MOMSMONEY.ID - Pasar saham Indonesia melorot tiga hari berturut-turut, dengan tekanan yang semakin dalam pada perdagangan hari ini, Selasa (22/9). IHSG ditutup turun 107,68 poin atau setara 1,69% ke level 6.277.
Sejumlah saham yang menjadi penggerus terbesar indeks adalah BYAN -9,71%, BBRI -3,64%, DSSA -4,39%, DCII -1,87% dan BRMS -3,62%. Pergerakan pasar domestik berlawanan dengan mayoritas pasar saham Asia yang cenderung menguat.
Menurut Eastspring Investments Indonesia, pelaku pasar mengambil sikap lebih hati-hati menjelang keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, yang akan diumumkan besok, di tengah ekspektasi konsensus bahwa BI akan mempertahankan suku bunga di level 5,75%.
Pelemahan nilai rukar rupiah serta kenaikan harga minyak Brent yang kembali ke atas US$ 100 per barel, turut membebani sentimen pasar. Rupiah bergerak melemah ke level Rp 17.884 per dollar AS jelang keputusan BI.
Baca Juga: Pasar Saham Keok, IHSG Selasa (22/9) Ditutup Turun 1,69%
Dari sisi domestik, pengesahan UU tentang Pengaturan Reforma Agraria turut menjadi perkembangan yang dicermati pasar. Regulasi itu bertujuan memperkuat kerangka penyelesaian konflik agraria, redistribusi tanah, serta kepastian pengelolaan lahan.
"Dalam jangka pendek, pelaku pasar masih mencermati detail implementasi dan aturan turunannya, terutama terkait mekanisme penetapan dan pengelolaan objek reforma agraria serta dampaknya terhadap kepastian berusaha dan pengelolaan aset berbasis lahan," jelas Eastpring dalam Spring Flash 22 September 2026.
Volatilitas tetap tinggi
Di sisi lain, pasar obligasi juga melemah. Yield SBN tenor 5 tahun naik 4,45 basis poin menjadi 6,96, sementara yield tenor 10 tahun naik terbatas 0,94 basis poin menjadi 7,11%.
Eastspring mencatat, penurunan pasar saham hari ini kelanjutan dari pelemahan yang terjadi pasca-IHSG mencapai level tertinggi tiga bulan di 6.686 pada 8 September lalu. Di tengah meningkatnya volatilitas pasar dan aksi profit taking, pasar saat ini masih dalam tahap konsolidasi recovery yang cukup solid dalam beberapa bulan terakhir.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Volatil di atas US$ 4.300 saat Harga Minyak Melandai
Namun, investor perlu tetap berhati-hati, tanpa bereaksi berlebihan terhadap pergerakan jangka pendek.
Ketidakpastian terkait arah kebijakan moneter, pergerakan rupiah dan harga minyak, serta perkembangan kebijakan domestik berpotensi menyebabkan volatilitas tetap tinggi.
Dalam kondisi ini, Eastspring menyarankan investor disiplin menjaga alokasi aset dan diversifikasi tetap menjadi kunci. Alih-alih mencoba menentukan titik terendah pasar, investor dapat mengambil pendekatan yang lebih bertahap dan selektif, dengan tetap fokus pada fundamental, kualitas aset serta tujuan investasi jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News