana QRIS bisa berasal dari kartu kredit Indonesia, dan di tahun 2025 diluncurkan QRIS TAP, dan perluasan penggunaan QRIS di negara lain seperti Jepang.
Implementasi QRIS Antarnegara pun terus diperluas, yang mana pada 2026 Layanan QRIS Antarnegara resmi terhubung dan dapat digunakan untuk transaksi timbal balik antara Indonesia dengan Korea Selatan serta China.
Bila melihat nilai transaksi QRIS Antarnegara ini, volume transaksi pengguna negara mitra di Indonesia (inbound) hingga Juli 2026 sudah mencapai 21 juta transaksi dengan nominal Rp 5,9 triliun.
Sementara, di periode yang sama, volume transaksi pengguna asal Indonesia di negara mitra dengan QRIS (outbound) sebesar 4,66 juta transaksi dengan nominal Rp 1,73 triliun.
Fitria menyebut, tahun ini BI menargetkan akan memperluas koridor QRIS Antarnegara hingga ke 8 negara. Menurutnya, sebagai upaya perluasan, BI sudah melakukan penjajakan ke beberapa negara seperti India, Vietnam, Saudi Arabia, hingga Australia.
"Dalam perluasan itu tentu banyak hal yang perlu dilakukan. Harus ada perjanjian kerja samanya, kemudian nanti bisnis-bisnisnya juga harus dibicarakan, sampai dengan uji coba dan peluncuran sistemnya," kata Fitria.
Bukan hanya pengembangan ke negara-negara lain, Fitria memastikan bahwa berbagai fitur QRIS pun akan terus didalami dengan negara mitra sehingga kualitasnya makin baik.
Fitria juga memastikan pengembangan fitur QRIS selalu dilakukan. Pengembangan ini disertai dengan sosialisasi dan edukasi.
"Kami juga terus mengembangkan fitur-fitur QRIS sehingga bisa menjadi solusi bagi permasalahan atau permintaan dari masyarakat untuk alat pembayaran yang cepat, mudah, murah, aman dan andal (CEMUMUAH)," ujar Fitria.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News