MOMSMONEY.ID - Kali ini MomsMoney akan membagikan informasi tentang 4 tipe wanita yang paling rentan terkena kista ovarium. Simak, ya.
Kista ovarium sering kali dianggap sebagai penyakit misterius karena kemunculannya yang sering tanpa gejala hingga ukurannya membesar.
Meskipun kista ovarium bisa menyerang wanita mana pun, namun riset medis menunjukkan bahwa profil kesehatan dan gaya hidup tertentu bisa membuat seseorang memiliki risiko jauh lebih tinggi dibandingkan yang lain.
Baca Juga: Wanita Wajib Tahu! Ini 5 Makanan yang Sering Menyebabkan Kista
Memahami kategori risiko ini adalah langkah preventif krusial agar penanganan dini bisa segera dilakukan. Berdasarkan data klinis dari institusi kesehatan global seperti Mayo Clinic, Johns Hopkins Medicine, dan Healthline, berikut adalah 4 tipe wanita yang paling rentan terkena kista ovarium.
1. Wanita dengan gangguan hormon
Tipe wanita yang paling rentan terkena kista ovarium pertama adalah wanita dengan gangguan hormon.
Wanita yang memiliki gangguan hormon cenderung berisiko terkena kista ovarium, terutama penderita Polycystic Ovary Syndrome (PCOS).
Menurut penjelasan dari Johns Hopkins Medicine, pada penderita PCOS, tubuh memproduksi hormon androgen secara berlebihan yang mengganggu siklus ovulasi normal. Akibatnya, folikel di ovarium tidak berhasil melepaskan sel telur dan justru berkembang menjadi banyak kista kecil.
Jika Anda memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur, pertumbuhan bulu berlebih di area wajah, atau jerawat hormonal yang parah, maka kemungkinan besar Anda termasuk dalam kategori yang sangat rentan terhadap pembentukan kista fungsional maupun patologis.
2. Wanita yang memiliki riwayat endometriosis
Tipe wanita yang paling rentan terkena kista ovarium kedua adalah wanita yang memiliki riwayat endometriosis.
Wanita yang menderita endometriosis memiliki risiko tinggi terkena kista jenis khusus yang disebut endometrioma atau sering dijuluki "kista cokelat".
Mayo Clinic menjelaskan bahwa endometriosis terjadi ketika jaringan yang seharusnya melapisi dinding rahim justru tumbuh di luar rahim, termasuk di ovarium. Jaringan ini tetap merespons siklus menstruasi dengan cara meluruh dan berdarah. Namun, karena tidak memiliki jalan keluar, darah pun terperangkap dan membentuk kantong kista.
Jika Anda sering mengalami nyeri panggul yang ekstrem saat menstruasi atau nyeri saat berhubungan intim, waspadai keberadaan kista ovarium yang dipicu oleh endometriosis ini.
Baca Juga: 5 Olahraga untuk Mengencangkan Payudara Kendur, Bisa Dilakukan di Rumah!
3. Wanita yang mengonsumsi obat pemicu ovulasi (obat kesuburan)
Tipe wanita yang paling rentan terkena kista ovarium ketiga adalah wanita yang mengonsumsi obat pemicu ovulasi (obat kesuburan).
Tipe wanita selanjutnya yang rentan adalah mereka yang sedang menjalani program kehamilan dengan bantuan obat-obatan penyubur kandungan.
Berdasarkan laporan medis dari Healthline, penggunaan obat pemicu ovulasi seperti clomiphene dirancang untuk merangsang ovarium agar melepaskan sel telur. Namun, stimulasi yang berlebihan terkadang menyebabkan ovarium memproduksi lebih dari satu folikel, yang jika tidak pecah akan berkembang menjadi kista ovarium.
Oleh karena itu, wanita yang menjalani terapi kesuburan biasanya memerlukan pemantauan USG rutin oleh dokter. Ini dilakukan untuk memastikan tidak ada kista ovarium yang tumbuh secara agresif akibat stimulasi hormon tersebut.
4. Wanita obesitas atau kelebihan berat badan
Tipe wanita yang paling rentan terkena kista ovarium keempat adalah wanita obesitas atau kelebihan berat badan.
Berat badan yang tidak ideal, terutama obesitas, memiliki korelasi kuat dengan risiko kista ovarium karena pengaruhnya terhadap metabolisme estrogen.
Cleveland Clinic mencatat bahwa sel lemak berlebih di dalam tubuh dapat memproduksi dan menyimpan hormon estrogen tambahan. Tingginya kadar estrogen ini akan menciptakan kondisi "dominasi estrogen" yang mengacaukan sinyal reproduksi. Dan, memicu pertumbuhan jaringan abnormal di ovarium, termasuk kista.
Wanita dalam kategori ini cenderung memiliki risiko kista ovarium yang lebih persisten dan lebih sulit hilang secara alami dibandingkan mereka yang menjaga berat badan dalam rentang ideal.
Mengetahui bahwa Anda masuk ke dalam salah satu tipe di atas bukan berarti Anda pasti akan mengalami komplikasi serius. Kuncinya adalah deteksi dini melalui pemeriksaan panggul rutin atau USG transvaginal setidaknya setahun sekali.
Selain itu, menerapkan pola makan rendah gula dan tinggi serat dapat membantu tubuh menyeimbangkan kembali kadar hormon yang menjadi pemicu utama kista ovarium.
Selanjutnya: Keluarga Korban Bencana Sumatera Akan Menerima Bantuan Rp 5 Juta dari Pemerintah
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News