MOMSMONEY.ID - Yuk, simak link pembatalan transaksi palsu semakin banyak dan mengincar pengguna perbankan digital. Kenali ciri-cirinya supaya tidak jadi korban.
Dengan aktivitas digital yang semakin padat, risiko kejahatan siber juga meningkat. Salah satu modus yang sering terjadi adalah penipuan yang mengatasnamakan pembatalan transaksi dengan pesan yang mendesak.
Pelaku memanfaatkan kepanikan korban agar mereka langsung bertindak tanpa berpikir panjang. Melansir dari OCBC, kewaspadaan pengguna adalah kunci utama untuk menjaga akses perbankan tetap aman.
"Setiap informasi terkait transaksi harus diverifikasi melalui kanal resmi sebelum mengambil tindakan apapun," mengutip dari laman OCBC.
Baca Juga: Tabungan Ideal untuk Usia 30 Tahun? Cek Panduan Realistis Amankan Finansial
Modus phishing pembatalan transaksi yang sering terjadi
Penipuan jenis ini biasanya dimulai dengan email atau pesan digital yang mengatasnamakan bank. Isinya menyebutkan adanya transaksi mencurigakan yang perlu segera dibatalkan. Bahasa yang digunakan sengaja dibuat mendesak agar korban tidak sempat melakukan pengecekan.
Setelah itu, korban diarahkan untuk mengklik tautan tertentu. Tautan tersebut sangat mirip dengan halaman resmi perbankan digital.
Tanpa sadar, korban diminta untuk memasukkan data penting seperti ID pengguna, kata sandi, atau informasi akun lainnya. Data inilah yang kemudian dimanfaatkan pelaku untuk melakukan transaksi yang tidak sah.
Kenapa link palsu itu berbahaya banget?
Link palsu bukan cuma soal penampilan yang menipu, tapi juga soal pencurian akses. Begitu data login dimasukkan, pelaku bisa langsung menguasai akun perbankan. Dampaknya bisa berupa pengurasan saldo, perubahan pengaturan akun, sampai penyalahgunaan identitas digital.
Bagi pelaku usaha, risiko ini jauh lebih besar karena bisa mengganggu arus keuangan dan kepercayaan mitra bisnis. Ini alasan kenapa keamanan data perbankan itu penting banget dan nggak boleh dianggap remeh.
Ciri-ciri pesan pembatalan transaksi yang patut dicurigai
Ada beberapa tanda umum yang bisa dikenali dari awal. Pesan biasanya datang dari alamat email atau nomor yang nggak dikenal. Isinya memaksa korban untuk segera bertindak tanpa memberi waktu berpikir. Tautan yang disertakan sering kali punya penulisan alamat yang mirip tapi nggak identik dengan situs resmi.
Kalau menemukan ciri-ciri kayak gini, sebaiknya langsung berhenti dan jangan melanjutkan instruksi apa pun. Sikap tenang justru jadi perlindungan terbaik.
Baca Juga: 10 Kebiasaan Finansial yang Tanpa Disadari Menghambat Kemapanan Hidup
Langkah aman melindungi akses perbankan digital
Langkah pertama yang paling penting adalah jangan sembarangan mengklik tautan. Pastikan selalu memeriksa alamat situs sebelum login.
Informasi login dan data perusahaan nggak boleh dibagikan ke siapa pun, termasuk pihak yang mengaku sebagai petugas bank.
Kalau menerima pesan mencurigakan, segera abaikan dan lakukan pemblokiran. Untuk memastikan kebenaran informasi, lakukan pengecekan langsung melalui kanal resmi perbankan yang digunakan.
Pentingnya verifikasi melalui kanal resmi
Setiap notifikasi terkait transaksi, keamanan akun, atau pembatalan harus dikonfirmasi secara mandiri. Kanal resmi menjadi satu satunya rujukan yang dapat dipercaya. Dengan melakukan verifikasi, risiko penipuan dapat ditekan secara signifikan.
Kebiasaan ini mencerminkan literasi digital yang baik dan membantu pengguna terhindar dari manipulasi informasi yang semakin canggih.
Literasi digital sebagai benteng utama kejahatan siber
Kejahatan siber terus berkembang mengikuti perilaku pengguna. Oleh karena itu, peningkatan literasi digital menjadi kebutuhan bersama. Pengguna yang paham pola penipuan tidak mudah terpancing oleh pesan bernada darurat.
Semakin banyak masyarakat yang sadar, semakin kecil ruang gerak pelaku kejahatan digital. Edukasi dan kewaspadaan adalah kombinasi terbaik untuk perlindungan jangka panjang.
Selanjutnya: Permintaan Tinggi di AS, Meta Tunda Peluncuran Global Kacamata Ray-Ban Display
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News