MOMSMONEY.ID - Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menegaskan bahwa anak-anak tetap menjadi kelompok paling rentan terhadap kematian akibat Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia.
Hal ini ia sampaikan dalam acara edukasi publik ABCD Land – Ayo Bersama Cegah DBD! yang diselenggarakan oleh PT Takeda Innovative Medicines di Jakarta Selatan, Jumat (19/6).
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa dalam tujuh tahun terakhir, kematian akibat DBD paling banyak terjadi pada anak usia 5–14 tahun, dengan proporsi mencapai 59% dari seluruh kematian DBD pada tahun 2025.
Sementara itu, per Mei 2026, Indonesia telah mencatat 39.672 kasus DBD dengan 105 kematian, dan Jawa Barat menjadi provinsi dengan kasus tertinggi, melampaui 9.000 kasus.
Prof. Hartono mengingatkan bahwa masih banyak orang tua yang keliru menganggap DBD sebagai penyakit musiman semata.
"Hingga saat ini masih banyak orang tua yang menganggap DBD sebagai penyakit musiman yang hanya perlu diwaspadai pada waktu-waktu tertentu. Padahal, risiko penularan dapat terjadi kapan saja, dan pada sebagian kasus dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa, termasuk syok dengue yang memerlukan penanganan segera," ujarnya.
Baca Juga: United Against Dengue Jadi Langkah Mencegah DBD
Prof. Hartono menambahkan bahwa perlindungan anak dari DBD tidak bisa hanya mengandalkan satu pendekatan.
"Perlindungan terhadap anak tidak bisa hanya mengandalkan satu langkah. Menerapkan 3M Plus dan mengenali gejala DBD sejak dini tetap penting. Selain itu, pendekatan yang benar-benar komprehensif termasuk perlindungan dari dalam melalui vaksinasi, juga dapat membantu mengurangi risiko hospitalisasi dan komplikasi akibat DBD," tegasnya.
Risiko DBD pada anak semakin serius mengingat infeksi kedua dapat memperparah kondisi secara signifikan, karena DBD disebabkan oleh empat jenis virus yang berbeda.
Data juga menunjukkan bahwa sekitar 73% kasus dengue terjadi pada kelompok usia 5–44 tahun, menegaskan bahwa ancaman ini nyata di berbagai tahapan usia produktif.
Biaya rawat inap DBD pada anak pun tidak ringan, rata-rata mencapai sekitar Rp6 juta per episode rawat inap jika dihitung termasuk biaya tidak langsung, atau setara hampir dua kali lipat upah minimum bulanan rata-rata nasional tahun 2024.
Menyikapi hal ini, Prof. Hartono mendorong para orang tua untuk segera berkonsultasi dengan dokter anak.
"IDAI mendorong orang tua untuk aktif berkonsultasi dengan dokter anak mengenai langkah perlindungan untuk buah hati mereka. IDAI sudah memberikan rekomendasi untuk vaksin dengue pada anak untuk perlindungan optimal dari DBD," imbuhnya.
IDAI telah mencantumkan vaksin dengue dalam Jadwal Imunisasi Anak Usia 0–18 Tahun Rekomendasi IDAI 2024, dengan pemberian dua dosis.
Bagi anak yang pernah terinfeksi DBD, vaksinasi tetap direkomendasikan dengan jeda 3–6 bulan setelah infeksi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News